Mengkungkap Kisah Dibalik Tusuk Konde Mendiang Ibu Tien dan "Kejatuhan" Soeharto, di Era Reformasi


SURATKABAR.ID Raden Ayu Fatima Siti Hartinah Soeharto atau akrab disapa Ibu Tien Soeharto memang terlihat ramah dan bersahaja. Dia selalu tampil menggunakan kebaya dan rambutnya kerap disanggul atau dikonde.

Namun ternyata ada cerita berbau mistis yang beredar di masyarakat, terkait tatanan rambut Tien. Dalam buku ‘Dunia Spiritual Soeharto’ karya Arwan Tuti Artha via laman Otonomi, Ibu Tien diibaratkan sebagai endog (telur) jagadnya orde baru.

Wanita kelahiran Desa Jaten, Surakarta, Jawa Tengah pada 23 Agustus 1923 itu disebut-sebut merupakan sumber kekuatan terbesar Soeharto, untuk bisa menjaga  nusantara.

Ibu Tien secara genetik memang memiliki garis keturunan raja-raja dan sanggul merupakan tatanan generasi kerajaan Jawa yang penuh makna.

Konon agar Soeharto tetap menjadi orang nomor satu di Indonesia dan mampu menjaga stabilitas negara, diketahui  salah satu kekuatannya ada pada tusuk konde  Ibu Tien. Jadi, selama Ibu Tien menggunakan tusuk konde itu, wibawa dan kekuasaan Soeharto tetap terjaga dengan baik.

Namun setelah meninggalnya Ibu Tien pada 28 April 1996, tusuk konde itu santer kabarnya tiba-tiba menghilang. Banyak yang berpendapat, hilangnya tusuk konde tersebut maka legitimitasi penguasa tunggal orde baru itu juga hilang.

Bahkan saat itu kencang  terdengar bahwa penasihat spiritual Soeharto mengatakan bahwa dia harus segera mengumumkan mundur dari jabatannya. Secara tidak langsung, hal itu merupakan ‘aturan’ tak tertulis dan menjadi syarat dari penjaga tusuk konde.

Banyak penasihat spiritual Soeharto berpendapat, tusuk konde  Ibu Tien tidak menghilang, melainkan kembali ke petilasan pertapaan panembahan Senopati yang dikenal dengan nama Banglampir di Gunung Lanang, Desa Blimbing, Kelurahan Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, Jawa Tengah.

Banglampir sendiri merupakan tempat yang dikeramatkan, karena dipercaya sebagai tempat wahyu keraton untuk Panembahan Senopati sebelum menjadi raja di Kerajaan Mataram. Setelah mendapatkan wahyu di tempat tersebut, Panembahan Senopati akhirnya berhasil menjadi pemimpin Kerajaan Mataram.

Lalu apa yang terjadi pada Soeharto, ketika tusuk konde itu menghilang? Penasihat spiritual menegaskan kalau Soeharto harus mundur dari jabatannya, kalau tidak akan berdampak pada dirinya sendiri.

Laman Boombastis menginformasikan, lantaran masih ingin menjabat, berbagai hal menimpa Indonesia. Sepeninggal Tien atau pada 1997, Indonesia dihantam krisis finansial dan multi-dimensional yang memunculkan pergolakan dari berbagai daerah di Tanah Air.

Pada tahun 1998, saat Ketua MPR Harmoko melakukan pengangkatan dan pelantikan kepada Soeharto untuk sekali lagi menjabat sebagai Presiden Indonesia, gelombang unjuk rasa terus membesar yang akhirnya membuat pria yang memiliki julukan ‘Bapak Pembangunan’ tersebut memutuskan untuk mundur dari jabatannya.

  http://credit-n.ru/zaymyi-next.html


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaTerungkap! Simbol Pada Produk Make Up Ini Ternyata . . .
Berita berikutnyaWow! Demi Pilkada DKI Jakarta, Partai Demokrat Sampai Ultimatum Begini ke Pemerintah