Ayahnya Dikenal Bengis, Ilham Aidit Alami Peristiwa Mengerikan Ini Pasca G30S/PKI


SURATKABAR.ID – Dipa Nusantara Aidit atau lebih dikenal DN Aidit merupakan peminpin senior Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kekejamannya terhadap tentara Republik Indonesia tak usah dipertanyakan lagi. Namun, bagaimana dengan anggota keluarga DN Aidit? Apa yang terjadi pada anak dan istrinya pasca G30S/PKI?

Sebuah kisah tentang pengakuan mengejutkan datang dari Ilham Aidit, putra keempat DN Aidit. Saat peristiwa Gerakan 30 September PKI atau G30S/PKI, usia Ilham belum genap 7 tahun.

Namun, di usia yang masih belia tersebut, Ilham harus menyaksikan keluarganya tercerai berai. Ayahnya tewas tertembak, sedangkan ibunya di tahan. Sementara itu, dua kakaknya yang bersekolah di Rusia, tak pernah bisa pulang ke Indonesia.

Baca juga: Tegas! Heboh Nobar G30S/PKI, Panglima TNI Komentar Begini

Kehilangan kedua orangtuanya, Ilham bersama salah satu kakak dan saudara kembarnya yang bernama Irfan, akhirnya dititipkan di keluarga Yohanes Mulyono di Bandung. Yohanes masih terhitung saudara jauh DN Aidit. Keluarga inilah yang kemudian mengasuhnya hingga dewasa.

Ilham menuturkan, kala itu dirinya tengah asyik bermain kelereng dan tak terlalu mengacuhkan kedatangan sekelompok tentara bersenjata lengkap.

Tentara-tentara ini kemudian berbisik-bisik dengan pamannya dan tak lama kemudian pergi. Ilham belakangan baru mengetahui bahwa kedatangan tentara tersebut tak lain dan tak bukan untuk menghabisinya.

“Dikiranya saya sudah besar. Kalau umur saya sudah belasan tahun saja, mungkin ceritanya lain,” tutur Ilham, dilansir tribunnews.com.

Sebagai anak kandung dari tokoh politik nasional yang diberi cap pengkhianat, tentu tak mudah bagi Ilham menjalani hari-harinya. Bahkan, dia kerap mendapatkan cemoohan dari masyarakat soal ayahnya.

Cap “PKI” seakan tertulis besar di dahinya. Tak jarang, ejekan-ejekan yang datang padanya berakhir dengan adu jotos. Demi membela nama sang ayah, tak jarang Ilham babak belur karena berkelahi.

“Sampai suatu saat sewaktu saya SMA di Jakarta, saya disadarkan Pastor Brouwer. Dia bilang ‘Kalau kamu terus berkelahi, energimu akan habis di situ. Kamu tidak bisa menyelesaikan sekolahmu’. Dari situ saya sadar dan berhenti,” lanjut Ilham.

Baca juga: Ditembaki Polisi, YLBHI Merasa Jadi Korban Hoax

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikannya di Universitas Katolik Parahyangan, Ilham kini bekerja di Bali sesuai dengan pendidikannya semasa kuliah.