Ini Kata Psikolog Soal Tahapan dan Fase Tersulit Dalam Pernikahan


SURATKABAR.ID – Tuntutan cerai yang dilayangkan penyanyi Gisella Anastasia terhadap suamianya, Gading Marten menimbulkan efek shock bagi netizen dan penggemarnya. Belajar dari kasus Gisel-Gading, menjalani kehidupan pernikahan tentu tak mudah karena perjalanannya belum tentu selalu mulus.

Berbeda individu, beda pula yang diharapkannya setelah menikah. Namun pada umumnya, semua orang ingin membangun rumah tangga dan keluarga baru dengan tentram sentosa dan berbahagia. Pada saat memutuskan untuk menikah, semua orang mengharapkan “happily ever after” alias “bahagia selamanya”, seperti yang biasanya diagul-agulkan dalam tiap film dan buku cerita.

Namun, mengutip Tempo.co, Senin (26/11/2018), pasangan seringkali lupa mengenai tahap-tahap dalam pernikahan yang tak selalu berjalan mulus. Rena Masri, psikolog dari Q Consulting, menyebutkan jika tahap perkembangan dalam pernikahan telah dijelaskan oleh seorang psikoterapis dan juga pelatih dan pendidik hubungan dan perkawinan, Dawn J. Lipthrott.

Tahap pertama adalah yang masih romantis.

“Pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu,” ungkap Rena Masri.

Baca juga: Sering Pamer Foto Mesra di Medsos? Pakar: Itu Pertanda Pasangan Tak Bahagia

Selanjutnya akan ada tahap stres dan kecewa. Rena menjelaskan, pada tahap ini pasangan mulai saling menyalahkan. Mereka akan lebih sering merasa marah dan kecewa pada pasangannya.

Biasanya, tahap ini membuat banyak pasangan memilih berpisah. Padahal, masih ada tahap-tahap selanjutnya dalam pernikahan.

Setelah banyak perasaan stres dan kecewa, ada tahap yang sudah semakin membaik. Pasangan biasanya sudah memahami bagaimana posisi dirinya dan pasangan dalam pernikahan, pekerjaan, dan mengurus anak. Mereka sudah lebih mengenal satu sama lain.

Sehingga berikutnya, pasangan akan mencapai tahap transformasi.

“Pasangan yang sudah mencapai tahap ini biasanya sudah saling memahami dan menerima perbedaan yang ada dan dapat menunjukkan sikap empati dan penghargaan terhadap pasangan masing-masing,” tutur Rena.

Sedangkan tahap terakhir dalam pernikahan adalah real love atau cinta sejati.

Pada tahap ini pernikahan akan kembali dipenuhi oleh kemesraan, keintiman, dan kebahagiaan. Untuk mencapai tahap ini tentu saja dibutuhkan usaha dari masing-masing pasangan.

Fase Tersulit dalam Pernikahan

Pernikahan merupakan fase kehidupan baru yang juga akan memiliki berbagai tantangan tersendiri. Pernikahan membutuhkan perjuangan dari kedua belah pihak untuk mempertahankannya.

Dijelaskan oleh Psikolog Kasandra Putranto, ada tahun yang menjadi fase tersulit dalam pernikahan.

“Pada kebanyakan orang, lima tahun pertama dianggap sebagai fase tersulit dalam pernikahan karena pasangan biasanya masih dalam proses penyesuaian untuk saling terbuka, menerima kondisi sebenar-benarnya pasangan, dan menjaga ekspektasi agar sesuai dengan realita,” ucap Kasandra Putranto, Kamis (22/11/2018), menukil Tempo.co.

Namun semua pasangan itu unik sehingga mempunyai fase tersulit yang berbeda. Hal tersebut juga tergantung berapa lama pasangan sudah mengenal satu sama lain sebelumnya, atau hubungannya sebelum menikah.

“Fase ini tidak selalu sama pada setiap pasangan, bergantung pada tingkat kedewasaan masing-masing pasangan saat melakukan penyesuaian dan penerimaan,” imbuh Kasandra.

Penyesuaian dan penerimaan ini sangat penting untuk mempertahankan pernikahan. Jika tak berhasil menyesuaikan diri dan menerima situasi dan perubahan dalam pernikahan, hubungan pernikahan bisa jadi rentan, atau bahkan kemudian retak.

Itulah sebabnya fase tersulit dalam pernikahan semuanya tergantung pada pasangan yang bersangkutan. Hal itu juga tergantung dari bagaimana mereka menghadapi tantangan dan perubahan yang ada di dalam biduk rumah tangganya.