Din Syamsuddin Sebut Meiliana Dianggap Menista Agama Jika…


SURATKABAR.ID Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin turut berkomentar perihal kasus Meiliana yang harus menerima vonis penjara lantaran protes terhadap suara azan.

Din mengatakan bahwa untuk kasus Meiliana, harus jelas mengenai perbuatan yang dianggap melawan hukum.

“Kalau hanya sekadar memprotes apalagi dengan cara baik agar azan jangan terlalu keras, maka itu tidak menistakan agama,” ujar Din dalam keterangan tertulis, Senin (27/8/2018), dikutip dari republika.co.id.

Akan tetapi, jika ternyata Meiliana terbukti menolak sembari mengeluarkan celaan terhadap azan sebagai ajaran dan praktik keagamaan, hal tersebut memang menistakan agama. “Kalau dia menolak sambil mencela azan sebagai ajaran atau praktik keagamaan, maka itu termasuk menistakan agama,” katanya menjelaskan.

Baca Juga: Gempar Susu UHT Positif Streptococcus sp, Waspada Inilah Bahaya yang Mengancam

Jika menyampaikan protes dengan cara yang tak baik, maka itu tak dianggap sekedar protes suara azan, melainkan mencela praktik keagamaan umat Islam.

“Kalau dengan cara kasar dan sinis (sambil mencela, menghina), sesungguhnya yang dia lakukan itu bukan memprotes suara azan, tetapi mencela praktik keagamaan umat agama lain, maka sesungguhnya dia menistakan agama,” ujar Din.

Kasus Meilana ini bermula pada Senin, 29 Juli 2016. Suasana di Jalan Karya Lingkungan I, Kelurahan Tanjung Balai Kota I, Kecamatan Tanjung Balai Selatan tegang setelah seorang warga, yaitu Meiliana menyampaikan proses terhadap suara azan yang menggema dari Masjid Al Maksun.

Protes tersebut berujung pada kerusuhan, dimana warga menyerbu kelenteng dan vihara di sekitar Kota Tanjung Balai. Amukan massa berpuncak hingga penyerangan Vihara Tri Ratna dan Kelenteng Dewi Samudera yang terletak di tepi Sungai Asahan menjelang subuh. Dampaknya, sedikitnya tiga vihara, 8 kelenteng, dua yayasan Tionghoa, satu tempat pengobatan dan rumah Meiliana rusak. Sebanyak 20 orang juga sempat ditahan polisi karena dianggap menjadi pelaku pengrusakan.