Pengakuan Mengejutkan Sandri Sianturi, Mahasiswa Selamat KM Sinar Bangun. Sempat Raih Pelampung Tapi…


SURATKABAR.ID – Sandi Marianto Sianturi, salah satu dari sekian banyak penumpang kapal motor (KM) Sinar Bangun yang berhasil selamat dari kecelakaan maut, buka suara menceritakan suasana detik-detik kapal mulai karam.

Kesaksian Sandri, seperti yang dilansir laman Tribunnews.com pada Senin (25/6/2018) dari unggahan akun Instagram @humassumut, terekam video amatir. Mahasiswa tersebut berada di dalam kapal ketika peristiwa berlangsung.

Pemuda tersebut sebenarnya sudah mengambil pelampung, namun urung dipakai karena ditertawakan tiga kawan yang sama-sama menumpangi KM Sinar Bangun. Terlebih lagi petugas mengatakan bahwa kondisi dipastikan aman dan tak ada bahaya mengintai.

Ada kawan berempat yang tiga sudah di luar, ada kereta yang parkir di belakang, aku di situ sudah takut juga. Sudah kusiapkan pelampung dua. Tapi kutanya sama petugasnya, dia bilang aman, jadi saya mau pakai pelampung ketawa kawan saya, tenang saja. Jadi ga jadi kupakai,” ujarnya dalam video.

Sandri mengungkapkan dirinya memutuskan melihat kondisi para penumpang lainnya yang ada di atas kapal. Kejanggalan pun semakin terasa ketika ia melihat para penumpang di atas kapal tak satu pun yang merasa cemas dan ketakutan.

Baca Juga: Legenda Ikan Mas Raksasa Danau Toba dan Kecelakaan KM Sinar Bangun, Warga Beberkan Fakta Mengejutkan

“Naiklah aku ke atas, dan aku lihat kenapa tenang sekali. Terus aku tanya teman, dia bilang sudah panik semua, tapi disuruh diam,” jelas Sandri yang kemudian memutuskan untuk kembali masuk ke bagian dalam kapal.

Di dalam kapal, ia berniat kembali mengambil dua pelampung yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Namun begitu ia tiba di dalam, keseimbangan kapal mulai terganggu. Bahkan penerangan pun sudah tak lagi berfungsi.

“Kemudian turun lagi aku ke bawah untuk ambil pelampung. Saat di bawah kapal sudah oleng ke kanan dan muatan motor di kapal terbalik dan semakin berat ke arah kanan, terbaliklah kapal,” ungkapnya lebih lanjut.

Olengnya kapal membuat dirinya bersama beberapa penumpang lain terjebak di dalam Sinar Bangun. Air mulai memenuhi bagian dalam kapal. Beruntung ia sempat mengambil napas dalam-dalam sebelum kapal dipenuhi air.

“Sudah gelap semua di dalam itu terjebak. Dua kali ambil napas. Mau ambil napas lagu udah penuh semua dengan air. Saya sempat tutup mata. Sudah pasrah,” tutur Sandri yang sempat kehilangan kesadaran ketika peristiwa berlangsung.

Saat kesadarannya kembali, ia berjuang mencari jalan keluar. Dan ketika itulah ia menyadari bahwa KM Sinar Bangun sudah terbalik. “Tapi terbangun lagi, aku pegang besi dan meraba-raba untuk mendorong ke atas dan keluarlah, ternyata kapal sudah terbalik dan orang sudah banyak di atas kapal.”

Tak lama kemudian, kapal pun sepenuhnya tenggelam. Terlihat para penumpang saling meraih benda yang ada di sekitar mereka agar tidak ikut tenggelam. “Tidak selang lima menit kapal itu tenggelam. Pada waktu itu semua sudah tari-tarikan,” ujar Sandri yang juga tak luput dari tarik-tarikan penumpang.

Menghindari tarikan penumpang lain, ia mencoba berenang ke arah lain. Hingga akhirnya ia menemukan helm yang ia gunakan sebagai pelampung. “Kemudian ada helm, jadi aku ambil untuk pelampung aku dan narik napas ke atas, kalau hanya berenang saja gak sanggup.”

Cukup lama berselang sejak kapal motor Sinar Bangun tenggelam ke dasar Danau Toba, kapal-kapal bantuan baru datang. “Hampir satu jam, datang ferry dan melempar pelampung. Jadi aku berenang langsung ke pelampung itu,” pungkas Sandri.