10 Ritual S*eks Paling Mengerikan di Dunia, Nomor 3 Mencengangkan! Nomor 10….


SURATKABAR.ID – Keberagaman suku dan budaya yang berbeda-beda di setiap negara membuat peribahasa “lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya” kian terbukti benar. Menurut peribahasa ini, satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lain. Tak dapat dipungkiri, setiap negeri atau bangsa berlainan adat kebiasaannya. Demikian juga dalam melakukan hubungan seksualnya. Berbagai negara sudah sedari dulu memiliki banyak ritual seksual yang aneh-aneh.

Seperti dikutip dari news.olshof.org dan Palembang.TribunNews.com, Kamis (07/06/2018) berikut adalah rangkuman beberapa ritual s*eks yang aneh serta mengerikan yang ada di seluruh dunia yang jarang diketahui banyak orang.

1. Suku Sambians: Ritual minum air mani

Dalam suku yang terdapat di pedalaman Papua Nugini ini, untuk menjadi seorang pria suku primitif, maka anak laki-laki harus dipisahkan dari perempuan sejak usia 7 tahun. Ia juga diharuskan hidup dengan pria lain selama 10 tahun. Selama itu pula kulitnya harus ditindik untuk menghilangkan kontaminasi yang dibawa oleh perempuan.

Mereka juga diharuskan membuat pendarahan hidung dan muntah secara teratur dengan mengkonsumsi tebu dalam jumlah yang banyak.

Puncaknya, mereka diwajibkan meminum air mani para tetua mereka karena dianggap mendukung pertumbuhan dan kekuatan secara terus menerus hingga kembali lagi ke suku mereka.

 

Baca juga: Seram! 6 Ritual Aneh yang Mendunia, 3 di Antaranya dari Indonesia

2. Suku Mardudjara: Ritual Pemotongan Organ Intim

Ritual yang dilakukan Suku ini sungguh mengerikan, yakni melakukan sunat untuk para laki-laki, kemudian menelan kulup yang disunat tersebut.

Setelah lukanya sembuh, p***s kemudian dipotong memanjang di sisi bawah, kadang-kadang sampai ke skrotum.

Saat darahnya keluar, darah itu diteteskan diatas api. Yang terjadi justru adalah para laki-laki akan buang air kecil dari bawah penisnya bukan melalui uretra.

3. Suku Trobrianders: Anak usia 6 Tahun mulai berhubungan s*eks

Suku yang terletak di pulau yang terpencil Papua Nugini ini melakukan ritual s*eks di usia yang sangat muda. Anak laki-laki 10 sampai 12 tahun, sedangkan anak perempuan 6-8 tahun sudah mulai melakukan hubungan s*eks.

Ada beberapa adat istiadat tentang kencan untuk menghalangi hubungan intim, dan pakaian yang terbuka benar-benar diambang batas, para perempuan benar-benar topless.

Namun, sementara semua orang berhubungan s*eks kapan saja mereka inginkan, berbagi makanan sebelum menikah tidak diperbolehkan.

Mereka tidak diperbolehkan pergi keluar untuk makan malam bersama-sama sampai setelah mereka menikah.

4. Saut d’Eau: Ritual voodoo dan cinta

Di Haiti, setiap bulan Juli diadakan ritual yang cukup vulgar. Sekelompok orang dalam posisi t*elanjang meliuk-liuk dan menggeliat di dalam lumpur bercampur dengan darah dan anggota tubuh hewan hewan kurban, yakni kepala sapi dan kambing.

5. Nepal: Ritual berbagi istri

Di Himalaya, di mana ada sedikit lahan yang tersedia untuk pertanian dan pertanian, dan keluarga dengan lebih dari satu anak akan dihadapkan dengan membagi tanah mereka masing-masing anak untuk memulai keluarganya sendiri.

 

Solusinya? Cari satu istri untuk semua anak-anak mereka sehingga mereka dapat hidup bersama sebagai satu keluarga dan menjaga tanah keluarga mereka utuh.

Juga, seperti yang diceritakan dalam film dokumenter National Geographic Multiple Husband, pengaturan ini bekerja terbaik ketika istri mahir saat “penjadwalan” dengan saudara masing-masing.

6. Wodaabe: Ritual mencuri istri

Suku Wodaabe di Afrika Barat ini melakukan ritual yang cukup unik. Seorang pria diperbolehkan mencuri istri pria lainnya.

Pernikahan pertama pria suku Wodaabe biasanya diatur oleh orang tua mereka ketika masih bayi, dan harus antara sepupu dari garis keturunan yang sama.

Namun, di festival tahunan Gerewol, para pria suka Wodaabe mengenakan riasan dan kostum dan berdansa untuk mengesankan para wanita, dan berharap bisa mencuri istri baru.

Bila pasangan baru ini dapat “selingkuh” tanpa terdeteksi (terutama dari suami pertama yang tidak ingin berpisah dari sang istri), maka mereka akan diakui secara sosial. Pernikahan ini disebut “pernikahan cinta”.

  1. Firaun Mesir Kuno: Bermasturbasi di depan umum

Orang-orang Mesir kuno melakuan m*asturbasi di Sungai Nil untuk menjaga limpahan air seperti yang dilakukan para Firaun Mesir. Hal yang cukup mengejutkan adalah mereka melakukan m*asturbasi di depan umum pada festival Dewa Min.

  1. Yunani Kuno: Homoseksual

Orang-orang Yunani kuno tampaknya kurang pemahaman mengenai orientasi seksual sebagai pengenal sosial, mengingat cara ini kemudian telah dilakukan oleh masyarakat Barat selama abad terakhir.

Masyarakat Yunani tidak membedakan hasrat seksual atau perilaku oleh jenis kelamin partisipan, melainkan dengan peran yang dimainkan masing-masing peserta dalam hubungan s*eks, apakah dari penetrator aktif atau pasif.

Polarisasi aktif/ pasif ini berhubungan dengan peran sosial yang dominan dan patuh: peran (penetrasi) aktif dikaitkan dengan maskulinitas, status sosial yang lebih tinggi dan dewasa. Sedangkan peran pasif dikaitkan dengan feminitas, status sosial yang lebih rendah dan kemudaan.

  1. Yunani Kuno: Hubungan “cinta bocah”

Bentuk yang paling umum dari hubungan sesama jenis antara pria di Yunani adalah “paiderastia” yang berarti “cinta bocah.”

Itu adalah hubungan antara seorang laki-laki tua dan seorang pemuda remaja.

Seorang anak laki-laki dianggap sebagai “anak” sampai ia mampu menumbuhkan jenggot penuh.

  1. Budaya Iran modern: Pernikahan sementara

Di Iran, pasangan muda yang ingin berhubungan s*eks sebelum mereka siap untuk menikah dapat meminta “pernikahan sementara”. Hukumnya, mereka diperbolehkan untuk melakukan pernikahan sementara dengan kontrak tertulis.

Kontrak itu juga memuat jumlah waktu ‘menikah’ diantara keduanya. Setelah itu mereka bisa berhubungan s*eks tanpa bertentangan dengan hukum Islam.

Ternyata hanya Syi’ah saja yang mempraktekkan pernikahan sementara (juga dikenal sebagai mut’ah). Sedangkan saat ini sekitar 90% dari muslim di Iran adalah Syi’ah. Namun, diketahui, Mut’ah ini dilarang oleh Islam.