Bikin Postingan Provokatif Bernada SARA, Residivis Pemilik Akun FB Antonio Banerra Ungkap Soal Kerusuhan 1998


SURATKABAR.ID – Pemilik akun Facebook Antonio Banerra, Arif Kurniawan, yang menyebarkan ujaran kebencian bernada SARA serta mencatut nama Jawa Pos National Network (JPNN), akhirnya dibekuk. Dari hasil pemeriksaan, terkuak alasan pelaku memposting unggahan berisi ujaran kebencian.

Seperti yang dilansir dari laman JPNN.com pada Senin (8/4/2019), Arif mengaku masih sangat membekas di ingatannya tentang kerusuhan Mei 1998. Ketika peristiwa terjadi, ia menyebut, beberapa keluarganya menjadi korban. Bahkan ada yang sampai harus meregang nyawa.

Hal tersebutlah yang menyebabkan pria kelahiran Surabaya tahun 1983 ini nekat membuat postingan provokatif bernuansa SARA. Ia kemudian mengunggah postingan tersebut melalui akun Facebook Antonio Banerra. Lantaran perbuatannya, Arif harus berhadapan dengan penyidik Polda Jawa Timur.

Kabid Humas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera memastikan bahwa pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Arif dijerat dengan Pasal 28 Ayat 2 UU ITE yang secara spesifik mengatur tentang ujaran kebencian berbau SARA.

“Ancaman hukumannya di atas lima tahun, jadi bisa langsung dilakukan penahanan,” ujar Kombespol Frans Barung Mangera, Minggu (7/4).

Baca Juga: Sebut Prabowo Ogah Ladeni Tantangan Wiranto untuk Sumpah Pocong, BPN: Lebih Baik Lewat Forum

Lebih lanjut Barung mengungkapkan, postingan tersangka membawa pesan. Arif berharap agar tidak ada kerusuhan seperti yang terjadi pada Mei 1998. Pasalnya, jika kerusuhan Mei 1998 terulang dan pecah, salah satu etnis tertentu akan menjadi target penjarahan, perampokan, hinggapemerkosaan.

“Karena itu, ini menjadi atensi kita,” tutur Frans.

Sementara itu PS Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Cecep Susatya menyebut istri tersangka Arif Kurniawan juga sempat diamankan pada Sabtu (6/4) malam. Namun karena dianggap tidak memiliki kaitan dengan perkara tersebut, istri tersangka sudah dipulangkan.

“Istrinya tidak mengetahui terkait tulisan tersangka di Facebook,” sebut AKBP Cecep Susatya.

Berdasarkan hasil penyelidikan, Arif baru beraksi membuat postingan semacam itu pada Maret. Sementara akun Facebook yang dipakainya sudah aktif sejak tahun 2015. Tersangka sempat menggunakan nama akun lain, yakni Gatot Kaca.

Sebelumnya, akun Facebook Antonio Banerra tak pernah mengunggah tulisan berkaitan dengan ujaran kebencian. Terlebih sampai menyinggung masalah SARA. Aksi tersebut baru-baru ini saja dilakukan Arif. “Tapi bermainnya hanya di Facebook saja,” ujar Cecep.

Cecep menyampaikan, bukan kali ini saja tersangkut masalah hukum. Arif disebut merupakan mantan residivis terkait aksi perampasan pada 10 tahun lalu. “Dia ini residivis,” jelas Cecep yang tak memberikan informasi mendetail tentang kasus yang dihadapi tersangka.

Di hadapan polisi, Arif mengaku postingan tersebut dibuat tanpa ada yang mempengaruhi. Termasuk ketika ia mencatut nama Jawa Pos National Network (JPNN) yang disebutnya sebagai perusahaan tempat ia bekerja. Terkait pemilihan nama JPNN, ia mengaku hanya asal saja.

Sejatinya, postingan berisi ujaran kebencian bernada SARA ini dibuat Arif dengan tujuan tertentu. Ia menyampaikan, jika Calon Presiden nomor urut 02 terpilih, bukan tidak mungkin peristiwa seperti Kerusuhan Mei 1998 kembali meletus.

“Itu pesan yang ingin disampaikan,” ujar Ditreskrimsus Polda Jatim Kombespol Akhmad Yusep Gunawan.

Yusep menilai tersangka menyimpan trauma berat lantaran kejadian di masa lalu, mengingat beberapa kerabatnya di Surabaya ikut menjadi korban. Bahkan termasuk kedua orangtuanya. Arif mengaku ada saudaranya yang sampai meninggal dunia serta menjadi korbanpemerkosaan.

Peristiwa tersebut, disebut Yusep, seolah menjadi mimpi buruk tersangka. Ingatan kelam selalu mengganggu pikirannya. Pasalnya, ternyata tersangka mengaku ketika masih berusia 15 tahun ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kejamnya peristiwa tersebut.

Tentang kemungkinan tersangka merupakan tim sukses dari calon tertentu, Yusep menegaskan belum bisa memberi kepastian. Namun yang jelas, dari pengakuannya kepada aparat, tersangka menyebut dirinya tak pernah bersinggungan dengan politik, baik partainya maupun calon yang diusung.

“Jadi (postingan SARA) murni dari pikirannya sendiri,” jelas Yusep.

Yusep kemudian mengatakan tersangka sebelumnya bekerja sebagai marketing di salah satu perusahaan TV kabel. “Tersangka baru dipecat pada Januari kemarin. Saat ini, dia mengaku sibuk makelaran kucing jenis Persia dan angora,” ujarnya.

Sementara itu, terkait motif tersangka, Yusep menyatakan pihaknya akan melakukan pendalaman terlebih dahulu. Alasan peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang disebutkan tersangka akan menjadi informasi awal untuk selanjutnya dikembangkan. “Kita terus melakukan pendalaman karena ini menjadi antensi kepolisian,” jelas Yusep.