Tak Banyak yang Tahu, Inilah Beberapa Negara yang Sukses Memindahkan Ibu Kota


SURATKABAR.ID – Seiring dengan semakin tak kondusifnya suasana Jakarta, wacana untuk memindahkan ibu kota Indonesia pun kini muncul kembali. Beberapa kota disinyalir menjadi kandidat ibu kota baru, salah satunya adalah Palangkaraya di Kalimantan Tengah. Namun tak banyak yang tahu, sejumlah negara dari berbagai belahan dunia sudah pernah memindahkan ibu kota mereka, karena berbagai alasan.

Dilansir dari Kompas, Senin (10/4/2017), inilah daftar 8 negara yang pernah memindahkan ibu kotanya dalam 100 tahun terakhir.

  1. Brasilia (Brasil)

Ibu kota negara Brasil dulunya dijadikan tuan rumah Olimpiade. Tapi karena semakin padatnya kota tersebut, pemerintah lantas berniat memindahkan ibu kota.

Pada 21 April 1960, pemerintah Brasil meresmikan sebuah kota baru yang dinamakan Brasilia untuk menjadi pusat pemerintahan negeri itu, menggantikan Rio de Janeiro.

Baca juga: Ternyata Presiden Jokowi Berniat Pindahkan Ibu Kota, Kemana?

Kota Brasilia dirancang oleh Lucio Costa dan Oscar Niemeyer pada 1956. Sementara untuk lanskap kota ditangani arsitek Roberto Burle Marx.

Kini Brasilia menjadi tempat institusi pemerintah federal termasuk kongres, presiden, dan Mahkamah Agung. Kota ini juga menjadi tempat untuk 124 kantor kedutaan besar negara-negara sahabat Brasil.

Brasilia saat ini juga menjadi kota terpadat keempat di Brasil, dan sudah ditetapkan menjadi situs warisan dunia UNESCO karena arsitekturnya yang unik.

  1. Abuja (Nigeria)

Pada 1980-an, pemerintah Nigeria membangun kota Abuja yang dirancang untuk menggantikan Lagos sebagai ibu kota negeri itu.

Lanskap kota Abuja mudah dikenali dengan adanya Aso Rock, sebuah gunung batu setinggi 400 meter.

Hampir semua instansi pemerintah seperti kompleks kepresidenan, gedung parlemen, Mahkamah Agung, serta sebagian besar kota, berada di sisi selatan gunung batu itu.

Menurut catatan PBB, kota ini tumbuh 139 persen antara 2000 hingga 2010, menjadikannya kota dengan perkembangan paling pesat di dunia.

Sebagai sebuah kota baru, Abuja juga dibanjiri arus urbanisasi yang mendongkrak jumlah penduduknya.

Pada 2006, penduduk kota ini tercatat sebanyak 776.298. Hanya dalam waktu 10 tahun, penduduk kota ini membengkak hingga 6 juta jiwa.

Abuja resmi menjadi ibu kota Nigeria menggantikan Lagos pada 12 Desember 1991.

  1. Astana (Kazakhstan)

Sejak masih berada di bawah kendali Uni Soviet hingga merdeka pada 1992, Almaty selalu menjadi ibu kota Kazakhstan.

Namun, pada 1997 pemerintah negeri itu memindahkan ibu kota ke Astana, sebuah kota modern baru di sebelah utara Almaty.

Pemindahan dilakukan lantaran Almaty dianggap terlalu sempit, rawan gempa, serta berlokasi terlalu dekat dengan perbatasan negara lain.

Seperti Brasilia, Astana dibangun dari nol meski sejak 1830 keberadaan kota ini sudah ada sebagai lokasi benteng pasukan Kosak dengan nama Akmoly.

Pada 1832, permukiman militer itu kemudian mendapatkan status kota dan berganti nama menjadi Akmolinks.

Pada 20 Maret 1961, kota itu kembali berganti nama menjadi Tselinograd. Nama ini kembali berganti pada 1992 menjadi Akmola yang kemudian menjadi ibu kota Kazakhstan pada 10 Desember 1997.

Selanjutnya pada 6 Mei 1998, Akmola diubah menjadi Astana seiring dengan pembangunan jaringan kota modern yang dilakukan pemerintah Kazakhstan.

Mirip seperti Jakarta yang dulunya pernah bernama Jayakarta dan Batavia.

  1. Belmopan (Belize)

Belmopan yang berpenduduk hanya 16.458 jiwa (2010) merupakan ibu kota dengan penduduk paling sedikit di Amerika Utara.

Namun, di Belize, Belmopan adalah kota terpadat setelah Belize City dan San Ignacio.

Berdiri pada 1970, Belmopan adalah salah satu ibu kota paling muda di dunia. Sejak 2000, Belmopan adalah permukiman kedua di Belize yang mendapatkan status kota selain Belize City.

Belmopan berada di ketinggian 75 meter dari permukaan laut dan berjarak 80 kilometer ke pedalaman dari ibu kota lama Belize City.

Kota ini dipilih menjadi ibu kota baru setelah Belize City hancur akibat diterjang badai Hattie pada 1961.

Posisi Belize City yang dianggap terlalu rawan bencana menjadi alasan utama pemindahan ibu kota sedikit lebih jauh ke pedalaman.

  1. Dodoma (Tanzania)

Pada 1973, pemerintah Tanzania mulai memindahkan ibu kotanya dari kota pesisir Dar es Salaam ke Dodoma yang berad di pedalaman.

Namun hingga beberapa dekade setelahnya, pemindahan ibu kota ini belum kunjung berakhir.

Pasalnya, gedung dewan nasional berada di Dodoma, sementara sebagian besar kementerian dan kedutaan besar masih bertahan di Dar es Salaam.

