Kasihan! Baru 2 Pekan Kerja di Malaysia, Suyati Disiksa Majikannya


    suyanti

    SURATKABAR.ID Kasus penganiyayaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kembali terjadi. Suyanti (19 tahun) mengalami kekerasan oleh majikannya. Melihat kondisi Suyanti, Direktur Eksekutif Lembaga Swadaya Masyarakat Migrant Care, Anis Hidayah meminta pemerintah untuk segera mengatasinya.

    Suyanti ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri di Jalan PJU 3/10 Mutiara Damansara oleh pihal Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Malaysia. Melihat kondisi Suyanti yang sudah dalam keadaan lemah, para petugas segera membawa Suyanti ke Rumah Sakit  Pusat Perubatan Universiti Malaysia (RS PPUM) agar mendapatkan perawatan yang insentif.

    Usaha KBRI dalam melindungi WNI di negara asing tidak berhenti sampai disitu, KBRI melaporkan kejadian yang tidak menyenangkan tersebut ke polisi setempat. Kepolisian Malaysi berhasil menahan majikan Suyanti.

    Namun sayangnya, pada tanggal 25 Desember 2016, majikan Suyanti sudah bebas dengan jaminan.

    Seperti yang dilansir dari tempo.com, Anis bercerita bahwa Suyanti masuk ke Malaysia pada tanggal 7 Desember 2016 melalui Tanjung Balai-Port Klang. Setiba di Port Klang, Suyanti dijemput oleh salah satu pegawai agen bernama Ruby. Ruby mengatnar Suyanti ke majikannya yang merupakan keturunan Melayu.

    Seminggu setelah Suyanti bekerja dengan majikannya, ia disiksa dan mengalami kekerasan fisik. Suyanti juga sempat diancam dengan menggunakan pisau besar oleh majikannya dan hal ini membuat Suyanti tidak tahan lagi dan akhirnya ia memutuskan untuk melarikan diri.

    Anis berpendapat, kasus penganiyaan buruh migran Indonesia menunjukkan bahwa hukum perlindungan buruh migran masih lemah. Antar kedua negara tidak memiliki komitmen yang kuat untuk mengimplementasikan hukum tersebut.

    Maka dari itu, Anis meminta pemerintah agar segera mengirimkan surat kepada Pemerintah Malaysi agar mengusut kasus ini secara adil. Anis pun berharap agar majikan Anis mendapatkan hukuman seberat-beratnya.

    “Kami minta pemerintah memberi jaminan kompensasi dan rehabilitasi atas penganiayaan yang dialami korban,” ucap dia. “Kemudian meninjau kebijakan bilateral antara pemerintah Malaysia dan Indonesia tentang perlindungan buruh migran.”