Tega! Sales Tak Capai Target Dihukum Makan Terasi


SURATKABAR.ID – Sebentuk hukuman bermuatan persekusi diduga telah diterapkan oleh supervisor dan trainer terhadap sales smartphone merek Oppo yang bernaung di bawah PT World Innovate Telecomunication (WIT). Dengan tega, hukuman yang diberikan punb beragam, mulai dari lari belasan kilometer, makan pare mentah, belimbing wuluh, jeruk nipis, cabai, bawang putih, hingga mengunyah terasi serta garam. Semua hukuman tak manusiawi tersebut diberlakukan kepada seluruh bagian pemasaran (sales) jika ternyata tidak memenuhi target.

Mengutip laporan RadarBojonegoro.JawaPos.com, Jumat (01/03/2019), hukuman itu diterapkan hampir setiap hari.Persekusi yang diduga dilakukan  supervisor dan trainer Oppo terhadap puluhan sales di wilayah Tuban dan sekitarnya itu rupanya sudah berlangsung cukup lama. Yakni sejak dua setengah tahun terakhir.

Dan kemarin, Selasa (26/02/2019), kasus ini terungkap setelah Gemilang Indra Yuliarti, salah satu korban hukuman tak manusiawi itu melapor ke Unit IV Satreskrim Polres Tuban. Sementara itu, puluhan sales lainnya memilih tutup mulut dan tak lapor ke polisi lantaran takut.

Diketahui, sejak Oktober 2016 Gemilang bergabung dengan tim pemasaran Oppo. Adapun ketentuan saat itu, sales yang tak memenuhi target penjualan mendapat hukuman squat jump, push up, dan hukuman lain yang masih dinilai wajar.

Namun dua bulan berjalan, supervisor yang mulai dijabat Wahyu Widodo mulai menerapkan hukuman tak masuk akal.

Baca juga: Mertua Sering Masuk Kamarnya, Ini yang Kemudian Terjadi

“Saat itu yang tidak memenuhi target dihukum lari belasan kilometer, mulai Jalan Basuki Rachmad ujung timur hingga depan RSNU,” tukas Gemilang.

Ternyata, hukuman itu menjadi awal dari mimpi buruk para sales Oppo. Pasalnya, sejak saat itu, hukuman tak wajar lainnya kerap diterapkan. Termasuk di bawah kepemimpinan Dwi Prawoto Hadi, yang merupakan supervisor baru.

Selain hukuman fisik, sejumlah sales diminta makan makanan tak lumrah. Antara lain seperti belimbing wuluh, jeruk nipis, pare mentah, cabai, bawang putih, garam, hingga terasi. Jika supervisor tak berada di Tuban, hukuman itu harus direkam format video dengan ponsel dan dilaporkan melalui grup media sosial yang berisi seluruh anggota tim.

Hukuman terkait nyaris diberikan setiap hari. Gemilang mengatakan, jika diakumulasi, rata-rata tiap minggu ada 4 hingga 5 kali hukuman tak masuk akal yang diberikan. Tak ada satu pun dari mereka yang berani memberontak, meski beberapa sales harus keracunan hingga sakit setelah mengonsumsi makanan tak lazim tersebut.

“Tidak ada yang berani protes karena semua takut kehilangan pekerjaan yang mereka gantungkan untuk keluarga,” beber wanita berambut panjang ini kepada tim pers Jawa Pos Radar Tuban.

Denda Puluhan Hingga Ratusan Ribu

Di samping hukuman tak manusiawi itu, terkadang supervisor dan jajaran pimpinan area tersebut memberlakukan denda mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu. Seluruhnya dikumpulkan para supervisor dengan alasan untuk uang kas. Namun, hingga kini pertanggungjawaban uang yang dimaksud malah tidak jelas.

“Yang saya laporkan hukuman tidak manusiawi ini sama pengelolaan uang kas hasil denda yang tidak jelas untuk apa,” tandas Gemilang usai melapor ke polisi.

Gemilang melaporkan kasus ini untuk mencari keadilan. Dia mewakili sejumlah temannya yang juga korban berharap bisa memutus rantai hukuman yang tak lazim tersebut. Dugaan sementara, hukuman yang diberikan merupakan inisiatif supervisor dan bukan merupakan standar operating procedure (SOP) dari perusahaan pusat.

“Kami hanya bekerja untuk mencari makan buat keluarga,” sebutnya kemudian.

Sementara itu, Kaurbinops Satreskrim Polres Tuban Iptu Dean Tomy Rimbawan menyebutkan, laporan berkenaan dugaan perpeloncoan di dunia kerja ini sudah diterima. Barang buktinya yakni sejumlah screenshoot percakapan di grup antara supervisor dengan para staf pemasaran dan sejumlah rekaman video hukuman tak lazim tersebut.

“Laporan baru masuk dan akan kami proses,” tegasnya memberikan keterangan.