Antara Kegalauan R.A. Kartini dan Kitab Tafsir Al-Qur’an Perdana di Tanah Jawa


SURATKABAR.ID – Setiap 21 April Hari Kartini diperingati. Di tanggal ini, semua orang berlomba-lomba tampil dalam balutan baju tradisional dan sanggul untuk memperingati jasa-jasa pahlawan perempuan asal Jepara ini. Sayangnya tak banyak yang tahu kaitan R.A. Kartini dengan agama Islam.

R.A. Kartini, melansir dari laman Liputan6.com pada Minggu (21/4/2019), sempat dilanda kegalauan terkait pengajaran Islam yang ia peluk. Pasalnya, kitab suci umat Muslim yang beradar kala itu tidak diterjemahkan. Akibatnya tak semua bisa paham isi ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

Hal ini tentu saja membuat Kartini yang memang penasaran tentang makna ayat Al-Qur’an merasa gelisah. Kerisauannya semakin besar karena para tokoh agama Islam di zaman itu melarang kaum Muslim berdiskusi soal agama dengan non-muslim.

Stella Zeehandelaar yang merupakan sahabat penanya menjadi tempat Kartini menuangkan isi hati soal kebingungannya. Curhatan tersebut salah satunya tertulis dalam surat tertanggal 6 November 1899 yang dikutip dari buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Baca Juga: Kisah Soesalit Djojoadhiningrat, Anak Semata Wayang R.A. Kartini yang ‘Terlupakan’

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghapal bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Aku pikir, tidak jadi orang saleh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?” tulis Kartini di suratnya.

Rasa gelisah dalam diri Kartini soal keputusan ulama yang melarang diterjemahkan Al-Qur’an berlanjut hingga beberapa tahun ke depan. Ia kemudian melayangkan surat teruntuk istri Direktur Pendidikan Agama dan Industri Hindia Belanda Nyonya Abendanon.

Melalui surat yang ditulis pada 15 Agustus 1902, Kartini mengungkapkan dirinya tak lagi mau belajar tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Menurutnya, seseorang harus tahu dulu apa yang mereka pelajari untuk bisa memahaminya.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghapal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya,

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya,” tulisnya dalam surat tersebut.

Pertemuan Kartini dengan Kiai Sholeh Darat

Rasa penasaran sang Kartini akhirnya terjawab ketika bertemu seorang ulama dari Darat, Semarang, Jawa Tengah, Kiai Sholeh Darat. Keduanya dipertemukan dalam sebuah acara pengajian yang digelar di kediaman Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang notabene merupakan paman Kartini.

Kiai Sholeh, pada waktu itu, tengah memberikan pengajaran tentang tafsir surat pembuka dalam Al-Qur’an, Surat Al Fatihah. Hal ini merupakan sesuatu yang sebelumnya tak pernah ditemui atau didengarkan oleh Kartini.

Adapun tentang pertemuan Kartini dan sang ulama dibagikan oleh cucu Kiai Sholeh, Fadhola Sholeh. Fadhila mengungkapkan hal tersebut melalui tulisan yang berbentuk selebaran yang bisa didapatkan di makam Kiai Sholeh di Semarang.

“Kartini memang tak pernah tahu apa arti dan makna dari surat Al Fatihah meski ia sering membacanya. Kartini benar-benar terpukau dan tersedot perhatiannya,” begitu Fadhila menggambarkan bagaimana Kartini begitu puas mendengarkan apa yang ingin ia dengar.

Begitu pengajian selesai, Kartini bergegas menemui sang paman. Kepada pamannya ia menyampaikan keinginannya untuk bisa berguru kepada Kiai Sholeh. Perempuan kelahiran Rembang 21 April 1879 ini bahkan mendesak pamannya agar bersedia menemani dirinya bertemu sang ulama.

Usahanya membuahkan hasil. Pamannya ternyata terenyuh melihat sang keponakan yang penuh semangat ingin belajar lebih banyak tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Paman Kartini kemudian mengantarkan keponakannya bertemu Kiai Sholeh.

“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?” tutur Kartini di hadapan Kiai Sholeh Darat setelah terlebih dahulu berbasa-basi seperti lazimnya dilakukan orang Jawa.

“Mengapa Raden Ajeng mempertanyakan hal ini? Kenapa bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.

“Kiai, selama hidupku baru kali ini saya berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al-Qur’an. isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” jawab Kartini.

Sang pahlawan wanita tersebut lalu menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah STW karena telah memberikan kesempatan kepada dirinya untuk memahami surat Al Fatihah. Sang kiai hanya bisa tertegun. Ia bahkan tak kuasa menyela.

“Namun saya heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Bukankah A;-Qur;an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” ungkap Kartini penuh rasa penasaran.

Dialog kemudian berhenti. Kiai Sholeh yang tak bisa berkata-kata hanya berucap, “Subhanallah.”

Rupanya Kartini telah membangkitkan kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan sebuah tugas besar, yakni menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa.

Kado Pernikahan Tak Ternilai

Usai pertemuan tersebut, Kiai Sholeh pun menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Terjemahan dari 14 juz diberikan sang kiai kepada Kartini sebagai hadiah pernikahan. Disebutkan Kartini, terjemahan itu merupakan kado yang tak pernah mungkin digantikan oleh apa pun.

Kiai Sholeh menerjemahkan mulai dari surat Al Fatihah hingga Surat Ibrahim. Hampir di setiap waktu luangnya, Kartini mempelajari terjemahan tersebut secara serius. Namun sayang, Kartini tak pernah menerima terjemahan ayat-ayat selanjutnya, lantaran Kiai Sholeh tutup usia sebelum berkesempatan menyelesaikan tugas menerjemahkan surat-surat lain.

Cerita Fadhila mengenai pertemuan Kartini dengan Kiai Sholeh didukung oleh cicit Kiai Sholeh, Lukman Hakim Saktiawan. Pria yang akrab disapa Gus Lukman tersebut mengungkapkan bahwa Kartini adalah santriwati Kiai Sholeh.

Tafsir surat Al Fatihah sang kiai kemudian dibukukan menjadi kitab dengan judul Faid Ar Rahman. Ini merupakan kitab tafsir Al-Qur-an pertama di Indonesia yang ditulis dalam Bahasa Jawa menggunakan aksara Arab.

“Besar kemungkinan, Kartini menemukan susunan kata legendaris tersebut dalam pengajian Faid Ar-Rahman bersama Kiai Sholeh. Sebab kata-kata itu jelas diambil dari Al-Qur’an, minazzulumati ilan nur (dari kegelapan menuju cahaya) (QS Ibrahim [14]: 1),” jelas Gus Lukman.