Respons Santai Sandiaga Soal Sindiran ‘Orang Super Kaya Tiba-Tiba ke Pasar’ Jokowi


SURATKABAR.ID – Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno buka suara menanggapi pernyataan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu. Sandiaga mengaku dirinya tak mau berburuk sangka.

Diwartakan oleh Kompas.com pada Senin (26/11/2018), Presiden Jokowi melontarkan sindiran kepada orang kaya yang tak pernah turun langsung ke pasar, namun berani menyebut bahwa harga-harga kebutuhan pokok terlampau tinggi.

“Saya husnudzon saja atas pernyataan Pak Presiden. Mungkin yang dimaksud bukan saya,” demikian tanggapan Sandiaga melalui keterangan tertulis pada Minggu (25/11) kemarin.

“Tapi, kalau memang ditujukan kepada saya, yang bilang harga-harga di pasar naik dan tidak stabil itu bukan saya, tetapi pedagang dan pembeli sendiri,” imbuhnya lebih lanjut.

Ia dengan tegas mengatakan bahwa apa yang diucapkan semuanya berdasarkan aspirasi masyarakat. Pasalnya, setiap kali ia blusukan ke pasar tradisional, para pedagang dan pembeli hanya mengeluhkan satu hal. Itu adalah harga-harga yang tak stabil.

Baca Juga: Ketika Harga Tempe versi Jokowi dengan Temuan Sandiaga Berbanding Terbalik

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut mengambil satu contoh, yakni keluhan para pedagan di Pasar Besar Malang. Menurutnya, pedagang mengaku harga buncis dan wortel mengalami kenaikan sebesar 20 hingga 30 persen.

Angka tersebut, menurut Sandiaga, sudah di luar batas kewajaran. Dan sebagai orang yang sudah berpengalaman, lantaran sudah selama tiga tahun menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), ia sangat mengetahui harga di pasar.

Terkait pernyataan Jokowi tentang orang kaya yang tak berbelanja apapun ketika mendatangi pasar tradisional, Sandiaga mengeluarkan tanggapan santai khas dirinya. Ia mengatakan acara blusukannya ke pasar bukan untuk belanja, melainkan mendengar aspirasi pedagang dan pembeli secara langsung.

“Kalau belanja ke pasar itu tugas orang rumah saya. Kalau saya belanja di pasar, itu namanya pencitraan,” tutur Sandiaga.

Pernyataan Jokowi

Seperti diberitakan sebelumnya, sewaktu mengunjungi Bandar Lampung, Presiden Joko Widodo menyinggung orang yang masuk ke pasar tradisional tanpa membeli apa pun. Dan ketika keluar dari pasar orang itu malah menyebut-nyebut harga barang di pasar mahal-mahal.

Jokowi mengaku, ia blusukan ke pasar tak hanya untuk berbelanja kebutuhan pokok saja, namun untuk mengecek harga bahan pangan secara langsung. Tak hanya mengecek harga tempe, Jokowi juga sempat mengecek harga aneka sayur yang menurutnya masih murah.

“Waktu ke pasar di Bogor, tempe yang panjang dan gede itu hanya Rp 4.000. Tadi pagi saya juga ke Pasar Gintung, tempenya lebih murah lagi, Rp 3.500. Dimakan tiga hari saja enggak habis itu. Kalau itu (tempe) dipotong, bisa jadi 15 lembar,” ujar Jokowi.

Tak jauh berbeda dengan harga sayur mayur. Ketika mengunjungi pasar tradisional di Bogor, mantan Wali Kota Solo tersebut membeli satu ikat bayam dengan harga Rp 2.000. Sementara di Pasar Gintung Bandar Lampung, harga seikat bayam malah hanya Rp 1.000 saja.

Hanya beberapa komoditas saja yang diakuinya mengalami fluktuasi harga, salah satunya adalah daging ayam. Karena itu, ia mengaku jengkel jika mendengar pihak menyebut harga bahan-bahan pangan di pasar tradisional mahal-mahal.

“Jangan lagi ada yang masuk ke pasar, enggak beli apa-apa. Keluar pasar lalu bilang ‘Wah, harganya mahal-mahal’. Orang enggak pernah ke pasar juga, tiba-tiba nongol di pasar. Keluar-keluar bilang harga mahal,” seloroh Jokowi.

“Enggak mungkin orang super kaya tiba-tiba datang ke pasar. Enggak biasa, lah. Apalagi datang ke pasar enggak beli apa-apa, tahu-tahu bilang ‘Ini mahal, ini mahal’,” imbuh Jokowi yang mengaku setiap kali dirinya blusukan ke pasar selalu membeli sesuatu, entah apa pun itu.