Tiru Langkah Mahathir, Akankah Amien Rais Berhasil?


SURATKABAR.ID – Pernyataan mengejutkan yang terlontar dari Amien Rais terkait Pilpres 2019 cukup mengejutkan banyak pihak dunia politik Indonesia. Politikus senior PAN itu menyiratkan siap maju menjadi capres pada 2019. Ada beragam komentar dan pendapat yang bermunculan. Pasalnya, manuver Ketua Dewan Kehormatan (Wanhor) PAN itu disebt untuk mendorong kader PAN muncul sebagai bakal calon presiden. Posisi Amien Rais adalah cadangan paling akhir kalau tak ada calon lain yang maju.

Melansir reportase Republika.co.id, Jumat (15/06/2018), anggota Wanhor PAN, Dradjad Wibowo mengungkapkan hal terpenting bagi Amien Rais adalah ganti presiden di 2019. Itulah sebabnya harus ada pasangan capres-cawapres yang berani dan berpeluang menang di Pilpres 2019.

“Sebenarnya Pak Amien itu mendorong kader-kader PAN agar muncul menjadi bacapres bacawapres,” tutur Dradjad kepada pers, Selasa (12/06/2018).

Menurut Dradjad, selain Ketum PAN Zulkifli Hasan, Amien juga memunculkan dua mantan ketum yakni Soetrisno Bachir dan Hatta Rajasa.

“Tapi kan tidak elok kalau dari empat ketum/mantan ketum PAN ada satu yang tidak muncul yaitu Pak Amien sendiri. Nanti muncul kesan, Pak Amien ini kok mendorong-dorong orang lain bersaing dengan Pak Jokowi, tapi dirinya sendiri tidak mau maju,” imbuhnya.

Baca juga: Soal Kritik Amien Rais Pada Presiden, Cak Imin: Banyak Hal yang Dilakukan Jokowi

Dradjad menambahkan, itulah sebabnya Amien harus siap turun gunung jadi bacapres—kalau memang situasinya mendesak.

Cadangan Paling Akhir

Diungkapkan Dradjad, bagi orang Jawa, ketika seseorang menyebut dirinya sendiri “mbah”, itu artinya sangat dalam. Itu berarti, Amien sangat menyadari bahwa dia sudah sepuh, sudah “manditho” menjadi guru bagi generasi muda.

“Jadi harapan beliau, ada tokoh yang lebih muda, yang berpeluang besar memenangkan pilpres 2019,” jelas Dradjad.

Namun rupanya, lanjut Dradjad, pernyataan kesiapan Amien Rais disalahtafsirkan sebagai keinginan pribadi untuk maju sebagai capres.

“Muncullah berbagai respon, hingga Presiden pun ikut berkomentar,” tutur politikus yang sangat dekat dengan Amien Rais ini.

Padahal, ujar Dradjad, posisi Amien Rais itu sebagai pemain cadangan paling akhir. Jadi Amien  hanya turun ke lapangan jika situasinya sangat mendesak.

Mengapa begitu? Karena menurut Dradjad, Amien itu ulama yang luas ilmu agamanya. Amien Rais sangat sadar, orang beriman harus siap lillahi ta’ala jika dibebani amanat. Tidak boleh kabur.

“Nabi Yunus AS saja dihukum Allah dengan ditelan ikan karena marah dan kabur. Beliau lari dari amanat berdakwah ke kaumnya di Ninawa, ibu kota Asyiria di selatan Irak. Pak Amien bahkan pernah menasihati saya dengan kisah ini. Jadi, beliau tidak mau mengulangi kesalahan Nabi Yunus AS. Tapi ya itu, sebagai pemain cadangan yang paling akhir,” kata dia.

Beda Amien Rais dan Mahathir

Lebih lanjut, pendiri Kelompok Diskusi dan Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi), Hendri Satrio meminta Amien Rais agar tidak meniru Mahathir Mohamad. Karena ada hal yang sangat berbeda antara Amien Rais dan Mahathir.

“Pak Amien jangan mengacu pada Mahathir karena Mahathir pernah jadi PM (Perdana Menteri), sementara Amien Rais belum pernah berhasil,” ujar Handri, Selasa (12/06/2018).

Menurutnya, kans Amien menang tak besar bila memaksakan maju di pilpres.

“Tapi kalau mau coba ya boleh aja, namanya juga negara demokrasi,” imbuhnya.

Hendri menyarankan lebih baik Amien memberikan tabungan elektabilitasnya, dan mengarahkan parpol pendukungnya pada calon alternatif yang kuat serta memiliki visi bagus bagi bangsa ini. Misal Rizal Ramli atau Susi Pudjiastuti atau bahkan mungkin Abraham Samad.

