Kisah Wanita Terseret Ombak Bersama Anak dan Tertimpa Tembok Bangunan Selama 4 Jam Setelah Gempa Palu

SURATKABAR.IDJumat (28/9/2018) sore tengah dihelat Festival Palunomoni di Pantai Talise, Palu. Tapi keceriaan tersebut berubah menjadi jerit tangis ketika gempa mengguncang jelang maghrib.

Dwi Rahayu, seorang wanita yang berdagang minuman ringan di pantai tersebut turut menjadi korban keganasan gempa dan tsunami yang menerjang Palu.

“Waktu ada gelombang pertama (tsunami), saya belum sempat lari,” terang Dwi di RS Bhayangkara Palu, dikutip JawaPos, Sabtu (29/9/2018) malam.

Sang suami dan anak keduanya sebenarnya sudah mengajaknya lari. Namun, Dwi masih sibuk dengan dagangannya.

Dia baru sadar bahaya mengancam ketika tembok pembatas pantai ambruk tepat di belakang lapaknya. Disusul gemuruh ombak tsunami kedua yang menggulung tubuhnya bersama Muhammad Fadel, anak pertamanya.

Baca juga: Sebelum Hilang Kontak, Pasha Ungu Sempat Update Status di Instagram

Gelombang kedua tersebut menyeretnya hingga beberapa meter dari tempat ia berdagang. Sebelum akhirnya Dwi tersangkut di sebuah tembok bangunan.

Nahasnya, tembok bangunan tersebut ikut ambrol karena tidak kuat menahan gelombang dan menimpa kedua kakinya.

“Saya tidak bisa bergerak sama sekali,” ujarnya sambil mengeluh kesakitan.

Air yang mengalir deras juga membawa atap asbes menutupi tubuhnya. Sehingga banyak warga yang tidak mengetahui dirinya.

“Saya sudah minta tolong berkali-kali, tapi tidak ada yang bantu,” ungkapnya.

Dwi pun hanya bisa pasrah sebelum warga menolongnya empat jam kemudian. Akibat kejadian itu, kedua kaki Dwi patah.

Meski terus meraung kesakitan, Dwi bersyukur semua keluarganya selamat. Termasuk Fadel, sang putra yang sebelumnya sempat hilang hingga pagi. Suaminya sudah sempat mencarinya sejak malam setelah tsunami.

Kekhawatiran Dwi bersama sang suami itu akhirnya sirna ketika petugas memberitahukan bahwa Fadel selamat. Ternyata sudah dirawat di RS yang sama sejak malam harinya.

“Ternyata dirawat di sebelah pojok,” ujarnya.