Jastip Jadi Fenomena, Ketahui Sanksinya Jika Barang Bawaan Lebih dari Rp 7 Juta


SURATKABAR.ID – Saat ini, fenomena jastip tengah menjadi tren dan kian marak di kalangan traveler. Jastip (jasa titip beli barang) ini menjadi opsi baru bagi mereka yang ingin memperoleh barang dengan biaya lebih murah, atau yang ingin mendapat barang yang sulit dan jarang ditemukan di Indonesia.

Mengutip Kumparan.com, Senin (06/05/2019), hal ini membuka peluang baru bagi traveler Indonesia yang senang berbelanja. Mereka yang awalnya hanya ingin liburan dan memuaskan hasrat belanja sambil membeli barang unik dan menarik akhirnya menjadikan jastip sebagai salah satu ‘pekerjaan’ di sela liburan.

Fenomena ini terjadi lantaran jastip bisa menghasilkan keuntungan hingga belasan juta Rupiah. Salah satunya seperti dikisahkan oleh Rafel Adrian. Ia menjadikan jastip sebagai ladang pendapatannya. Dalam satu kali perjalanan, Rafel bisa mendapat keuntungan bersih hingga belasan juta dari peluang bisnis jastip.

“Iya, lumayan besar sih, saya sih gabung antara jastip sama PO (Pre Order), keuntungan bersihnya bisa mencapai Rp 12 juta. Kalau seperti teman saya yang jastip ke Amerika, bisa sampai Rp 18 juta,” bebernya saat dikontak melalui telepon baru-baru ini.

Besarnya keuntungan ini dijadikan Rafel untuk modal trip selanjutnya, termasuk juga modal jastip yang akan dipakai di negara berikutnya.

Baca juga: Penghasilannya Rp1,3 Miliar per Bulan dari Jualan Nasi, Kok Bisa?

Namun, alasan yang berbeda diungkapkan oleh Puti Sarah Fadhila. Wanita berhijab ini hanya menjadikan jastip sebagai ‘selingan’ saja dalam berlibur. Dalam sekali perjalanan, ia mengaku bisa mengantongi untung bersih sebesar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta.

“Dapat Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta buat sekali jalan, lumayan buat ganti uang tiket sama uang jajan. Biasanya juga dapat tiket promo, jadi murah juga, kan,” ungkap Puti.

Sama halnya dengan Rafel, ia mengaku keuntungan jastip yang besar bisa ‘membiayai’ rencana traveling selanjutnya yang sudah disiapkannya. Selain bisa meraup keuntungan besar, hal lain yang menjadikan jastip sering dilakoni para traveler ini biasanya karena mereka punya intensitas traveling yang tinggi.

View this post on Instagram

HANDCARRY from the US Price: IDR 98.000 . . ITALIA DELUXE Bronzer for Face and Body . . The Italia Deluxe Bronzer for Face and Body is a powder bronzer that will give you a perfect beach babe glow. Use on your fave to carve your cheekbones, or on your shoulders and chest to give yourself a beachy tan for the day! . . WA +1 224 999 5499 Barang sampai Indonesia pertengahan Juni, spot terbatas, siapa cepat dia dapat. . . #jualbronzer #jualbronzer #jualbronzermurah #jualbronzeritaliadeluxe #italiadeluxeindonesia #makeupreviewindonesia #makeupkekinian #jastip #jasatitip #jastipusa #jasatitipusa #jasatitipitaliadeluxe #jastipitaliadeluxe

A post shared by Gudfreal Indonesia (@gudfreal) on

Selain itu, alasan lain orang-orang membuka jastip tak lain karena suka berbelanja dan senang mencari barang-barang unik berharga murah.

“Saya sering eksplorasi gitu, terus misalnya ada teman yang lihat barang saya, pada suka dan akhirnya nitip beliin,” ucap Rafel.

Keuntungan-keuntungan inilah yang membuat jastip semakin digemari kalangan traveler. Bahkan tak sedikit juga yang menjadikan jastip sebagai pekerjaan mereka, misalnya saja dengan membuka akun di media sosial yang melayani jasa titip beli barang.

Dikenai Pajak Sekitar 25-27 Persen

Jasa titip (jastip) beli barang ini memang menjadi fenomenal karena pendapatannya bisa lebih besar dari ongkos pergi ke luar negeri yang dikeluarkan. Fenomena jastip ini kini tengah menjadi incaran pemerintah dalam rangka meningkatkan penerimaan negara melalui pajak barang-barang jastip.

Barang usaha jastip rata-rata dikenakan pajak sekitar 25-27 persen. Dilansir dari Republika.co.id, berikut adalah rincian lengkapnya.

Jenis pajak dan pungutan yang akan dikenakan terhadap barang jastip:
– Pajak Pertambahan Nilai (PPN): 10 persen
– Pajak Penghasilan (PPh): 10 persen
– Bea masuk: 7,5 persen

Media Informasi untuk Jastip:
– Media sosial: Instagram, Twitter, dan Facebook
– Aplikasi chatting: WhatsApp
Webstite jastip: bistip.com, neetip.com, dan titipbarang.com

Jenis barang yang kerap dipesan lewat jastip:
Pakaian, sepatu, kosmetik dan tas

Disita Jika Lebih dari Rp 7 Juta

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan menindak tegas bagi pelaku jasa titip atau jastip yang kedapatan membawa kuota barang bawaan senilai USD 500, atau setara dengan Rp 7 juta (kurs Rp 14.000).

Menukil Liputan6.com, selain diwajibkan membayar pajak, pihaknya juga akan menyita barang bawaannya itu.

“Bisa juga barang jadi milik negara, disita,” tukas Kepala Subdit Impor Direktorat Teknis Kepabeanan Djanurindro Wibowo, saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Jumat (26/04/2019).

Ia lantas memberi contoh seperti halnya yang terjadi pada pelaku jastip beberapa waktu lalu. Seorang pelaku jastip saat itu sempat ditemui kedapatan menyembunyikan puluhan handpone (HP) dari luar negeri di badannya. Sebagai tindakan, akhirnya pihaknya menyita seluruh HP tersebut.

Djanurindro mengimbuhkan, sanksi lain yang bakal diberikan kepada para Jastip yang terindikasi melakukan penyelundupan barang akan dikenakan tindakan secara hukum.

Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan, maka sanksinya ialah kurungan badan.

“Pelaku Jastip yang seperti itu mesti ditegakkan, UU Nomor 17 Tahun 2006 pasal 102 103 itu dijelasin sengaja menyembunyikan barang bisa dipidanakan,” tegasnya kemudian.

Pada dasarnya,DJBC sendiri mendukung kegiatan jastip ini. Asalkan, para pelaku menaati peraturan yang ditetapkan.

“Jadi enggak masalah (jastip) asal jangan tax avoidance, nggak menghindari pajak dan bertanggung jawab,” tandasnya kemudian.