Tolak Eksekusi Lahan Adat, Masyarakat Sunda Wiwitan Gelar Aksi Protes


SURATKABAR.ID – Gelar aksi penolakan eksekusi tanah adat dilakukan oleh masyarakat penghayat Sunda Wiwitan di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kamis (23/08/2017). Tanah adat tersebut akan dieksekusi oleh Pengadilan Negeri Kuningan. Sejumlah anggota masyarakat penghayat Sunda Wiwitan pun merebahkan tubuh mereka di tengah jalan dengan mengenakan pakaian adat, sebagai bentuk protes mereka.

Dewi Kanti, salah seorang anggota Sunda Wiwitan, menyebutkan bahwa eksekusi lahan bertentangan dengan prinsip keadilan hukum dan inkonstitusional.

“Lahan ini merupakan zonasi Cagar Budaya Nasional, yang sudah tercatat sejak tahun 1976 di Departemen Kebudayaan dan Pendidikan RI,” ungkapnya, sebagaimana dilansir dari reportase BBC.com, Sabtu (26/8/2017).

Lagipula, sambung Dewi Kanti, perintah putusan pengadilan itu tergolong diskriminatif dan cacat hukum lantaran sudah memarjinalkan nilai sejarah dan budaya.

Baca juga: Keterlaluan! Video Anak Kecil Ditampar Saat Belajar Menghitung Ini Bikin Sakit Hati

 

Tanah Sengketa

Diketahui bahwa tanah adat yang menjadi pokok permasalahan masih atas nama Pangeran Tedja Buana. Beberapa waktu lalu muncul gugatan dari salah satu keturunan pangeran, yaitu Jaka Rumantaka. Jaka mengklaim tanah adat Sunda Wiwitan yang luasnya sekitar dua hektare itu telah diwariskan kepadanya.

Padahal, masyarakat penghayat Sunda Wiwitan mengklaim, sejak 1960 leluhur warga adat termasuk Pangeran Tedja Buana tidak membuat sertifikat tanah.

Kasus sengketa ini berlanjut ke Mahkamah Agung dan MA telah mengeluarkan putusan kasasi yang mengabulkan gugatan Jaka. Langkah eksekusi pun ditempuh.

Kasasi ialah pembatalan atas keputusan Pengadilan-pengadilan yang lain yang dilakukan pada tingkat peradilan terakhir dan di mana menetapkan perbuatan Pengadilan-pengadilan lain dan para hakim yang bertentangan dengan hukum, kecuali keputusan Pengadilan dalam perkara pidana yang mengandung pembebasan terdakwa dari segala tuduhan, hal ini sebagaimana ditentukan dalam Pasal 16 UU No. 1 Tahun 1950 jo. Pasal 244 UU No. 8 Tahun 1981 dan UU No. 14 Tahun 1985 jo. UU No. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.

Kasasi lebih tepat diartikan “naik banding” ketimbang “banding”. Jika seseorang tidak puas dengan vonis dari Pengadilan Negeri, yang bersangkutan bisa mengajukan kasasi ke Pengadilan Tinggi. Bila masih tidak puas dengan vonis dari Pengadilan Tinggi, dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Mahkamah Agung sebagai badan terakhir bagi kita untuk memperoleh keadilan.

Diskriminasi

Sebelumnya, masyarakat penghayat Sunda Wiwitan beberapa kali mengaku mengalami diskriminasi, seperti pemaksaan agar anak-anak Sunda Wiwitan mengikuti salah satu pelajaran agama mayoritas di sekolah.

Pada Mei lalu, pemerintah mendukung agar penghayat kepercayaan bisa mencantumkan keyakinan mereka pada kolom agama di Kartu Tanda Penduduk.

Menurut Dewi Kanti, kekosongan dalam kolom agama di KTP bagi penghayat kepercayaan menyebabkan munculnya stigma yang kemudian punya dampak secara sosial.

“Sebelum punya KTP saja anak-anak kita sudah di-bully di sekolah. Karena ada pemahaman yang seolah menjadi norma sosial bahwa di negara ini hanya ada enam agama,” tutur Dewi Kanti.

Masyarakat penghayat Sunda Wiwitan tersebar di sejumlah daerah di Provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti Cigugur dan Lebak.

Sekilas Sunda Wiwitan

Edi S. Ekadjati dalam Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah (1995), dengan mengambil contoh masyarakat Kanékés di Banten, mencoba menjelaskan tentang Sunda Wiwitan.

Wiwitan berarti mula, pertama, asal, pokok, jati. Dengan kata lain, agama yang dianut oleh orang Kanékés ialah agama Sunda asli. Menurut Carita Parahiyangan adalah agama Jatisunda,” tulisnya seraya mengakui informasi yang ia dapatkan terhitung sedikit karena orang Kanékés cenderung tertutup membicarakan kepercayaannya, seperti ditukil dari laporan Tirto.id.

Ia menambahkan, jika isi agama Sunda Wiwitan dideskripsikan, tampak keyakinan kepada kekuasaan tertinggi pada Sang Hiyang Keresa (Yang Maha Kuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Disebut pula Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib), yang bersemayam di Buana Nyungcung. Semua dewa dalam konsep agama Hindu (Brahma, Wisnu, Syiwa, Indra, Yama, dan lain-lain) tunduk kepada Batara Séda Niskala.

Dalam mitologi orang Kanékés, ada tiga macam alam:  (1) Buana Nyungcung, tempat bersemayam Sang Hiyang Keresa, yang letaknya paling atas; (2) Buana Panca Tengah, tempat manusia dan makhluk lain berdiam; dan (3) Buana Larang, yaitu neraka yang letaknya paling bawah.

