Kisah Panglima Aman Dimot, Pejuang Asal Aceh yang Kebal Senjata


SURATKABAR.ID – Siapa yang tak kenal nama-nama seperti Cut Nyak Dien, Malahayati, panglima Polim? Mereka semua telah tercatat sebagai pahlawan nasional. Pahlawan nasional asal Aceh. Namun tahukah Anda satu nama lain dari dataran tinggi Gayo yang dianggap layak mendapat gelar pahlawan nasional. Ia adalah Aman Dimot.


Di bawah pimpinan Ilyas Leube, Aman Dimot dinilai mempunyai cara unik dalam berperang, yakni dengan menghadang tank dan truk pasukan Belanda. Hal itu ia tunjukkan dalam perang gerilya di tahun 1940-an. Keberanian dan kemampuannya itu membuat namanya harum hingga kini.

Tidak sampai di situ, Aman Dimot dianggap punya kekebalan dan ilmu kanuragan. Tubuhnya tidak bisa dibobol peluru. Ia kebal timah panas. Digores pedan pun, tubuhnya tak terluka.

Aman Dimot tidak hanya berjuang untuk daerahnya, melainkan memperjuangkan agar Belanda tidak masuk ke Aceh dari jalur Tanah Karo, Sumatera Utara. Oleh sebab itu, namanya sangat akrab di masyarakat Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Kisah-kisah heroiknya berjuang untuk NKRI sangat melegenda. Di sana, pria kelahiran Tanamak, linge Isaq, Aceh Tengah tahun 1920 ini pun dikenal dengan Panglima Abu Bakar Aman Dimot.

Pemerintah Aceh Tengah telah mengusulkan nama Aman Dimot untuk dijadikan pahlawan nasional, bersanding dengan nama besar pahlawan Aceh lainnya.

Pada tahun 2015 lalu, Nasaruddin, Bupati Aceh Tengah pernah mengungkapkan soal pegajuan Aman Dimot sebagai pahlawan yang ia sampaikan pada peringatan Hari Pahlawan di Lapangan Setkab Aceh Tengah, Selasa (10/11/2015), dikutip dari kompas.com.

“Kepada kita belum diberi tahu apa kekurangannya. Apakah kekurangan administrasi atau kekurangan bukti? Ini yang sedang kita minta untuk disampaikan supaya kalau kurang bukti bisa kita lengkapi, ila kurang administrasi kita bisa penuhi,” katanya.

Selain itu, M Y Sidang Temas, veteran asal Aceh Tengah juga turut menyampaikan harapan agar Aman Dimot diberi gelar pahlawan nasional.

“Berbicara tentang Aman Dimot, saya sudah dua kali berjumpa Menteri Sosial bachtiar Hamzah. Saya bertanggung jawab untuk menyampaikan makalah tentang Aman Dimot,” kata dia.


M Y Sidang Temas juga engharapkan Menteri Sosial Khofifah Indar Prawansa untuk merealisasikan gelar pahlawan nasional kepada Aman Dimot.

Baca Juga: Merasa Anaknya Terlalu Tampan, Pria Ini Putuskan Tes DNA

Untuk mengulas, mengenal lebih jauh Aman Dimot, berikut adalah salah satu kisah kiprah Aman Dimot tercatat sebagai sejarah bangsa.

Tangga 30 Juli 1949, di sekitar tanah karo, Sumatera Utara, pasukan Barisan Gurilla Rakyat (Bagura) dan Mujahidin asal Aceh Tengah tengah menguntit dan mengintai iring-iringan tank dan truk Belanda. Pasukan Bagura berjumlah 45 orang, menggunakan persenjataan senapan dan kelewang.

Berdasar sejumlah sumber, pasukan Bagura yang dipimpin Ilyas Leube bersama gerliyawan setempat menyerbu tank dan truk Belanda tersebut dengan sporadis hingga membuat pasukan marsose kelimpungan.

Satu dari serdadu yang menyerang tank dan truk belanda itu bernama Abu Bakar. Dialah si Pang atau Sang Pemberani Aman Dimot.

Keberanian Aman Dimot juga terlihat saat pasukan mulai lelah karena keterbatasan orang, senjata, dan logistik. Ditambah saat bala bantuan pasukan Belanda semakin melemhkan pejuang, Aman Dimot justru berkeras untuk terus memberikan perlawanan.

Meski saat itu Komandan Ilyas Leube memerintahkan pasukan untuk mundur dan meninggalkan medan perang, pilihan melawan tetap diambil Komandan Ilyas. Aman Dimot tentu bersemangat atas pilihan itu. Ia bersama dua rekannya, Pang Ali Rema dan Pang Edem serta lainnya melakukan perang terbuka.

Lantas, dari perang terbuka itu, kala Komanda Ilyas dan sisa pasukan pergi, Aman Dimot, Pang Ali, dan Pang Edem justru memilih pura-pura mati di tengah mayat yang bergelimpangan.

Tiba-tiba ketika Belanda memastikan mayat-mayat benar-benar mati, Aman Dimot dan kedua rekannya ini bangkit yang langsung menyerang pasukan Belanda dengan tak kenal rasa takut. Hasilnya, banyak pasukan Belanda tewas atas seranganitu. Sayang, Pang Ali dan Pang Edem pun tidak tertolong.

Sedang Aman Dimot terus mengejar pasukan Belanda dengan pedang di genggamannya. Serangan dari senjata Belanda tak melukainya, apalagi hingga membunuh Aman Dimot. Jelas Belanda heran.

Baca Juga: Mengejutkan, Arab Saudi Bakal Ijinkan Wisatawan Pakai Bikini di Pantai

Namun, karena kelelahan, Aman Dimot akhirnya ditangkap Belanda. Setelah ditangkap, Aman Dimot belum bisa juga dibunuh. Naas, Belanda akhirnya memasukkan granat ke dalam mulut Aman Dimot.

Belanda juga menggilas tubuh pejuang ini dengan tank. Akhirnya, tanggal 30 Juli 1949, Aman Dimot gugur di Rajamerahe, Sukaramai, Karo, Sumatera Utara. Jasadnya dimakamkan di tempat itu.

Beberapa tahun berselang, kuburannya digali dan kerangkanya dipindahkan ke Tiga Binaga. Terakhir, Jasad Aman Dimot disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe, Sumatera Utara.

Loading...

BAGIKAN

Berita sebelumyaTerungkap! Undang Dr Ryan Thamrin Harus Penuhi 10 Syarat Ini
Berita berikutnyaUmat Khonghucu yang Menentang Berdirinya Patung Jendral Tiongkok di Tuban

Komentar

komentar


Berita Terpopuler