“Cara ini akan lebih efektif dalam menghadapi elektabilitas Jokowi daripada Amien sendiri yang maju,” tambahnya kemudian.

Menurut Amien Rais sendiri, saat ini ia sudah siap maju di Pilpres 2018. Amien mengaku masih layak diusung menjadi capres dari partainya. Amien menyadari dirinya tidak muda lagi, tetapi kemenangan Mahathir Mohamad di Malaysia memberinya inspirasi. Mahathir menang pada pemilu Malaysia saat berusia 92 tahun, mengalahkan pejawat Najib Razak.

Peristiwa di Malaysia, kata mantan ketua MPR ini, bisa saja terjadi di Indonesia. “Kalau Mbah Amien Rais ini walaupun tua ya tidak apa-apa. Begitu Mahathir jadi (perdana menteri), saya jadi remaja lagi sekarang kan ya? Jadi, saya berterima kasih ke Pak Mahathir,” papar Amien.

Amien Rais menyatakan hal itu selepas berbuka puasa di rumah dinas Ketua Umum MPR Zulkifli Hasan di Widya Chandra, Jakarta Selatan, Sabtu (09/06/2018) malam lalu. Amien menyampaikan dirinya masih layak untuk diusung menjadi capres dari partainya. Di satu sisi, Amien menyadari dia tak lagi muda, namun tak dapat dipungkiri kemenangan Mahathir Mohamad (92 tahun) di pemilu Malaysia menginspirasinya.

Saat ditanya wartawan tentang kesiapannya untuk maju menjadi capres, Amien menjawab manusia tak pernah tahu tentang apa yang terjadi pada masa depan. Ia mengatakan, itu masih merupakan rahasia Ilahi.

“Karena itu manusia punya kewajiban untuk berjuang, bergerak membuat movement supaya cita-citanya tercapai,” ucap Amien.

Demokrasi Kian Marak

Sementara itu, Wasekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Abdul Hakim menyambut baik keinginan Amien Rais untuk menjadi capres pada Pilpres 2019. “Bagus, demokrasi semakin semarak,” sebutnya.

Hakim menerangkan, dengan majunya Amien Rais, pilihan kepemimpinan bangsa pun jadi semakin berwarna. Selanjutnya, ia menambahkan, partai politik peserta pemilu dan rakyat yang menilai dan menentukan pilihannya.

“Beliau salah satu tokoh reformasi 1988. Selamat berjuang untuk Pak Amien, mulai dari internal PAN, perlu waktu dan kerja keras, tinggal 1,5 bulan lagi,” ungkapnya.

Ucapan Amien yang bersedia dicalonkan menjadi capres bukan sekadar wacana. Namun telah dibahas terlebih dahulu di internal partai.

“Iya sudah dibahas pada rakornas PAN sabtu siang 9 Juni 2018,” imbuh Wasekjen DPP PAN Bidang Hukum dan HAM, Surya Imam Wahyudi saat dikonfirmasi, Selasa (12/06/2018).

Nantinya, lanjut Surya, PAN akan mendeklarasikan bahwa calon presiden PAN pada pemilihan presiden (pilpres) 2019 sebanyak empat orang. Menurutnya, PAN akan mendeklarasikan pasca-Lebaran nanti.

“PAN nantinya pada saat rakernas setelah lebaran akan mendeklarasikan empat capres dari kader utama PAN,” sebut Surya.

Mengenai empat nama capres PAN tersebut yakni Ketua Umum (Ketum) PAN Zulkifli Hasan, mantan ketum PAN Hatta Radjasa dan beberapa menteri, mantan sekjen PAN Soetrisno Bachir, dan Amien Rais. Masuknya empat nama dari PAN ini mendapatkan respon positif dari Presiden PKS Sohibul Iman. Termasuk majunya Amien Rais yang beberapa waktu lalu telah menyatakan dirinya siap maju sebagai capres PAN.

“Menurut saya sih bagus, makin banyak calon makin bagus buat rakyat, enggak ada masalah, kita hormati hak siapa pun untuk mencalonkan,” tukasnya.

PKS pun, sebutnya, mengusungkan sembilan nama untuk Pilpres 2019 mendatang. Maka PAN pun, kata dia, bisa mengusulkan empat nama sebagai capres maupun cawapres.

“PKS saja punya sembilan capres/cawapres, bagusnya PAN mencalonkan minimal empat capres/cawapres: Amien Rais, Hatta Rajasa, Sutrisno Bahir, dan Zulkifli Hasan,” tukasnya.