Blak-Blakan! Usai Pilkada Serentak, Amien Rais Makin Jumawa Ganti Presiden


SURATKABAR.ID – Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais terang-terangan buka suara menanggapi pemilihan kepala daerah (Pilkada) Serentak 2018 yang baru saja digelar pada Rabu (27/6) kemarin.

Amien Rais, seperti yang dilansir dari laman CNNIndonesia.com, Jumat (29/6/2018), mengungkapkan dari hasil pilkada tersebut semakin jelas terlihat begitu banyak pihak yang awalnya percaya diri, namun pada akhirnya harus menelan kekecewaan pahit dengan hasil akhirnya.

“Ada partai yang sudah tinggi sekali, tapi di mana-mana kalah. Itu pun kalo dihitung kembali tidak sesuai yang disampaikan,” ujar Amien di sela-sela acara halal bi halal yang digelar di Universitas Bung Karno, Jakarta Pusat pada Jumat (29/6), dikutip dari CNNIndonesia.com.

Usai digelarnya pilkada serentak, Amien menarik kesimpulan bahwa peluang untuk mengganti presiden dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang semakin terbuka lebar. Terlebih lagi, tambahnya, melihat pemberitaan di media massa beberapa hari belakangan.

“Lihat pilkada kemarin ganti presiden makin terbuka. Pemerintah makin tidak kuat, berpikir ngawur. Ini kata ibu saya dulu, buku yang ambruk berserakan,” imbuh pria yang pernah memegang jabatan sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1999-2004 tersebut.

Baca Juga: Kantongi 40 Persen, Sudirman Bongkar Banyak Kecurangan dalam Proses Pilkada

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menilai, jika seorang pemimpin sudah ambruk, maka dapat dipastikan ia akan mudah melakukan kesalahan, kekeliruan, bahkan blunder, baik dalam skala besar maupun kecil.

Kemungkinan Poros Ketiga

Terkait hasil sementara quick count sejumlah lembaga survei pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) Serentak 2018 di 171 daerah, terkuak hal yang cukup mengejutkan. Pasalnya, sejumlah partai besar justru keok dan menduduki posisi paling bungsu.

Sementara itu, partai-partai ‘kelas menengah’ malah bisa dikatakan sukses mendulang angka maksimal. Khusus untuk kategori Pemilihan Gubernur di 17 provinsi, Partai Amanat Nasional dan Partai Nasional Demokrat sendiri berdiri di puncak dengan persentase kemenangan 58,8 persen.

Demikian juga dengan Partai Hanura dan Golkar. Keduanya sama-sama mengantongi 52,9 persen. Sedangkan partai koalisi lainnya, yakni PPP meraih 41,2 persen dan PKB sebesar 35,3 persen. Pada posisi paling akhir, ada PDI P yang mengusung Joko Widodo (Jokowi), dengan 23 persen.

Hasil tak kalah buruknya dialami Gerindra selaku partai politik oposisi pemerintah. Partai yang diketuai Prabowo Subianto hanya mampu mendapatkan 17,6 persen. Sedangkan PKS jauh lebih baik dengan hasil 41,2 persen.

Menanggapi Pilkada Serentak 2018, Pengamat Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun mengungkapkan hasil tersebut mencerminkan kehendak masyarakat luas dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang.

Ia menilai bahwa, masyarakat menginginkan adanya perubahan dan sosok pemimpin baru. “Masyarakat juga mulai sedikit berpikir alternatif bisa jadi tidak Prabowo Subianto dan juga mereka menolak Jokowi. Ada suatu keinginan untuk itu,” tutur Ubedilah pada Kamis (28/6).

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, keseluruhan hasil dari pilkada kali ini sangat mungkin dapat merubah peta politik dan koalisi dalam Pemilu dan Pemilihan Presiden 2019. “Kemungkinan perubahannya bakal ada poros ketiga yang ditentukan oleh partai menengah,” ujarnya.