Dapat Dukungan dari Komunitas LGBT, Kubu Prabowo-Sandiaga Tanggapi Begini


SURATKABAR.ID – Badan Pemenangan Daerah (BPD) 02 Jawa Barat buka suara menanggapi dukungan yang datang dari Komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) Rainbow untuk pasangan Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

BPD memilih untuk berprasangka baik atas dukungan tersebut. Pasalnya, komunitas LBGT juga memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat. Dan apabila pasangan calon nomor urut 02 menjadi pilihan mereka, pihak BPD tentu akan menyambut dengan tangan terbuka.

Juru Bicara BPD 02 Jawa Barat Radhar Tribaskoro, seperti dihimpun dari laman JPNN.com pada Sabtu (6/4/2019), menegaskan pihaknya mendukung penuh hak asasi manusia (HAM) yang berlaku pada seluruh warga yang memiliki hak pilih.

 “Mereka memiliki hak memilih dan dipilih juga. Bila mereka memberikan pilihannya kepada Prabowo-Sandi, tentu kami menyambutnya dengan tangan terbuka,” ujar Radhar ketika dimintai konfirmasi, pada Jumat (5/4) kemarin.

Saat disinggung mengenai kemungkinan adanya kampanye hitam dalam deklarasi tersebut, lantaran deklarasi yang dilakukan jelang hari pencoblosan, Radhar menanggapi dengan enteng dan dengan tegas menyatakan bahwa pihaknya tidak akan berprasangka buruk terhadap mereka.

Baca Juga: Waduh! Pandji Pragiwaksono Blak-Blakan Bilang “Tak Ada Alasan Milih Prabowo”, “Males Pilih Jokowi”. Ini Alasannya

“Kalau mereka ingin menjebak kami agar terjadi pertentangan di dalam internal pendukung Prabowo-Sandi, tidak semudah itu. Kami tidak mudah diadu domba oleh hal-hal yang bersifat sepele,” tandas Radhar tegas.

Pengakuan Komunitas Rainbow

Dilansir dari Sindonews.com, deklarasi dukungan sejumlah kaum minoritas LGBT yang tergabung dalam Komunitas Rainbow Bandung kepada pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pemilihan Presiden 2019 digelar di Hotel Zest, Jalan Sukajadi, Kota Bandung, Kamis (4/4) lalu.

Koordinator Komunitas Rainbow Bandung Keukeu mengungkapkan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk hidup, berserikat, dan berkumpul, serta melaksanakan aktivitas. Semua itu seperti yang sudah dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945.

“Namun, isi dan kandungan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut seakan tidak berlaku bagi kami yang mempunyai tujuan dan cita-cita untuk mewujudkan kesamaan dan kesetaraan, termasuk keadilan untuk memperjuangkan hak asasi kami sebagai manusia yang merupakan kodrat dari Sang Pencipta,” ujar Keukeu usai deklarasi.

Lebih lanjut ia mengatakan, menurut penelitian, sekitar 89,3 persen tindak kekerasan sering menyasar kaum minoritas LGBT. Sebanyak 79,1 persen berupa kekerasan psikis, 46,3 persen kekerasan fisik, 26,3 persen kekerasan ekonomi, 45,1 persen kekerasanseksual, dan 63 persen kekerasan budaya.

“Hingga kini, kekerasan pun masih terjadi kepada kami sebagai kaum yang selalu memperjuangkan kesamaan, keadilan, dan hak asasi manusia yang ingin merdeka,” tegas Keukeu yang mengklaim komunitasnya memiliki ratusan anggota di Kota Bandung dan sekitarnya tersebut.

Menurutnya, meski era selalu berganti dari masa ke masa, akan tetapi diskriminasi tetap terjadi dan tak pernah berhenti. Artinya, ungkap Keukeu, hingga kini belum ada rezim pemerintahan yang menaruh perhatian serius terhadap kalangan minoritas ini. Termasuk pemerintahan Jokowi sekarang.

“17 April 2019 merupakan momentum tepat bagi kami untuk menentukan langkah kami melalui pergantian rezim yang berpihak pada perjuangan keadilan dan tanpa diskriminasi terhadap kami serta mendukung atas keberlangsungan hidup kami di Indonesia sebagai manusia merdeka,” ungkapnya.