Dihampiri Gadis Perempuan Setiap Hari Saat Bagi Takjil. Ternyata Kisah Pilu Dibaliknya Bikin Nafas Sesak


SURATKABAR.ID Seorang anak kecil harusnya hanya mengetahui belajar atapun bermain. Namun hal ini tak berlaku bagi bocah gadis yang harus memikul beban berat dengan berjualan tisu di area stasiun kereta. Mirisnya, jika tidak habis maka orangtuanya akan memarahinya.

Kisah bocah ini diceritakan oleh salah satu pengguna Facebook bernama Elyudien dalam postingannya ia menceritakan bagaimana seorang gadis cilik berjuang berdagang hingga jam 12 malam.

Dalam kisahnya Elyudien menceritakan bagaimana pertemuan dengan gadis ini. Saat itu ia sedang menunggu kereta di Stasiun Cawang dan membagi-bagikan takjil gratis lalu ia dihampiri oleh seorang gadis tak beralas kaki alis nyeker dan ransel di pundaknya.

Dilansir dari Hetanews.com, kisah gadis kecil berkerudung penjual tisu ini sudah dibagikan sebanyak 7ribu kali dan sudah mendapat 15 ribu lebih menyematkan emoji.

Baca Juga: Setelah 8 Tahun Akhirnya WNI ini Dibebaskan dari Hukuman Mati di Arab Saudi

Selama empat hari gadis ini menghampirinya lalu bertanya dengan pertayaan yang sama dan setiap ditawari air mineral dan takjil kurma gadis ini selalu menggeleng dan menjauh pergi.

“Om jualan yah?”

Tanya gadis kecil 9 tahun kepadaku di Stasiun Cawang Jakarta, pada suatu sore jelang magrib.

Gadis itu tak beralas kaki alias nyeker.

“Nggak. Mau?” jawabku sambil menawarkan air mineral dan takjil kurma.

Gadis kecil itu menggeleng, dan menjauh pergi.

Namun di hari ketiga, gadis kecil ini menghampiri lagi dan akhirnya menerima pemberian takjil tersebut. Dalam sekian kalinya bertemu oleh anak kecil ini ia pun mengajak ngobrol sang anak.

“Om bagi-bagi gratis yah?” tanyanya.

“Iya, adek mau?” tanyaku.

Ia mengangguk dan mengambil sebotol air mineral dan kurma pemberianku. Kemudian pergi menjauh.

DIketahui, dalam ranselnya ada 20-40 bungkus tisu yang harus ia jual sepulang sekolah di stasiun Cawang, padahal rumah gadis tersebut di Depok.

Jika dagangannya tidak habis sang ayah akan memarahinya. Gadis ini pun menunggu hingga kereta terahir beroperasi sekitar jam 12 malam.

Mendengar cerita Amel, nama gadis itu, Elyudien merasa tertampar karena sedih.