Kantongi 40 Persen, Sudirman Bongkar Banyak Kecurangan dalam Proses Pilkada


SURATKABAR.ID – Calon Gubernur Jawa Tengah nomor urut 2 Sudirman Said berhasil mengantongi 40 persen suara dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Serentak 2018. Namun ia menilai ada sejumlah pihak yang tak menyukai dirinya meraih suara tinggi.

Dilansir dari laman Kompas.com, pada Kamis (28/6/2018), Sudirman mengatakan, jika dirinya mendapat kesempatan untuk berkompetisi dengan sehat, bukan tidak mungkin ia bisa memenangi hajat demokrasi yang hanya digelar setiap lima tahun sekali tersebut.

“40 persen ini mengejutkan dan kita syukuri itu. Tapi ada yang tidak rela saya mendapat hasil itu, dan potensi menang itu ada jika diberi kesempatan yang sama,” tutur Sudirman dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis (28/6), seperti dikutip dari laman Kompas.com.

Ia mengungkap ada banyak kecurangan yang dialami pihaknya beserta tim pemenangan dalam proses pilkada. Menurutnya, proses demokrasi bisa terancam dengan maraknya tindakan-tindakan pidana yang dilancarkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Sudirman mengaku bahwa dirinya mengalami sendiri ketika timnya terancam bakal kehilangan nyawa. Pada saat itu, timnya yang tengah membawa logistik pemenangan dalam perjalanan tiba-tiba ditodong senjata berapi oleh pihak lain.

Baca Juga: PKS Dipecundangi di Pilgub Jawa, Fahri Sindir Pencalonan Deddy Mizwar

“Anda haram kalau tidak menulis ini. Pilkada ini nyaris memakan korban nyawa, tim kami hampir direnggut nyawa dalam proses pemenangan,” ujar pria yang lebih akrab disapa dengan panggilan Pak Dirman ini dengan tegas.

“Seperempat rahasia saya buka, bahwa itu kejadian menjelang hari tenang. Jadi, tim kami bawa dana konsumsi saksi bergerak dari Jakarta ke Semarang. Di tengah jalan tol, disergap oleh 5 kendaraan lalu ditodong pistol,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Pak Dirman mengungkapkan bahwa kondisi para penodong senjata api tersebut tengah terpengaruh minuman beralkohol. Tim pemenangan yang saat itu tengah membawa logistik lantas digiring ke sebuah kantor dan dituduh membawa narkotika.

Uang yang akan digunakan timnya untuk membayar konsumsi saksi bahkan disebut-sebut sebagai uang yang dihasilkan dari transaksi jual beli barang haram tersebut. Tanpa bukti, tim pemenangannya dituduh sebagai Bandar narkoba.

“Tim kami dibawa ke kantor, dengan tuduhan menggunakan narkoba dan dituduh sebagai Bandar narkoba. Padahal uang yang dibawa itu, sebagian dari gadai rumah saya. Tapi hanya karena kuasa Tuhan mereka selamat,” tutur Sudirman lebih lanjut.

Kejadian tersebut nyaris membuat nyawa tim suksesnya terenggut hanya tak lama sebelum digelarnya Pilkada Serentak 2018. Namun ia mengungkapkan bahwa pihaknya tak tahu menahu tentang siapa dalang di balik pihak-pihak tersebut.

“Entah itu siapa yang menyabot perjalanan konsumsi untuk saksi. Tolong tulis ini, ada yang mencederai Pilkada Jawa Tengah dan ada yang ingin mencederai demokrasi,” ujar pria yang berpasangan dengan Ida Fauziyah tersebut.

Menanggapi temuan tersebut, Sudirman mengaku pihaknya tengah mengkaji lebih lanjut apakah tindakan yang dialami tim pemenangannya tersebut dan bentuk-bentuk pelanggaran lainnya masuk dalam kegiatan terstruktur, sistematis, dan massif.

“Kita sedang terus kaji, bukan kami tidak menerima. Tapi kampanye hitam yang kami terima tidak direspons, lalu masih direspons dengan kasar. Demokrasi kita masih terancam dengan hal itu,” pungkas Sudirman.

Menurut data real count KPU yang dihimpun dari formulit C1, Ganjar jauh mengungguli Sudirman di puncak. Hingga data masuk mencapai 88,68 persen, Ganjar Yasin mengantongi 59,32 persen. Sementara Sudirman-Ida sukses meraih 40,68 persen.