Edan! Begini Cara Jaringan Teroris Rekrut Wanita


SURATKABAR.ID – Ledakan bom di 3 gereja di Surabaya, Jawa Timur, menyisakan duka bagi masyarakat Indonesia, terutama keluarga korban.

Anehnya, pelaku pengeboman kali ini adalah wanita dan anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa jaringan teroris kini mulai menggunakan kaum wanita dan anak-anak untuk melakukan aksinya.

Namun, bagaimana bisa seorang wanita tergabung dalam sebuah jaringan teroris?

Psikolog Universitas Indonesia yang mendalami masalah terorisme, Mira Noor Milla, memaparkan cara teroris merekrut kaum wanita. Menurutnya, mereka hanya diiming-imingi soal jodoh.

“Mau ngapain kalau usia menikah, tetapi belum menikah? Ini kan yang akan diberikan oleh kelompok itu jodoh. Itu sebagai solusinya,” terang Mira, Minggu (13/5/2018), dilansir republika.co.id.

Baca juga: Lolos dari Ledakan Pertama, Anton Terpaksa Ditembak Lantaran Pegang Benda Mengerikan Ini

Mira melanjutkan, bagi wanita keberadaan pasangan hidup dianggap mampu mengisi kekosongan kebermaknaan identitas. Dengan pemikiran ini, identitas wanita dianggap akan sangat bergantung pada suaminya.

“Disempurnakan oleh pasangan hidupnya. Jadi ini identitas yang dipenuhi oleh ideologi,” terangnya.

Mira menjelaskan, proses pernikahan ini kadang dilakukan tanpa tatap muka. Awalnya, wanita ini berkenalan dengan kelompok teroris melalui media sosial. Setelah ditetapkan sebagai target, wanita ini akan dipantau aktivitasnya di media sosial. Hingga nantinya ada pertemuan tatap muka.

Biasanya, pertemuan akan dilakukan oleh sesama perempuan yang berperan sebagai mentor. Dia akan melakukan doktrinasi awal. Makin hari, pertemuan akan makin intensif hingga target tak sadar ia telah didoktrin pemahaman radikal.

“Baru di situ akan ditawari gimana kalau kamu dinikahkan dengan siapa? Nah, siapanya itu adalah dengan orang jaringan (teroris),” lanjut Mira.

Pernikahan ini, tak jarang dilakukan melalui dunia maya. Terutama jika kedua mempelai tinggal di negara berbeda. Bahkan, ada wanita yang sama sekali tak pernah bertemu langsung dengan suaminya hingga melakukan aksi.

“Jadi suaminya di Indonesia, dia di Taiwan atau di mana. Jadi sampai menikah itu nggak pernah ketemu suaminya, sampai dia mau melakukan aksi, tapi kemudian ditangkap di Indonesia,” terangnya.

Lebih lanjut, Mira menyebut bahwa TKW merupakan salah satu kelompok yang rentan direkrut. Biasanya, TKW ini telah lama bekerja, namun tak mengalami perubahan status ekonomi yang signifikan.

Saat dinikahi oleh anggota jaringan teroris, tak  jarang mereka menjadi istri kedua dan ketiga. Setelah menikah, doktrin yang ditanamkan untuk menjadi pelaku aksi teror makin intensif. Bahkan, menurut Mira, sebagian juga terdoktrin untuk melakukan aksinya saat hamil.