Ternyata Pria Bisa Menangis Usai Bercinta, Apa Penyebabnya?


SURATKABAR.ID – Karena perbedaan otak pria dan wanita, tak heran jika pria lebih menyukai s*eks dan aktivitas bercinta. Penelitian oleh Roy Baumeister, psikolog sosial Florida State University, menemukan bahwa hasrat seksual pria bersifat spontan dan fantasi s*ks mereka lebih bervariasi dibanding wanita. Namun meski pun demikian, tahukah Anda bahwa ternyata pria juga bisa begitu sensitif dan menangis usai bercinta? Hal ini mungkin agak aneh, namun ternyata ada penjelasan ilmiahnya.

Dikutip dari laman Science Daily, sebuah riset dari QUT’s School of Psychology and Counselling menemukan bahwa pria bisa mengalami Postcoital Dysphoria (PCD) atau post-coitial tristesse (PCT) setelah bercinta. Kondisi ini merupakan momen saat seseorang dilanda perasaan sedih dan tersentuh secara emosional dan bahkan menangis.

Menurut penulis penelitian tersebut, Joel Maczkowiack dan Robert Schweitzer, terungkap bahwa umumnya kondisi PCD dialami wanita setelah berhubungan intim, demikian dikutip dari reportase Vemale.com, Kamis (16/08/2018).

Namun penelitian yang dilakukan pada 1.208 pria dari Australia, Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Selandia Baru, Jerman, dan beberapa negara lain ini menemukan bahwa sebanyak 41 persen pria mengaku pernah juga mengalami Postcoital Dysphoria. Sedangkan 4 persen lainnya justru mengaku mengalami PCD berulang kali.

Riset yang berjudul Postcoital Dysphoria: Prevalence and Correlates among Males yang diterbitkan Journal of Sex & Marital Therapy ini juga menyebutkan, para pria umumnya merasa tak ingin disentuh setelah bercinta. Mereka juga merasa tidak puas, kesal dan bahkan gelisah sehingga ingin mengalihkan perhatian untuk semua yang telah dilakukannya. Atau dengan kata lain, menarik diri.

Baca juga: Jadi Favorit Wanita, Begini 5 Teknik Ciuman yang Bisa Bangkitkan Gairah

Hal ini menunjukkan bahwa bukan hanya wanita saja yang merasakan pengalaman seksual yang kompleks. Ternyata beberapa pria juga mengalaminya.

Kendati demikian, Robert Schweitzer menuturkan, “Tiga fase siklus respons seksual manusia secara umum adalah kebahagiaan, stabilitas dan orgasme. Ini menjadi fokus penelitian hingga saat ini. Namun pengalaman fase selesai (setelah bercinta) masih penuh misteri dan kurang dipahami,” bebernya.

Salah satu penjelasan pasti menurut Dr Tudor adalah bahwa s*eks menyentuh emosi dengan kuat, baik positif maupun negatif, demikian dilansir dari laporan Suara.com.

“Bagi mereka yang mengalami dysphoria, mereka mungkin menghubungkan ke asosiasi negatif masa lalu dengan pengalaman seksual. Ini mungkin sebuah kilas balik atau memori [sesuatu] yang negatif,” ungkapnya.

Tapi hal ini tidak selalu terjadi. Dr. Robert Schweitzer dari Queensland University of Technology ini telah melakukan dua studi yang berbeda pada perempuan yang mengalami PCD, dan hasil keduanya menunjukkan bahwa orang yang tak pernah mengalami trauma mungkin masih mendapati diri mereka merasa gelisah, kesepian atau marah setelah berhubungan seksual. Bahkan ketika hubungan secara keseluruhan dalam kondisi bahagia dan sehat.

Meski penelitian akademik dan klinis dalam PCD masih terbatas, namun Dr. Schweitzer percaya ada sejumlah potensi penyebab psikologis, fisiologis dan sosial bermain di dalamnya.

Untuk memulai, orgasme menggoyang hormon neuro di otak, menghasilkan peningkatan kadar endorfin, oksitosin “hormon berpelukan” dan dosis prolaktin untuk melawan efek dari dopamin tinggi.

Jadi dapat dimengerti bahwa tubuh manusia mungkin menanggapi s*eks sebagai perilaku di luar kendali mereka. Terlebih lagi, banyak orang yang mengalami PCD tidak merasakan depresi sebelumnya.

Menurut Dr. Tudor, menangis setelah berhubungan s*eks adalah reaksi alami dan belum tentu memprihatinkan.

Umumnya orang akan merasakan kepuasan setelah bercinta. Tak heran jika perasaan sebaliknya justru menjadi hal yang sulit dipahami. Untuk mencegah dan meredakan perasaan tak menyenangkan ini, ada baiknya jika pasangan saling berkomunikasi, saling berbagi perasaan sehingga bisa mengurangi efek emosional yang negatif.