10 Ton Mie Instan Kadaluwarsa Dikemas Ulang, Lalu Dijual dengan Merek Ini


    SURATKABAR.ID – Masyarakat sebaiknya lebih berhati-hati dalam berbelanja dan memilih bahan makanan di pasar. Pasalnya, tak sedikit oknum tak bertanggung jawab yang sengaja menjual bahan makanan tak layak konsumsi.

    Jika sebelumnya masyarakat sempat heboh karena sarden kaleng berbelatung, kini polisi berhasil meringkus pelaku bisnis pengemasan ulang mie instan kadaluwarsa.

    Susanto (38) telah melakoni bisnis ilegal ini lebih dari satu tahun. Di sebuah gudang yang terletak di Desa Kembangsari, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Susanto mengemas ulang (repacking) mie instan yang telah kadaluarsa.

    Namun, aksi tersebut ketahuan oleh anggota Satgas Pangan Satreskrim Polres Mojokerto. Saat diringkus, di gudang tersebut tengah dijalankan aktivitas produksi, yaitu mengganti bungkus mie instan dengan merk lainnya.

    Baca juga: Makan di Warung Sederhana, Pemudik Ini Kaget Saat Disodori Tagihan

    Menurut Kapolres Mojokerto AKBP Leonardus Simarmata, pelaku mendapatkan bahan baku berupa mie instan kadaluwarsa tersebut dari distributor di kawasa Bekasi, Jawa Barat, dan disimpan di gudang Tangerang.

    Selain dari Bekasi, Susanto juga mendapatkan bahan baku dari pasuruan. Mereknya pun beragam.

    “Bahan baku mie repacking ini berasal mie instan dari berbagai merek lokal dan impor bahkan ada yang dibuat di Indonesia dipasaran ke luar negeri,” terang Leonardus, dilansir tribunnews.com, Jumat (22/6/2018).

    Dari gudang tersebut polisi berhasil mengamankan puluhan jenis mie instan seperti IMEE, Sukaku, Sarimi, Indomie, Gekikara Ramet, bihun Zenpasta Shirataki, dan sejumlah bungkusan plastik berukuran besar yang isinya mie Cap Bunga Terompet.

    Dalam melancarkan aksinya, pelaku mengemas mie instan kadaluwarsa dengan label super mie instant cap Bunga Terompet. Kemudian ia mencantumkan tanggal kadaluwarsa baru dan ijin edar P. IRT 20636710400066 yang bukan miliknya.

    Produk asli tapi palsu ini kemudian dijual ke pasar tradisional di wilayah Mojokerto. Bahkan, berpotensi dipasarkan di luar Mojokerto.

    “Dari penggerebekan ini kami menyita sebanyak 10 ton mie instan kedaluwarsa,” lanjut Leonardus.