Demokrat Akui Ada Bahasan Internal Duetkan JK-AHY di Pilpres 2019


SURATKABAR.ID – Ferdinand Hutahaean selaku Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat mengakui, nama Jusuf Kalla (JK) kerap muncul dalam pembahasan kandidat calon presiden yang akan diusung oleh partainya. Meski demikian, pembicaraan itu baru sebatas pembahasan di kalangan internal partai.

“Di internal Partai Demokrat kami akui nama Pak JK memang menjadi salah satu kandidat yang berpotensi untuk maju sebagai capres,” ujar Ferdinand kepada pers, mengutip laporan Tempo, Jumat (22/06/2018).

Ferdinand menyebutkan, munculnya nama JK sejalan dengan rencana Partai Demokrat yang tengah membentuk poros baru yakni Koalisi Kerakyatan. Menurutnya, tidak elok apabila Pilpres 2019 nanti hanya mengulang duel antara calon inkumben Joko Widodo melawan Prabowo Subianto seperti 2014 lalu.

Ferdinand mengatakan, Demokrat ingin menawarkan alternatif pasangan calon dalam pilpres nanti. Adapun salah satu yang sempat dibicarakan adalah JK yang berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai kandidat capres dan cawapres.

“Kami mencoba menawarkan bangunan itu, JK berpasangan dengan AHY, tetapi ini masih di internal kami,” sebutnya.

Baca juga: Partai Demokrat Wacanakan Duet JK-AHY di Pilpres 2019, Mungkinkah?

Pernyataan Ferdinand ini menegaskan apa yang sebelumnya disampaikan Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sebelumnya, AHY menuturkan Partai Demokrat tak menutup kemungkinan mencalonkan JK berpasangan dengan dirinya.

Meski demikian, AHY menambahkan, sikap politik Demokrat masih sangat cair dan terbuka. Apalagi, lanjutnya, waktu untuk membentuk koalisi serta pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pun terbilang masih cukup lama.

Ketika ditanyakan pada JK soal pernyataan AHY itu, JK memilih menanggapinya dengan tak banyak berkomentar.

“Saya tidak bisa berikan komentar tentang itu karena saya sendiri tidak tahu. Saya tidak memikirkan hal itu,” ujar JK di Istana Presiden, Jakarta, Kamis (21/06/2018).

Selain JK, tambah Ferdinand, ada juga sejumlah nama lain yang dibicarakan di internal partainya sebagai kandidat capres dan cawapres. Nama-nama itu tak lain adalah Joko Widodo, Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo, Chairul Tanjung, dan AHY.

Ferdinand menyebutkan, Chairul Tanjung dan AHY dibicarakan sebagai kandidat capres atau cawapres, sedangkan keempat nama lainnya hanya sebagai kandidat capres.

“Pak JK kalau running di wapres lagi kan sudah tertutup peluangnya karena diatur oleh Undang-undang. Jadi peluang beliau yang terbuka adalah sebagai capres,” tukasnya.

Politik yang Berubah-ubah Hingga Presidential Threshold 

Sementara itu, pihak JK sendiri mengatakan bahwa politik sifatnya bisa berubah-ubah. Jika ada yang mengatakan masyarakat menginginkannya maju bersama AHY, JK menuturkan bahwa komentar itu tak bisa mewakili seluruh masyarakat Indonesia.

“Masyarakat Indonesia penduduknya 290 juta, yang punya hak pilih hampir 200 juta,” imbuhnya.

Diungkapkan oleh Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, partainya tak menutup kemungkinan untuk mencalonkan dia berpasangan dengan Jusuf Kalla pada pemilihan presiden atau pilpres 2019.

“Ya pasti, pasti semua opsi kami pertimbangkan,” ujar AHY di kantor AHY Foundation, Jakarta, Rabu (13/06/2018).

Opsi pencalonan JK-AHY muncul beberapa waktu lalu. Opsi pencalonan JK-AHY ini menggaung usai Partai Demokrat berencana membentuk koalisi kerakyatan pada pemilihan presiden 2019.

Menurut AHY, Demokrat masih membuka peluang berkoalisi dengan partai mana pun. Dia mengatakan sampai saat ini sikap politik Demokrat masih cair.

“Semua opsi kami hitung, kami harus cermat. Harus disesuaikan antara semangat optimisme, tapi juga dengan realitas politik,” tambahnya.

AHY berucap, Demokrat masih terus menjalin komunikasi kepada semua partai politik. Selain itu, Demokrat mempertimbangkan syarat presidential threshold 20 persen suara agar dapat mengusung calon presiden dan wakil presiden.

“Katakanlah Demokrat sudah punya 10 persen. Nah, 10 persen lagi dari mana, siapa, siapa yang mengusungnya, ataupun partai mana yang kemudian mengusung siapa, dalam konteks membangun koalisi.”