Kemacetan Parah di Jalur Mudik, Begini Komentar Nyelekit YLKI


SURATKABAR.ID – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyoroti kemacetan parah di sepanjang jalan tol Cikampek dan Cipali yang terjadi H-2 dan H-1 Lebaran tahun 2018 beberapa hari yang lalu.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, seperti yang dilansir dari laman JawaPos.com, menilai bahwa tambahan libur Hari Raya Idul Fitri sama sekali tidak membantu mengurangi kemacetan di jalur mudik. Terlihat masih banyak pemudik yang memilih pulang kampung mendekati Hari H Lebaran.

Padahal sejatinya perpanjangan libur Lebaran diberikan untuk mendorong para pemudik untuk memilih waktu-waktu awal kembali ke kampung halaman mereka. Libur tambahan Lebaran tahun ini bertujuan untuk menekan kemacetan di titik-titik rawan sepanjang jalur mudik.

Namun pada kenyataannya, ditegaskan Tulus, para pemudik tetap memilih H-2 dan bahkan ada juga yang baru melakukan perjalanan mudik pada H-1. Sehingga pada beberapa titik jalur mudik di Jawa masih terlihat kemacetan parah, menandakan perpanjangan libur Lebaran tak efektif.

“Bahkan mungkin H minus 1. Bisa juga dikatakan, perpanjangan libur Lebaran tidak dipatuhi sektor pelaku usaha,” jelas Tulus yang kemudian menampik pendapat tersambungnya tol trans-Jawa bisa menampung kendaraan pribadi roda empat, dikutip dari JawaPos.com, Kamis (14/6/2018).

Baca Juga: Terjebak Macet? Ini Dia Tips Agar Tidak Bosan Ditengah Kemacetan

Jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan roda empat, menurut data dari Kementerian Perhubungan, dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2017 tercatat peningkatan sebanyak 3,3 juta unit, sementara 2018 angka mencapai 3,7 juta unit.

“Bisa dipastikan lebih dari 40 persennya adalah pengguna tol. Bisa dibayangkan jika jumlah pemudik di Jabodetabek mencapai 11 juta,” tandas pria yang sejak tahun 2016 menjabat sebagai ketua pengurus harian lembaga swadaya masyarakat tersebut.

Ia kemudian mengkritisi pemerintah yang dianggap tidak konsisten dalam memberlakukan tarif tol pada kasus khusus. “Katanya jika kemacetan mencapai 2 km tarif tol akan digratiskan. Buktinya, kemacetan sudah mencapai 28 sampai 42 km pun tidak digratiskan.”

Menurutnya, ada satu solusi yang paling efektif dalam mengatasi kemacetan arus mudik, yakni dengan meningkatkan akses serta kapasitas angkutan umum masal dan juga angkutan umum di daerah tujuan para pemudik.

Tulus menekankan bahwa tol bukan solusi jika pemerintah ingin mengurai kemacetan mudik setiap tahunnya. “Jalan tol justru karpet merah untuk merangsang mudik dengan kendaraan pribadi dan ending-nya adalah neraka kemacetan,” pungkas pria kelahiran Purworejo pada 23 November 1970 tersebut.