Catatan Kelam G30S/PKI, Ini Satu-Satunya Jenderal yang Berhasil Lolos dari Penculikan Lantaran Soekarno Turun Tangan


SURATKABAR.ID – Tak pernah terhapus dari ingatan betapa kelamnya kisah penculikan para jenderal di malam 30 September 1965 silam. Gerakan yang dikenal dengan sebutan G30S/PKI ini menyasar para Jenderal TNI yang selanjutnya digiring ke Lubang Buaya.

Dari sekian catatan pilu yang menuturkan peristiwa berdarah tersebut, ada satu fakta yang sayangnya tak banyak diketahui publik. Itu adalah kisah selamatnya satu-satunya jenderal dari sergapan PKI. Jenderal tersebut adalah Brigjen Ahmad Sukendro.

Nama Ahmad Sukendro memang terdengar asing bagi sebagian orang ini. Dan seperti dilansir dari laman Tribunnews.com pada Kamis (6/9/2018), Ahmad Soekendro berhasil selamat dari maut karena pada kenyataannya PKI tak sampai menjemput dirinya.

Sejatinya, dalam pertemuan terakhir operasi penculikan Dewan Jenderal yang digelar di kediaman Sjam Kamaruzzaman, di Salemba Tengah, pada hari H, yakni 30 September 1965, telah dipastikan nama delapan jenderal yang akan mereka jemput.

Mereka adalah Jenderal AH Nasution, Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayjend Soewondo Parman, Mayjend R. Soeprapto, Majyen Mas Tirtodarmo Harjono, Brigjen Donald Izacus Pandjaitan, Brigjen Soetojo Siswomihardjo, dan Brigjen Ahmad Soekendro.

Baca Juga: Terungkap! PKI Telah Lakukan Gladi Resik Sebelum Meletusnya G30S/PKI

Lantas siapakah Brigjen Ahmad Soekendro dan bagaimana caranya ia berhasil lolos dari aksi penculikan tersebut?

Ahmad Soekendro dilahirkan di Banyumas pada tahun 1923. Tak berbeda dengan anak-anak seusianya, di zaman Jepang ia memutuskan bergabung dengan PETA. Dan ketika revolusi terjadi, ia menjadi anggota Divisi Siliwangi.

Nasution yang ‘menemukan’ Soekendro langsung menyadari bahwa ia bukanlah seorang perwira biasa. Soekendro memiliki cara berpikir dan menganalisa di atas rata-rata perwira lain. Melihat kelebihan itu, ketika Nasution menjadi KSAD, ia mengajak Soekendro mengabdi sebagai Asintel I KSAD.

Benar saja. Soekendro berhasil menunjukkan kemampuannya. Pada tahun 1957, di saat para perwira daerah dipusingkan dengan kebijakan Jakarta dan berkeinginan menuntut otonomi, Soekendro di bawah perintah Nasution malah menggelar operasi intelijen.

Orang-orangnya menyisir ke daerah-daerah dan menginfiltrasi pola pikir para perwira di daerah-daerah tersebut. Upayanya membuahkan hasil. Ketika suasana semakin memanas, hanya komandan di Sumatra (PRRI) dan Sulut (Permesta) yang mendeklarasikan diri lepas dari Indonesia.

Rupanya kiprah emas Soekendro tak hanya di lingkup nasional. Berkat tugas belajar yang dijalaninya di Amerika Serikat (AS), ia sukses menjalin kontak dengan CIA. Melalui tangannya sejumlah program kerja sama TNI dan CIA tercipta.

Hingga timbul anggapan di masa itu yang menyebut sosok Soekendro merupakan benang merah menghubungkan Nasution dan Achmad Yani dengan CIA. Selain itu, berkat kecerdasannya, Soekendro sampai dituding sebagai sosok yang perlu dicurigai. Hal tersebut dimuat dalam buku ‘Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto’ yang ditulis FX. Baskara Tulus Wardaya.

Di sisi lain, apa yang menyebabkan Soekendro masuk dalam daftar incaran PKI yang patut dihabisi dalam peristiwa G30S/PKI?

Usut punya usut, Soekendro dianggap sebagai sosok vital di militer Indonesia. Namanya bahkan masuk dalam kelompok jenderal elite yang memiliki kedekatan dengan Nasution dan Yani. Belakangan baru diketahui grup tersebut dikenal sebagai Dewan Jenderal.

Beranggotakan 25 orang, namun motor penggeraknya adalah Mayjen S Parman, Mayjen MT Haryono, Brigjen Soetoyo Siswomihardjo, dan Brigjen Soekendro. Grup mereka sangat aktif melakukan counter politik demi mengurangi dominasi PKI.

Peran Soekendro tersebutlah yang kemudian memancing emosi PKI. Di mata PKI, perwira intelektual ini dianggap sebagai bahaya laten. Sayangnya, Soekarno menurunkan perintah agar Soekendro bergabung menjadi anggota delegasi Indonesia untuk peringatan Hari Kelahiran Republik China pada 1 Oktober 1965.

Berkat perintah Soekarno, selamatlah Soekendro dari keganasan PKI.

Paska peristiwa berdarah tersebut, kegemilangan Soekendro perlahan mulai ditenggelamkan oleh kiprah Ali Moertopo. Soekendro gagal membendung jarring-jaring intelijen Ali yang menjadi alasan keruntuhan Soekarno. Namun bukan berarti ia hanya berdiam diri. Soekendro masih berupaya keras.

Pada 11 Maret 1966, pada saat presiden dibuntuti para waperdam menuju Bogor lantaran takut dengan Pasukan Kemal Idris, Soekendro mengeluarkan saran kepada AM Hanafi untuk mengejar presiden dan terus menempel di mana pun Soekarno.

“Jangan tinggalkan Bapak sendirian,” demikian perintah Soekendro yang rupanya masih memiliki kemampuan menganalisis suatu kejadian.

Tetapi malangnya, AM Hanafi tak sanggup memenuhi perintah Soekendro. Ia tak kebagian helikopter untuk menjalankan perintah.

Di hari yang sama, petang itu utusan Soeharto berhasil mengantongi surat penyerahan kekuasaan (Supersemar). Seiring dengan Soeharto yang menaiki puncak kekuasaan, cahaya Soekendro otomatis meredup.

Meski begitu, ia tak lantas diam. Dalam sebuah kursus perwira yang digelar di Bandung, Soekendro secara mengejutkan mengakui keberadaan Dewan Jenderal.

Akibat pengakuan tersebut, Soeharto yang merupakan rekan dekatnya, melalui tangan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro menggiring Soekendro ke dalam sel RTM Nirbaya Cimahi selama 9 bulan tanpa pengadilan.

Lolos dari dinginnya sel tahanan, Soekendro ditampung Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam dan mendapat kepercayaan untuk mengelola perusahaan daerah Jawa Tengah.

Namun demikian, Soekendro tetap menjadi orang pertama yang didatangi Soemitro setiap kali muncul kabar pergerakan antipemerintah.

“Tidak ada orang intelijen yang lebih hebat daripada dia. Karena itu saya selalu mencurigainya,” ujar Soemitro.