Sebut Jokowi Tidak Becus Tangani Kasus HAM, Tim Prabowo: Penampilan Dia Sipil Tapi Ternyata…


SURATKABAR.ID – Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ferry Juliantono buka suara menanggapi kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia menilai Jokowi tidak becus dalam menangani kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat dari masa lalu.

Ferry, dilansir dari CNNIndonesia.com pada Jumat (19/10/2018), mengaku pesimis Jokowi dapat menepati janji menangani kasus-kasus HAM yang masih menggunung. Padahal semua itu merupakan bagian dari janji Nawacita pasangan Jokowi-Jusuf Kalla di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu.

Selain tak piawai dalam menangani kasus pelanggaran HAM saja. Ferry juga menyebut bahwa rezim Jokowi ikut terlibat dalam sejumlah kasus dugaan pelanggaran HAM. Seperti kriminalisasi dan intimidasi terhadap ulama serta para aktivis. Menurutnya, masyarakat Indonesia selama ini telah tertipu dengan penampilan Jokowi.

“Kita pikir masyarakat tertipu. Penampilan dia sipil, tapi ternyata dia banyak melakukan itu juga. Kriminalisasi, intimidasi, pelanggaran HAM juga,” ujar Ferry saat dimintai konfirmasi lebih lanjut, pada Jumat (19/10).

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini tak lupa memberikan contoh kasus pembacokan ahli IT Hermansyah. Contoh lainnya, disebutkan Ferry, berupa kasus penyiraman air keras yang dialami penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Masa kepemimpinan Jokowi sendiri akan genap memasuki usia 4 tahun pada 20 Oktober 2018 mendatang. Namun diketahui masih sangat banyak janji yang dituangkan dalam program Nawacita pada Pilpres 2014 yang belum terwujud.

Baca Juga: Belum Ada Perkembangan, Ini 8 Kasus Pelanggaran HAM Berat yang Harus Diselesaikan Jokowi

Dari sekian banyak poin yang diikrarkan Jokowi melalui Nawacita, adalah memastikan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu tuntas. Dalam janjinya tersebut, Jokowi bahkan menyebut kasus-kasus yang akan ia selesaikan selama menduduki kursi kepresidenan.

Mengingat tak banyak waktu lagi yang tersisa, Ferry semakin skeptis kasus pelanggaran HAM masa lalu dapat dirampungkan seperti janji yang dilontarkan oleh Jokowi. “Sudah enggak mungkin. Sudah enggak ada waktu lagi,” tukas Ferry.

Sebelumnya diberitakan, Staf Bidang Pemantauan Impunitas Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Dimas Bagus Arya telah mengatakan bahwa dalam 4 tahun masa pemerintahannya, Jokowi-JK dianggap gagal memenuhi janji Nawacita.

Dimas menilai, janji Jokowi menyelesaikan 7 kasus pelanggaran HAM berat hanyalah sebatas retorika yang tak dibarengi dengan tindakan konkret di tingkat kementerian terkait. “Dari perspektif pelanggaran HAM masa lalu, janji itu sangat tidak ditepati atau pemerintah belum berhasil untuk merealisasikan janji politiknya,” seloroh Dimas pada Selasa (16/10) lalu.

Juru Bicara Presiden Johan Budi angkat bicara menanggapi hal tersebut. Ia menegaskan bahwa Jokowi tidak mengabaikan penanganan kasus-kasus HAM, khususnya penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

“Yang pasti, Presiden tidak abai atas kasus ini. Kalau tidak salah lebih dari dua kali Presiden memanggil Kapolri dan menyampaikan ada progres dalam penyelidikan penyiraman Novel. Progres itu ada, jangan dibilang tidak ada,” jelas mantan Juru Bicara KPK tersebut.

Jika kemudian Polri belum juga berhasil mengungkap siapa dalang di balik kasus tersebut, menurut Johan, hal tersebut tidak dapat semerta-merta dibebankan kepada Presiden. “Tanya ke Kapolri, permasalahannya apa? Polri pasti punya jawaban kasus Novel. Apakah kesulitan penyidikan atau yang lain. Itu porsi Kapolri,” tandas Johan.