Hotman Paris: Boeing Akan Dituntut 10 Juta Dolar AS Per Penumpang


SURATKABAR.IDHotman Paris Hutapea mengklaim dirinya siap mengawal keluarga penumpang Lion Air JT-610 yang berkeras menuntut perusahaan Boeing. Menurut Hotman yang berprofesi sebagai pengacara ini, ia akan mengawal kasus tersebut dengan melibatkan firma hukum Ribbeck Law Firm dari Amerika Serikat. Bahkan, ia memastikan pihak Boeing akan dituntut 10 juta dolar AS per penumpang.

“5-10 juta dolar AS per penumpang,” ujar Hotman Paris Hutapea di Kopi Johny Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (29/11/2018), demikian dilansir dari laporan CNNIndonesia.com. Jika dirupiahkan, 10 juta dolar AS setara dengan Rp 143 milar, dengan kurs 1 dolar setara Rp 14.300.

Menurut Hotman, angka tersebut dibulatkan berdasarkan rata-rata kasus yang dibawa Emanuel Van Riebbeck, sang pengacara AS, dalam kasus kelalaian pabrik pesawat di Eropa.

Hotman memahami, ada ketentuan yang menyatakan keluarga korban tidak dapat menuntut The Boeing Company ke pengadilan di Amerika Serikat melalui hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Sebelumnya, Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo menuturkan hasil penyelidikan KNTK tak bisa dipakai di pengadilan.

Baca juga: Jasa Raharja Beri Santunan Total Rp 4,9 Miliar Untuk Keluarga Korban Lion Air

“Namun tugas dari pengacara adalah membuktikan ke depan hakim siapa yang bertanggung jawab atas kecelakaan itu dan hakim tidak terikat dengan opini siapa pun, termasuk KNKT,” ungkap Hotman.

Firma hukum Ribbeck Law Firm yang berkedudukan di Chicago AS sepakat akan membantu keluarga korban Lion Air JT601 dan tidak dipungut biaya apapun.

“Kami (Ribbeck Law Firm) menyarankan agar seluruh keluarga korban dapat bersatu. Jika semuanya bersatu maka kita akan semakin kuat,” tandas Ribbeck kepada para wartawan, Kamis (29/11/2018).

Lalu, jika di akhir investigasi hasil menunjukkan terdapat kelalaian dari pihak Lion Air, Rebbeck dan tim juga akan menuntut maskapai Lion Air. Lion Air juga wajib memberikan santunan total Rp 1,3 miliar, lantaran saat ini para keluarga korban baru menerima uang tunggu sebesar Rp 6 juta dan uang kematian sebesar Rp 25 juta.

Pihak keluarga penumpang memahami ada imbauan pihak Lion Air mengirimkan surat edaran kepada seluruh keluarga korban untuk tak menggugat pihaknya. Hal itu dibenarkan oleh Ramli Abdullah, mertua korban penumpang Lion Air JT601 atas nama Dollar.

“Ya, itu surat edaran sudah sampai di anak saya tetapi saya sudah bicara ke anak saya jangan taken apapun dan jangan terima,” tuturnya kemudian.

Dikonfirmasi secara terpisah, Humas Lion Air Danang Mandala belum bisa memastikan kebenarannya.

“Saya belum bisa kasih statement. Nanti saya kroscek dulu,” kata Danang saat dihubungi hari ini.

Sebelumnya, mengutip laporan TribunWow.com, keluarga korban jatuhnya Lion Air JT 610 PKLQP mulai mendatangi pengacara Hotman Paris Hutapea di Kopi Johny, Kamis (29/11/2018) pagi tadi.

Kedatangan mereka merupakan ajakan dari Hotman untuk membantu menggugat para pihak yang bertanggungjawab atas jatuhnya Lion Air sehingga keluarga mereka menjadi korban.

Melansir Instagram @hotmanparisofficial, satu keluarga yang anaknya turut menjadi korban datang untuk melapor dan meminta bantuan pada Hotman. Selain meminta bantuan pada Hotman, mereka ingin pengacara dari Amerika turut membantu mereka menggugat Boeing.

“Inilah keluarga korban yang sekarang datang ke Kopi Johny terkait pertemuan dengan pengacara dari Amerika,” ungkap Hotman dalam video tersebut.

“Ini ibu yang putrinya pramugari, siapa nama putrinya Bu?,” tambahnya.

“Shintia Melina,” kata wanita berbaju hijau di dalam video.

Lalu, Hotman menerangkan bahwa ada ancaman yang diberikan pada keluarga korban untuk tidak menuntut di negara manapun.

“Menurut informasi, para keluarga korban ini sudah dihubungi oleh oknum-oknum dari perusahaan penerbangan akan memberikan santunan yang jumlahnya relatif kecil sesuai peraturan tapi dengan syarat tidak boleh mengajukan gugatan tuntutan di negara manapun termasuk di Indonesia,” beber Hotman.

Hotman lalu menjelaskan, padahal menurut Menteri Perhubungan, santunan dalam kecelakaan ringan pun wajib dibayarkan.

“Padahal santunan yang menurut Menteri Perhubungan itu kan dalam keadaan kecelakaan normal pun wajib bayar termasuk misalnya karena tersambar halilintar pun itu harus bayar,” tandas Hotman.

Sementara itu, diberitakan sebelumnya, Hotman Paris telah mendatangkan pengacara dari Amerika untuk membantu keluarga korban Lion Air.

Hotman Paris meminta keluarga korban untuk secara langsung menghubunginya jika ingin melakukan penuntutan kepada Boeing.

“Halo keluarga korban Pesawat Lion Air, sebagaimana janji saya di Kopi Johny kepada empat keluarga yang datang ke Kopi Johny,” tutur Hotman, Selasa (27/11/2018).

“Di sini sudah datang pengacara dari Amerika yang siap menggugat Boeing di Amerika, dan sudah ada di Jakarta. Kami sekarang lagi rapat di Jakarta. Bagi para keluarga yang memang berminat menggugat Boeing di Amerika, agar menghubungi saya. Agar saya perkenalkan dengan para pengacara di Amerika. Dan satu sekarang sudah ada di depan saya. Salam Kopi Johny,” papar Hotman Paris Hutapea.

Sebelumnya, pengacara kondang tersebut juga mengatakan bahwa keluarga korban berhak menuntut ganti rugi kepada pihak maskapai dan pembuat pesawat.

View this post on Instagram

Hidup Kopi joni! Berjuang di warung kursi lapuk

A post shared by Dr. Hotman Paris Hutapea SH MH (@hotmanparisofficial) on

Dalam unggahan lain di Instagram miliknya, ia menilai korban berhak menuntut jika kecelakaan terjadi lantaran kesalahan, human error, cacat tersembunyi atau pesawat yang tetap dipaksakan terbang meskipun sudah tahu terdapat masalah.

“Masyarakat Indonesia harus tahu bahwa keluarga korban kecelakaan pesawat berhak menuntut ganti rugi sebesar-besarnya diluar jumlah pertanggungan atau jumlah klaim yang telah biasanya diatur dalam undang-undang,” sebut Hotman kemudian.

Ia juga membandingkan masyarakat Indonesia yang terlalu cepat puas jika mendapat ganti rugi ratusan juta Rupiah. Hal itu jauh jika dibandingkan dengan negara Amerika Serikat yang menilai nyawa korban hingga triliunan Rupiah.

“Di Amerika nyawa [diganti dengan santunan] triliunan Rupiah per penumpang kalau terjadi human error, atau ignorance, atau kesalahan, selamat berjuang,” pungkasnya pada unggahan hotmanparisofficial, Rabu (31/10/2018) lalu.