Saat pemerintah Tanzania memutuskan ingin membangun ibu kota baru, maka arsites asal AS James Rossant mendapatkan tugas tersebut.

Dengan disponsori AS, James Rossant mengembangkan rencana utama ibu kota baru Tanzania pada 1986.

Di bawah arahan Julius Nyerere, presiden Tanzania saat itu, diharapkan Dodoma bisa menggantikan Dar es Salaam yang di masa lalu dikenal sebagai pasar budak.

Kota itu dirancang seluas 1.000 hektare, sayangnya berbagai rencana pembangunan tak membuahkan hasil dan pemindahan ibu kota ke Dodoma masih dalam proses sampai sekarang.

  1. Yamoussoukro (Pantai Gading)

Pada 1983, Yamossoukro ditetapkan menjadi ibu kota baru Pantai Gading menggantikan Abidjan.

Pemindahan ini dilakukan di masa pemerintahan Presiden Felix Houphouet-Boigny yang ingin mendongkrak pembangunan di wilayah tengah negeri itu.

Yamossoukro menjadi ibu kota keempat Pantai Gading dalam satu abad terakhir setelah Grand-Bassam (1893), Bingerville (1900), dan Abidjan (1933).

Namun, sebagian besar kegiatan perekonomian, instansi pemeritahan, dan kantor-kantor kedutaan asing masih bertahan di Abidjan.

  1. Naypyidaw (Myanmar)

Kota yang terletak 320 kilometer sebelah utara Yangoon ini resmi menjadi ibu kota administratif Myanmar pada 6 November 2005, yang saat itu barulah sebuah lokasi baru yang belum memiliki nama resmi.

Nama Naypyidaw secara resmi diumumkan pada 27 Maret 2006, tepat di hari ulang tahun angkatan bersenjata Myanmar.

Sejak pengumuman itulah pemerintah Myanmar secara resmi memindahkan ibu kotanya ke Naypyidaw, meski pembangunan kota itu baru benar-benar selesai pada 2012.

Sejauh ini tak diketahui alasan pasti pemindahan ibu kota Myanmar tersebut. Harian The Guardian menyebut kota ini sebagai proyek mercu suar pemimpin junta militer Than Shwe.

Yang jelas, letak Naypyidaw relatif berada di tengah-tengah Myanmar sehingga mudah menjangkau wilayah lain seperti negara bagian Shan, Kayah, dan Kayin.

Diyakini, jika pemerintah militer berposisi di tempat itu, maka akan dengan mudah menangani pemberontakan di ketiga negara bagian tersebut.

Namun, pernyataan resmi soal pemindahan ini disebabkan Yangoon, ibu kota lama, sudah terlalu padat dan terlalu sempit untuk ekspansi di masa datang.

  1. Islamabad (Pakistan)

Pada 1959, pemerintah Pakistan memutuskan untuk memindahkan ibu kotanya dari Karachi di wilayah selatan ke Islamabad di sisi utara negeri itu.

Islamabad sendiri baru mulai dibangun pada 1961. Sesuai master plan, kota ini terbagi atas delapan zona yaitu administrasi, diplomatik, permukiman, pendidikan, industri, perdagangan, serta daerah pedesaan dan ruang terbuka hijau.

Kota ini kini terkenal dengan sejumlah taman dan hutan kota yang indah termasuk Taman Nasional Margala Hills dan Taman Shakarparian.

Islamabad sudah masuk kategori kota global dan memiliki indeks pengembangan manusia tertinggi di Pakistan.

Kota ini juga menjadi kota paling mahal di Pakistan dnegan penduduk sebagian besar berstatus ekonomi warga menengah ke atas.

Islamabad juga merupakan kota teraman di Pakistan dengan sistem pengawasan yang mengandalkan 1.900 kamera CCTV di berbagai penjuru kota.

Palangka Raya

Bung Karno sebagai Presiden pertama RI sangatlah mengerti tata ruang kota dan tata ruang wilayah geopolitik. Sebagai insinyur, ia sendiri sudah pernah mendesain seluruh wilayah Indonesia dengan bagian-bagian pembangunannya. Hal ini menjadi satu bagian dari dokumen Deklarasi Ekonomi Djuanda 1960.

Dulu, selain Irian dan Kota Bandung, yang menjadi perhatian Bung Karno adalah Kalimantan, lantaran dianggap ideal sebagai sumber pangan, air dan lokasi pertahanan nasional yang tepat.

Bung Karno meletakkan pusat pelabuhan dagang di sepanjang pesisir Sumatera Utara- Kalimantan-Sulawesi, bukan di Pulau Jawa. Soekarno juga mempersiapkan rangkaian pelabuhan yang disebutnya sebagai “Zona Tapal Kuda”. Wilayah Jawa dan Bali dijadikan pusat lumbung pangan.

Baca juga: Soekarno Memulai, Akankah Jokowi Berani Pindahkan Ibu Kota?

Kota-kota baru dibangun, pilot project-nya adalah Palangka Raya dan Sampit, setelah itu Djakarta juga dibangun untuk display ruang atau model kota modern. Belakangan Jakarta dijadikan pusat kota jasa Internasional, sementara Palangka Raya menjadi pusat pemerintahan dan pertahanan militer udara, Biak di Irian Barat jadi pertahanan militer laut dan Bandung jadi Pusat Pertahanan militer darat.

Karena Soekarno dikenal sebagai pribadi visioner dan ambisius, pembangunan tata ruang Kota Palangka Raya dulu diatur dengan amat teliti, sampai sekarang tata ruang kota Palangkaraya dikatakan merupakan yang paling rapi di Indonesia.