WNI Diduga Berafiliasi dengan ISIS Lancarkan Serangan Bom Mobil, Sasarannya Pos Keamanan Militer


SURATKABAR.ID – Seorang warga negara Indonesia (WNI) diduga turut terlibat dalam aksi serangan bom mobil yang meledak tak jauh dari pos keamanan militer di Lamitan, Basilan, Filipina Selatan, pada Selasa (31/7) pagi, waktu setempat.

Insiden tersebut, seperti dilansir dari laman CNNIndonesia.com, pada Selasa (31/7/2018), diduga didalangi kelompok yang berafiliasi dengan kelompok jihadis Islamic State Irak and Syria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah.

Akibat insiden yang terjadi sekitar pukul 05.45 waktu setempat tersebut, sedikitnya 10 orang tewas dan lima lainnya mengalami luka-luka. Salah satu korban tewas, seperti yang dilaporkan Manila Buletin, berkebangsaan Indonesia, yakni sopir yang mengendarai mobil dengan muatan bahan peledak tersebut.

Selain itu, korban tewas datang dari warga sipil Kopral Samad M Jumah, beserta empat anggota Angkatan Bersenjata Sipil Unit Geografis (CAFGU), yakni Muid Manda, Adzlan Abdula, Titing Omar, dan Hermilito Gapo Jr.

Dalam laporan lanjutan, Komandan Satuan Gabungan Basilan Kolonel Fernando Reyeg mengungkapkan seorang personelnya turut kehilangan nyawanya ketika memeriksa kendaraan yang terlihat mencurigakan tersebut.

Baca Juga: Polisi Tangkap 242 Orang Terduga Teroris Aksi Bom Bundir Surabaya

Reyeg mengungkapkan otoritas mencurigai insiden sebagai serangan bom binuh diri. Namun, aparat Filipina belum mengeluarkan keterangan resmi terkait identitas pelaku serangan. Reyeg menuturkan pasukannya segera meningkatkan kesiagaan guna mengantisipasi insiden serupa kembali terulang.

Terkait insiden tersebut, Kementerian Luar Negeri RI mengaku pihaknya belum bisa memberikan konfirmasi dugaan keterlibatan WNI dalam aksi serangan tersebut. Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kementerian Luar Negeri RI Lalu Muhammad Iqbal melalui pesan singkat mengatakan, “Kami cek, ya,” seperti yang dikutip dari CNNIndonesia.com.

Meski selama ini sejumlah kelompok pemberontak kerap melancarkan aksi terorisme di bagian selatan Filipina, yang merupakan basis kelompok separatis Abu Syyaf, namun serangan bom dengan mobil sebenarnya sangat jarang terjadi di negara tersebut.

“Kami tidak tahu targetnya apa, tapi bom itu meledak terlalu dini,” tutur komandan keamanan di daerah lokasi kejadian, Mon Almodovar, mengungkapkan bahwa sejatinya mobil dengan muatan bahan peledak tersebut belum tiba di lokasi sasaran, namun keburu meledak.