Soal Pemindahan Ibu Kota, Fadli Zon Anggap Hanya Pengalihan Isu


SURATKABAR.ID – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) memindahkan ibu kota Indonesia ke luar Jawa hanya sebagai pengalihan isu. Menurutnya pemindahan ibu kota tak akan terjadi dalam waktu dekat.

“Wacana itu (pemindahan ibu kota) isapan jempol belaka. Pengalihan isu dan tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini. Ini hanya panas-panas tahi ayam aja,” ujar Fadli ditemui di acara Hari Buruh Internasional yang digelar di Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (1/5), dikutip dari Jawapos.com.

Oleh karena itu, ia mengaku malas memberikan tanggapan lebih lanjut berbagai pertanyaan dari awak media mengenai kebijakan Jokowi yang ingin memindahkan ibu kota ke luar Jawa tersebut. Ia bahkan melayangkan tudingan bahwa keputusan pemerintah tersebut tak dipikirkan matang-matang.

“Enggak usah dibicarakan, karena itu hanya isapan jempol. Dulu kan begitu, ngomong (pindah ibu kota), lalu ilang begitu aja,” pungkas Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia tersebut.

Baca Juga: Rizal Ramli: Rakyat Tidak Perlu Ibu Kota Baru, Tapi Butuh Presiden Baru

Secara terpisah, Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli juga ogah menanggapi rencana Jokowi yang ingin memindahkan ibu kota. Ia hanya mengatakan bahwa ada hal yang lebih dibutuhkan rakyat. “Rakyat itu bukan perlu ibu kota baru, tapi perlu presiden baru,” ujarnya.

Ditemui terpisah, Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, Ahmad Rofiq, mengungkapkan bahwa rencana pemindahan ibu kota tersebut merupakan keputusan yang sangat strategis dan bertujuan untuk mendorong tata kelola negara dengan cepat dan bersih.

Hanya saja ia mengakui, hal tersebut memang membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun demikian, ia meyakini pertumbuhan bisnis akan melaju lebih cepat dengan ibu kota abru. “Kebijakan Presiden Joko Widodo memindahkan ibu kota adalah rencana yang genuine dan strategis,” ujarnya, Rabu (1/5).

Ia pun menyebutkan contoh negara yang menurut catatan sejarah juga pernah memisahkan ibu kotanya dengan pusat bisnis, yakni Amerika Serikat (AS). Negara adidaya tersebut beribu kota di Washington DC, sementara pusat kegiatan bisnisnya ada di Kota New York.

“Pemisahan ini akan menciptakan iklim bisnis sehat, jauh dari kongkalikong, jauh dari budaya suap dan jauh dari persekongkolan. Tata kelola negara yang lebih cepat negarah kepada clear government dan good governance,” jelasnya.

Sementara itu Juru Bicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Arya Sinulingga, meminta kepada Fadli Zon untuk kembali membaca sejarah tentang wacana pemindahan ibu kota. Ia mengatakan, wacana tersebut sejatinya pernah dibahas oleh hampir seluruh presiden yang memimpin Indonesia.

“Baik Soekarno, Pak Harto, Pak SBY juga ada kajian mengenai pemindahan ibu kota dan sangat wajar. Seharusnya Fadli sebagai wakil ketua DPR paham. Tolong dong, jangan berpikrian negatif untuk pemindahan ibu kota,” pungkas Arya.

Diketahui, dalam rapat terbatas di Kantor Presiden pada Senin (29/4) lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan memindahkan ibu kota ke luar Jawa. Adapun keputusan tersebut diambil usai mempertimbangkan kondisi Jakarta yang dinilai semakin jauh dari kata ideal sebagai kota masa depan.

Selain faktor kemacetan. daya dukung lingkungan di Jakarta juga terbilang rendah. Mulai dari masalah banjir yang hampir setiap tahun melanda, tingginya tingkat polusi air dan udara, hingga penurunan permukaan tanah menjadi pertimbangan Jokowi.