Sadis! Dihamili dan Dijadikan Bahan Latihan Bayonet, Budak Pemuas Nafsu Tentara Jepang Bagikan Kisah Traumatisnya


SURATKABAR.ID – Kekejaman selama Perang Dunia II menyisakan duka mendalam bagi peradaban umat manusia di seluruh dunia. Kaum wanita yang paling banyak mengalami penyiksaan dalam berbagai bentuk. Salah satunya dijadikan budak pemuas nafsu para tentara.

Dilansir dari laman Tribunnews.com, Jumat (8/6/2018), selama Perang Dunia II berkecamuk, Jepang mendirikan ‘Stasiun Kenyamanan’ alias rumah bordil militer di negara-negara yang mereka duduki. Para wanita pun dipaksa untuk melayani tentara-tentara yang haus akan kepuasanseksual.

Mereka dikenal sebagai ‘wanita penghibur’ dan berasal dari negara-negara Asia, seperti Korea, China, dan Filipina. Para wanita ini awalnya dijanjikan hanya akan mendapat tugas untuk memasak, mencuci pakaian, dan merawat Angkatan Darat Kaisar Jepang. Namun kenyataannya berbeda.

Kisah-kisahnya menjadi tragedi perang yang hingga detik ini masih terus menimbulkan perdebatan internasional, para wanita ini malah berakhir sebagai pelayan nafsu kebinatangan kaum pria di barak militer. Jumlah ‘wanita penghibur’ diperkirakan berkisar antara 80.000 hingga mencapai 200.000 orang.

Harus mendekam di kamp-kamp militer, dan harus selalu siap sedia jika tubuhnya dibutuhkan, mereka masih saja mendapatkan perlakuan tak manusiawi. Bahkan ketika upaya pendudukan Jepang mengalami kegagalan, para wanita penghibur itu akan ditinggal begitu saja.

Baca Juga: Disamakan dengan 100 Prajurit Bersenjata, Inilah Kisah Tomoe Gozen – Samurai Wanita Terkuat dalam Sejarah Jepang

Monumen Perdamaian untuk Wanita Penghibur

Untuk mengenang ‘wanita penghibur’ Korea, sejumlah ‘Monumen Perdamaian’, patung gadis belia berpakaian tradisional khas Korea duduk di samping kursi kosong, didirikan di beberapa lokasi strategis pada tahun 2010 silam. Pada 2011, Monumen Perdamaian munsul di depan Kedutaan Jepang di Seoul.

Kisah Penuh Pengalaman Menyesakkan Peipei Qiu

Sebuah buku berisi laporan bersejarah mengenai 12 penghuni ‘Stasiun Kenyamanan’, didukung saksi, arsip catatan, dan investigasi, diabadikan oleh Peipei Qiu, profesor Tionghoa dan Jepang dari Vassar College di New York, dibantu Su Zhiliang dan Chen Lifei, dua orang cendekiawan Tiongkok.

“Dalam buku ini saya menggunakan istilah ‘wanita penghibur’ dalam tanda kutip pada referensi pertama untuk mengkomunikasikan bahwa ini adalah istilah yang tidak dapat diterima, tidak hanya untuk para korban, tetapi juga para peneliti,” jelas Qiu, dikutip dari Tribunnews.com, Jumat (8/6/2018).

Ia menyebutkan bahwa sistem ‘wanita penghibur’ baru dimulai usai penyerangan Manchuria di Asia Timur Laut oleh tentara Jepang pada 1932. Tindak penyiksaan semakin meningkat setelah pembantaian Nanking pada tahun 1937 di Nanjing, China.

Pada kebanyakan kasus, wanita muda diambil dari rumah-rumah mereka dan dipaksa bekerja sebagai budak nafsu. Jika menolak, tentara Jepang tak akan segan-segan memukuli atau bahkanmembunuh mereka. Bagi yang mencoba melarikan diri, akan dihukum dengan siksaan hingga dipenggal kepalanya.

“Dia (Liu Mianhuan) menceritakan kembali selama wawancara kami: ‘Penyiksaan itu membuat bagian pribadi saya terinfeksi dan seluruh tubuh saya bengkak. Rasa sakit di tubuh bagian bawah saya sangat menyiksa hingga saya tidak bisa duduk atau berdiri. Saya tidak bisa berjalan, ketika saya harus pergi ke kakus, saya harus merangkak di tanah’. Benar-benar neraka yang hidup,” ungkap Qiu.

Pengalaman hidup para ‘wanita penghibur’ masing-masing tidak sama. Beberapa diculik, yang lainnya ditipu. Ada yang dipaksa melayani nafsu buas para tentara ‘hanya’ beberapa kali dalam sehari, sementara yang lain sampai sebanyak 60 kali.

Masa penahanan masing-masing korban pun bervariasi. Ada yang hanya beberapa hari, berminggu-minggu, ada pula yang bisa ditahan selama bertahun-tahun. “Kekejaman yang tak terkatakan pada sistem ‘wanita penghibur’ adalah kejahatan terhadap kemanusiaan,” tandas Qiu singkat.

Tidak adanya penjara khusus untuk tahanan perang wanita membuat tentara Jepang mengirim tahanan perang wanita di barak-barak garis depan. Di tempat ini mereka disekap dan berubah status menajdi ‘wanita penghibur’.

Cukup banyak dari para korban yang menjadi budak pemuas nafsu hamil, lantaran mereka melayani para tentara tanpa menggunakan alat kontrasepsi. Namun bukannya mendapatkan perlakuan khusus sebagai wanita hamil, mereka malah dibawa keluar dan dijadikan bahan latihan bayonet.

“Tidak ada yang tahu berapa banyak wanita yang dibunuhdengan cara itu, (tetapi) harusnya puluhan ribu. Ketakutan terburuk para korban adalah bahwa pengalaman menyakitkan mereka akan terlupakan,” ujar Qiu.

“Saya harap buku saya akan membantu dalam beberapa bagian kecil, membantu mendidik masyarakat kita dari generasi ke generasi untuk mengingat apa yang terjadi di masa lalu dan memastikan bahwa kekejaman semacam itu tidak akan terjadi lagi. Tidak kepada siapa pun,” pungkasnya tegas.