Teka-teki Hilangnya 3 Siswa SMK Selama 9 Tahun saat Magang, Dijual Calo Berkedok Pembimbing


SURATKABAR.ID – Di tahun 2010 yang lalu, ada tiga orang siswa dari SMKN 1 Sanden, Bantul, Jogja, menghilang tanpa kabar apapun. Mereka adalah Agil Ramadhan Putra, Ignatius Leyola Adrinta Denny Murdani, dan Ginanjar Nugraha Atmaji yang pamit untuk berlayar PKL di Pelabuhan Benoa, Bali.

Hilangnya ketiga siswa ini diduga besar lantaran menjadi korban perdagangan manusia yang dilakukan oleh Mugiri. Ia merupakan calo yang berkedok sebagai pembimbing PKL.

Cerita hilangnya para siswa ini diceritakan oleh Riswanto Hadiyasa yang merupakan ayah Agiel Ramadhan Putra. Singkat cerita, Agiel masih duduk di bangku kelas 2 SMA  dan berangkat PKL. Dalam sosialisasi, Kepala Sekolah menyebutkan PKL diadakan di Pekalongan dan Tanjung Benoa, Bali dengan alasan di sana ada pelabuhan internasional. Dan mereka akan mendapatkan uang Rp4-8 juta.

Baca juga: Duh! Geger Video Guru Dikeroyok 2 Wali Murid dalam Kelas, Belasan Siswa Jadi Penonton

Dalam sosialisasi tersebut diperkenalkan pula namanya Mugiri yang belakangan diketahui adalah seorang calo tenaga kerja. Riswanto sendiri menerima kabar yang memberitahukan jika KM Jimmy Wijaya, tempat Agiel PKL, hilang kontak per Februari 2019, dan nama putranya terdaftar menjadi salah satu keryawan.

Guna mencari keberadaan putranya, Riswanto datang ke Bali dan mendapatkan bukti kontrak kerja. Dengan bukti tersebut ia kemudian lapor ke polisi dan mendatangi Kemenkumham dan meminta bantuan SBY sampai akhirnya disidangkan jika kepala dan guru divonis bebas.

Sementaara itu PT Sentral Benoa Utara menanggapi hilangnya 3 siswa tersebut saat KM Jimmy Jaya tenggelam di sekitaran Laut Arafuru tahun 2010.

Baca juga: Guru Ini Dikecam Karena Perintahkan Siswanya Pakai Kardus di Kepala

Ketut Widiarta, selaku Kepala Operasional PT Sentral Benoa menyebutkan kasus itu sudah selesai secara hukum. Widarta menyebutkan telah memberikan santunan uang Rp25 juta untuk ketiga anak, sesuai dengan perintah pengadilan. Mugiri juga dihukum 8 tahun penjara.

Widarta tak tahu menahu jika 3 ABK itu masih berstatus sebagai seorag pelajar. Lalu benarkah ke 3 siswa ini sudah meninggal?