Sedih. Ternyata Begini Suasana Lebaran di Negara Konflik


SURATKABAR.IDDi Indonesia, Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran identik dengan pakaian baru. Anak-anak utamanya, begitu antusias ketika diajak berbelanja baju lebaran. Apalagi ketika memasuki pekan kedua Ramadan, toko busana mulai dipadati pengunjung yang siap menyambut hari raya dengan penampilan yang fresh.

Keadaan tidak menentu menyertai perayaan Idul Fitri bagi muslim di kawasan tertentu.

Warga Palestian di jalur Gaza merayakan Idul Fitri di tengah reruntuhan rumah dan bangunan yang hancur di bom Israel.

Tak hanya itu, ratusan anak-anak di jalur Gaza terpaksa merayakan lebaran tanpa beberapa sanak keluarga mereka karena bebeapa keluarga mereka telah gugur dalam perang melawan tentara zionis Israel.

Akibat konflik ini, sebanyak 18 ribu unit rumah warga Gaza hancur Mereka juga terpaksa shalat Ied di bekas reruntuhan bangunan mesjid. Hingga kini, banyak warga Gaza yang masih tidur di bawah reruntuhan bangunan rumah mereka.

Baca Juga: Soal Penembakan Razan Al Najjar, Israel Katakan Hal itu Tak Sengaja

Dilansir dari Replubika.co.id, bocah 12 tahun Ahmad Hussain mengaku tidak mengerti mengapa dirinya tak merayakan takbiran. Kata dia, tidak lagi ada waktu untuk menikmati Idul Fitri bersama empat adiknya, bersama ibu, dan ayahnya yang seorang buruh mingguan.

“Saya benar-benar tidak ingat kapan terakhir merayakannya (Idul Fitri),” terang Ahmad.

Perayaan Idul Fitri yang tak menentu juga dialami warga Suriah. Berada ditengah perang saudara, ribuan sipil terancam hidupnya, dan tak khidmat merayakan Idul Fitri. Di hari suci itu bukan tradisi maaf yang terjadi, pertumpahan darah masih terus berlangsung.

Sebelum perang meremukkan kampung halaman mereka di Suriah, momen berbelanja pakaian bersama orang tua mungkin pernah mereka alami. Namun, momen itu tidak lagi berlangsung saat ini. Sebagian besar dari mereka kehilangan orang tua akibat teror konflik di negaranya.