SBY: Kesenjangan Sosial Ekonomi dan Kemiskinan Masih Tinggi, Ketimpangan Meningkat


    SURATKABAR.ID – Dalam acara Safari Ramadan dan Temu Kader Partai Demokrat se-DKI Jakarta dan sekitarnya di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu (09/06/2018), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Ketua Umum Partai Demokrat membacakan Refleksi Ramadan. Ceramah refleksinya itu disampaikan dalam dua sesi dengan judul yang berbeda. Judul pertama tentang Islam dan Keadilan. Sedangkan yang kedua adalah Makna Sila ke-5 dalam Pancasila.

    Pada refleksi pertama, SBY menyebutkan tentang persoalan bangsa yang berkaitan dengan keadilan sosial sekarang ini. “Persoalan dan tantangan saat ini, adalah kemiskinan yang masih relatif tinggi, meski sejak 2007 terus menurun,” kata SBY. Seperti dilansir dari reportase Tempo.co, Senin (11/06/2018).

    Refleksi kedua memuat ketimpangan atau kesenjangan sosial ekonomi pada prinsipnya makin meningkat. Memang, tambah SBY, ketimpangan ini tak hanya dialami Indonesia, tapi juga oleh negara-negara yang pertumbuhan ekonominya tinggi. Sehingga tidak terelakkan bahwa hal ini melebarkan kesenjangan.

    “Dari dua masalah fundamental itu, pertanyaannya, apa tugas dan kewajiban negara dan sesungguhnya juga apa tugas dan kewajiban kita semua?” sebut SBY.

    Menurutnya, ada dua. Yang pertama membuat kemiskinan makin berkurang serta ketimpangan tidak makin melebar. “Bagaimana caranya? Banyak. Strategi kebijakan dan tatibnya tidak rumit,” ungkapnya.

    Baca juga: Fakta Seputar Probowangi, Calon Jalan Tol Terpanjang di Indonesia

    SBY pun menyarankan sebaiknya yang dibangun pemerintah pusat dan daerah jangan hanya serba benda atau material, namun juga manusianya.

    “Program-program untuk menurunkan kemiskinan tidak boleh dikendorkan,” imbuhnya. Anggaran untuk infrastruktur dan taraf hidup rakyat dan kemiskinan harus berimbang.

    “Setiap kebijakan pemerintah apa pun termasuk kenaikan harga BBM, listrik, harus peka terhadap rakyat miskin. Dengan arti, jangan lupa memberikan bantuan kepada mereka. Jangan lupa kompensasinya,” imbuh SBY.

    Soal Corporate Social Responsibility (CSR)

    SBY lalu menyinggung bahwa ada bantuan dari pengusaha yang bisa dimanfaatkan, yaitu Corporate Social Responsibility (CSR).

    “Banyak cara, pilihan, yang penting nyata, terus menerus, dan tidak putus untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan karena. Itu berhubungan dengan keadilan sosial keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia,” tandasnya.

    “Apa persoalan bangsa yang terkait keadilan sosial sekarang ini dan apa yang harus kita lakukan secara bersama. Persoalan kita saat ini adalah, pertama kemiskinan masih relatif tinggi,” kata SBY, dikutip dari reportase Viva.co.id.

    Menurut SBY, adalah tugas negara dan yang lainnya untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan. Dia pun menyebut ada banyak strategi dalam menghadapi permasalahan itu.

    “Di antaranya adalah, sebaiknya, yang dibangun oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, jangan hanya yang serba benda atau materi, tetapi juga manusianya,” sebutnya.

    Dia juga menyebutkan pemerintah jangan melupakan program pengentasan kemiskinan. Setiap kebijakan pemerintah juga, ia menandaskan, harus peka dengan kebutuhan dan daya beli rakyat miskin.