Dulu Kaya Raya, Doktor Ekonomi Politik Soesilo Toer Kini Jadi Pemulung


SURATKABAR.ID – Soesilo Toer merupakan seorang doktor ekonomi politik lulusan Rusia. Dia juga adik dari Pramoedya Ananta Toer.

Sebuah kertas berukuran setengah folio menjadi hartanya yang paling berharga. Menurutnya, ia mendapatkan kertas tersebut tahun 1972.

Kertas dengan warna kuning itu tersimpan rapi tanpa ada cacat sedikit pun. Dibungkus bersama 12 lembar kertas lainnya, aset paling berharga milik Soesilo ini merupakan sebuah ijazah.

Ijazah doktor ekonomi politik tersebut dikeluarkan oleh The Council of Moscow Institute of National Economy. Sementara lembaran-lembaran lain adalah ijazah S2, transkrip nilai dan sejumlah sertifikat yang diperoleh Soesilo ketika berkuliah di Rusia.

Baca juga: Data Pribadinya Diumbar, Christian Sugiono Kecewa pada Perusahaan Layanan Komunikasi Ternama

Kertas-kertas tersebut merupakan bukti bahwa Soesilo yang kini memulung sampah tiap malam merupakan ilmuwan di bidang ekonomi.

Tak hanya ahli di bidang ekonomi, Soesilo juga fasih berbahasa Rusia, baik lisan maupun tulisan. Ia juga mampu berbahasa Inggris, Jerman, dan Belanda.

Meski kini mejadi pemulung, Soesilo mengaku bangga dengan profesinya itu, Menurutnya, itu merupakan bagian dari manusia sesungguhnya dengan menjadikan barang yang tak bermanfaat jadi bernilai.

“Saya sejak kecil ngorek sampah. Di Rusia juga begitu. Sebab ngorek sampah sudah jadi bagian dari hidup saya,” akunya, dilansir jpnn.com, Sabtu (14/4/2018) lalu.

Disamping itu, Soesilo memiliki obsesi yang cukup unik. Ia ingin mengalahkan kakaknya di berbagai sisi kehidpan. Bahkan, menurutnya sebagian telah tercapai.

“Akan saya kalahkan Pram. Pram hanya menikah dua kali, saya tiga kali,” ujarnya berkelakar.

Pram yang dimaksudnya adalah Pramoedya Ananta Toer, penulis buku yang sangat terkenal. Keduanya juga pernah dituding antek komunis dan dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan.

Hal inilah yang akhirnya mempengaruhi perjalanan hidup Soesilo hingga memutuskan menjadi pemulung. Meski begitu, baik Soesilo maupun Pram menerimanya dengan lapang dada.

“Ini kan perkara sudut pandang. Jadi tidak masalah,” katanya.

Menurut Soesilo, ia selalu dikait-kaitkan dengan PKI karena berkuliah di Rusia. Kala itu, pasca G30S/PKI, Kedutaan Indonesia di Moskow menggelar tahlilan untuk mendoakan para jenderal yang menjadi kekejaman PKI.

Saat itu, ia tak hadir dan dianggap pro PKI serta tak menentang pemerintah Indonesia. Paspornya pun dicabut. “Gimana mau hadir? Undangannya gak ada,” akunya.

Ia pun akhirnya dipulangkan. Begitu mendarat, dia langsung ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Ia menjadi tahanan politik selama 3 tahun.

Sementara itu, sejumlah saudaranya yang lain seperti Prawito Toer dan Koesalah Soebagyo Toer juga dipenjara. Sementara adiknya, Soesetyo Toer kabur ke Papua.

Setelah bebas, perlakuan tak adil tetap didapatkannya. Bahkan, sampai berlanjut ketika ia pulang ke kampung halamannya di Blora.