Tuding Presiden Tunda Usut Mafia Petral, Sudirman Said Blak-Blakan Sebut Jokowi Takut Menteri


SURATKABAR.ID – Mantan Menteri ESDM Sudirman Said buka-bukaan mengungkap bahwa dulu Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah memintanya untuk tak melaporkan keganjilan PT Pertamina Trading Limited (Petral) ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Awalnya, seperti dihimpun dari CNNIndonesia.com, Minggu (17/2/2019), Sudirman Said menceritakan dua dugaan kasus yang ia ketahui selama menjabat sebagai Menteri ESDM. Adapun kasus pertama adalah ‘papa minta saham’.

Dalam kasus pertama tersebut, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto meminta bagian dari perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia (PTFI). Sementara kasus kedua adalah hasil audit atas Petral yang dinilai menyimpan keanehan.

“Pada hari saya mau melaporkan Setya Novanto ke MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan), saya pegang dua kasus besar. Satu hasil audit Petral dan ‘papa minta saham’,” jelas Sudirman ditemui di Media Center Prabowo-Sandi, Jakarta, pada Sabtu (16/2) kemarin.

Ia menyebutkan pada waktu itu menerima pesan dari Jokowi yang disampaikan oleh seseorang. Di dalam pesannya terdapat perintah untuk menunda laporan Petral ke KPK. “Malam itu saya dapat pesan Presiden lewat seseorang, laporan Petral ke KPK ditunda dulu. Ditunda,” ujarnya.

Baca Juga: Menghilang di ‘Papa Minta Saham’, Riza Chalid Mendadak Muncul di NasDem

Seperti yang diketahui, pada 2015 lalu Jokowi sendiri telah membubarkan Petral dan kemudian menggantinya menjadi Integrated Supply Chain (ISC). Adapun alasan dibubarkannya Petral adalah karena disinyalir digunakan sebagai sarang mafia.

Ketika itu, Sudirman mengungkapkan bahwa negara akhirnya sanggup menghemat begitu banyak uang setelah dibubarkannya Petral. Ia menyebutkan bahwa transaksi impor minyak menjadi hemat sebesar Rp 250 M setiap harinya.

Lebih lanjut, Sudirman mengungkapkan soal hasil audit terhadap Petral sudah rampung. Sejumlah kejanggalan pun makin terlihat dengan jelas. Akan tetapi ia mengatakan saat itu kasus justru tak segera ditindaklanjuti lantaran ditahan oleh Jokowi melalui perantara.

“Saya tidak tahu sampai di mana. Audit sudah selesai, sudah jelas hasilnya. Tinggal follow up, ketika mau melapor malam itu dihentikan untuk tidak diteruskan. Jadi kalau dikatakan menterinya takut, guyonan saya, ‘Enggak kebalik, Bro?’,” celetuk Sudirman.

Ia membeberkan bahwa kala itu ia pernah mengikuti rapat dengan Jokowi bersama sejumlah menteri guna membahas temuan dari audit terhadap Petral. Namun ia tak bersedia memberikan informasi terperinci mengenai menteri-menteri yang dimaksudnya.

Ketika itu, jelas Sudirman, beberapa menteri mengingatkan Jokowi untuk tak terlalu keras dalam mengusut keganjilan Petral. Sudirman mengklaim justru dirinyalah yang mendorong Jokowi untuk segera menuntaskan kasus melalui jalur hukum.

“Beberapa menteri yang hadir memang cenderung memberi warning pada Pak Presiden. Jangan terlalu keras, nanti memukul balik dan mungkin presiden mendengarkan itu. Saya enggak tahu,” ujar Sudirman. “Jadi yang agak cemas atasan saya karena ditakut-takuti beberapa menteri,” imbuhnya.

Sudirman menjelaskan bahwa hasil audit atas Petral memang tak diketemukan bukti dugaan kerugian yang dialami begara. Namun demikian, ia menegaskan, bukan berarti sama sekali tidak ada kejanggalan. Ia menyampaikan ada satu perusahaan yang memenangkan tender berulang-ulang.

Menurutnya, perusahaan tersebut memiliki koneksi yang terjalin dengan begitu mulus dengan sejumlah pihak tertentu. Ia menilai, pihak penyidik KPK tentu seharusnya bisa sangat mudah mengendus semua itu. Hanya saja, sangat disayangkan kasus tak berhasil diungkap.

“Nilainya saya lupa. Luar biasa fantastis, lah,” tandas Sudirman Said. “Tapi sayangnya itu tidak berlanjut,” sambungnya.

Janji Prabowo-Sandiaga Akan Tuntaskan Mafia Petral

Kini menjadi Direktur Materi Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Snadiaga Uno, Sudirman Said otomatis menjadi rival Joko Widodo yang dalam pemilihan kali ini kembali maju mencalonkan diri sebagai capres petahana.

Sudirman kemudian menegaskan bahwa pasangan capres-cawapres nomor urut 02 akan mendorong pengusutan terhadap kasus Petral jika menang dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Menurutnya, hal itu sangat penting. Pasalnya keganjilan sudah mengendap begitu lama mengiringi perjalanan Petral.

“Kalau kami memerintah, kami akan teruskan apa itu Petral, supaya publik belajar dan Pertamina belajar,” janjinya.

Ia menilai, sangat disayangkan jika hasil audit dan juga investasi tak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Apalagi mengingat audit terhadap Petral tidak dilakukan oleh sembarang konsultan dan auditor. Ia menyebut audit dilakukan oleh konsultan dan auditor profesional yang dibayar sangat tinggi.

Sudirman menyebutkan bahwa di dunia hanya ada 3 atau 4 perusahaan yang sanggup mengaudit Petral dengan sangat sempurna. Dan perusahaan tersebut berhasil mendeteksi pihak-pihak yang menjalin koneksi khusus dengan Petral.

“Saya kebetulan masih pegang kopinya kan, soft copy untuk dokumen pribadi saya. Untuk jaga-jaga,” pungkasnya tegas.