4 Tahun Revolusi Mental, Kominfo Blokir 854 Ribu Situs Esek-Esek


SURATKABAR.ID – Revolusi Mental menjadi jargon Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak kampanye Pilpres 2014 silam.

Menurut Jokowi, Revolusi Mental ini menegaskan soal karakter bangsa Indonesia yang santun, berbudi pekerti, ramah, dan bergotong royong.

Salah satu usaha yang dilakukan pemerintahan Jokowi dalam mewujudkan jargon tersebut adalah dengan memblokir situs-situs yang dapat memberikan dampak negatif pada masyarakat.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) diketahui telah memblokir 912.659 situs negatif. Lebih dari 854 ribu diantaranya mengandung konten asusila.

“Terkait dengan penapisan kami berhasil menapis sebanyak 912.659 website dan kerja sama dengan platform berhasil menyembunyikan yang namanya konten-konten pornografi,” terang Direktur Jenderal Aptika Kominfo, Semuel Abrijani, di Jakarta, Kamis (25/10/2018), seperti dilansir dari cnnindonesia.com.

Baca juga: PGI Memprotes Pasal 69-70 RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan

Selain konten esek-esek, situs dengan konten perjudian, penipuan, SARA , terorisme atau radikalisme, hingga hak kekayaan intelektual juga diblokir oleh pemerintah.

Rinciannya adalah 51.496 situs perjudian, 4.941 situs penipuan, 676 hak kekayaan intelektual, 453 situs terorisme, serta 186 SARA. Selain itu, masih banyak konten negatif lainnya yang dianggap dapat memperngaruhi masyarakat.

Selain pemblokiran situs berisi konten negatif, Ditjen Aptika menyebut, pihaknya juga mengawasi konten negatif di media sosial seperti Facebook, Twitter, Telegram, Google, dan Youtube.

Mengenai konten negatif di media sosial, Kominfo mendapatkan data mengejutkan. Sebab, konten negatif di Facebook dan Instagram melonjak drastis. Tahun sebelumnya hanya 2.232 konten negatif, kini mencapai 6.123 konten negatif.

“Mesin kami tetap bekerja melakukan pemblokiran media sosial. Ada peningkatan di Facebook dan Instagram 6.123 konten,” katanya.

Sedangkan di Twitter, penyebaran konten negatif mengalami penurunan yang signifikan. Tahun lalu di Twitter terjaring 524.741 konten negatif. Sementara tahun ini hanya 3.521 konten.

Selain media sosial, Semuel mengungkapkan, tahun ini konten negatif juga disebar melalui situs file sharing. Padahal, tahun sebelumnya Kominfo tidak mendeteksi adanya persebaran konten negatif di ranah tersebut.

“File sharing ada 517, Telegram ada 502, online ada 18, YouTube ada 1.530, BBM ada 5, dan Twitter ada 3.521,” tukasnya.