Antara Buana Nyungcung dan Buana Panca Tengah terdapat 18 lapisan alam, tersusun dari atas ke bawah. Lapisan teratas bernama Bumi Suci Alam Padang atau menurut kropak 630 bernama Alam Kahiyangan atau Mandala Hiyang. Lapisan alam ini tempat tinggal Nyi Pohaci Sanghiyang Asri dan Sunan Ambu.

Sang Hiyang Keresa menurunkan tujuh batara di Sasaka Pusaka Buana. Salah satu dari 7 batara itu ialah Batara Cikal, yang dipercaya paling tua, yang dianggap leluhur orang Kanékés. Keturunan batara yang lain memerintah di daerah-daerah lain (Karang, Jampang, Sajira, Jasinga, Bongbang, dan Banten).

“Kata menurunkan (nurunkeun) pada hubungan Sang Hiyang Keresa dengan 7 batara, bukan berarti melahirkan seperti layaknya orangtua kepada anaknya, melainkan mendatangkan (dari Buana Nyungcung ke Buana Tengah). Dari nama-nama batara (Wisawara, Wisnu, Brahma), tampak masuknya pengaruh agama Hindu ke dalam sistem kepercayaan orang Kanékés,” tulisnya.

Orang Kanékés juga percaya tanah atau daerah di dunia ini (Buana Panca Tengah) dibedakan berdasarkan tingkatan kesucian. Tempat paling suci adalah Sasaka Pusaka Buana. Selanjutnya, berturut-turut, kampung dalam, kampung luar panamping), Banten, Tanah Sunda, dan luar Sunda. Pusat dunia serta pusat dalam lingkungan Desa Kanékés adalah Sasaka Pusaka Buana. Dan Desa Kanékés adalah pusat dalam lingkungan daerah Banten. Sedangkan Banten merupakan pusat dalam lingkungan Tanah Sunda.

Masih eksisnya Sunda Wiwitan, menurut Dadan Wildan dalam artikel “Perjumpaan Islam dengan Tradisi Sunda” (Pikiran Rakyat, 26 Maret 2003) lantaran komunitas penganut taat ajaran Sunda Wiwitan dengan sepenuh sadar memisahkan diri dari masyarakat Sunda lain ketika Islam masuk ke Kerajaan Pakuan Pajajaran. Ini terdapat dalam cerita Budak Buncireung, Dewa Kaladri, dan pantun Bogor versi Aki Buyut Baju Rambeng dalam lakon Pajajaran Seureun Papan.

Kepercayaan Sunda yang Lain: Madrais

Selain Sunda Wiwitan di Kanékés, masih ada agama lokal etnis Sunda lain yang masih dianut sampai sekarang oleh beberapa kelompok masyarakat. Salah satunya ajaran Madrais di Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Meski awalnya dibesarkan dalam tradisi Islam, pada 1921, Madrais melahirkan ajaran baru yang mengajarkan paham Islam dengan kepercayaan lama (pra-Islam) masyarakat Sunda yang agraris. Ia menyebutnya sebagai Ajaran Djawa Sunda atau masyhur dengan sebutan Madraisme.

Dadan Wildan menambahkan, Madrais menetapkan tanggal 1 Sura sebagai hari besar sérén taun yang dirayakan secara besar-besaran. Dewi Sri atau Sanghyang Sri atau Dewi Padi dalam ajaran ini adalah sosok amat dihormati melalui upacara-upacara religius daur ulang penanaman padi serta ajaran budi pekerti dengan mengolah hawa nafsu agar hidup selamat.

Ajaran Madrais menyebar ke beberapa daerah di Jawa Barat, salah satunya di Kampung Cireundeu, Cimahi. Hal ini tampak dari keberadaan foto Madrais di aula pertemuan kampung tersebut. Masyarakat Cireundeu yang masih memeluk teguh kepercayaan lama ini sehari-hari memakan singkong dalam berbagai bentuk olahan.

Pada 17 September 1927, seorang tokoh kebatinan Mei Kartawinata (1898-1967) mendapat wangsit di Subang untuk berjuang melalui pendidikan, kerohanian, dan pengobatan melalui perkumpulan Perjalanan yang mengibaratkan hidup manusia seperti air dalam perjalanannya menuju laut dan bermanfaat sepanjang jalan.

Mei Kartawinata kemudian mendirikan aliran kepercayaan perjalanan yang dikenal “Agama Kuring” (Agamaku) dan pendiri Partai Permai di Ciparay, Kabupaten Bandung. Di Ciparay, hingga kini, terdapat bangunan serupa aula, tempat penghaturan ibadat dari Agama Kuring.

Sinkretisme

Kartawinata juga menulis buku Budi Daya pada 1935 yang dijadikan “kitab suci” oleh para pengikutnya. Ajaran yang memadukan sinkretisme antara ajaran Sunda Wiwitan, Hindu, Buddha, dan Islam, ini masih dianut oleh beberapa kalangan sampai sekarang.

Sinkretisme yakni suatu proses perpaduan dari beberapa paham-paham atau aliran-aliran agama atau kepercayaan. Pada sinkretisme terjadi proses pencampuradukkan berbagai unsur aliran atau paham, sehingga hasil yang didapat dalam bentuk abstrak akan berbeda  dan ini dilakukan demi untuk mencari keserasian dan keseimbangan.

Baca juga: Soeharto Tak Kunjung Pulang Usai Peristiwa G30S/PKI, Ibu Tien Bikin Sesajen

Contohnya, Imam Mudrika sempat menulis Filsafat Sunda Wiwitan: Niskala Purbajati yang disajikan dalam bentuk puisi Sunda Kuna. Asep Salahudin, kolumnis dan salah satu penerima Anugerah Budaya Kota Bandung 2016, mencoba menafsirkan secara umum apa yang tersaji di buku itu.