Pertemuan Prabowo-Amien dan Rizieq Shihab di Mekkah Timbulkan Beragam Spekulasi


SURATKABAR.ID – Sejumlah spekulasi muncul menyusul pertemuan antara Prabowo Subianto, Amien Rais, dan sejumlah tokoh Persaudaraan Alumni (PA) 212 dengan Rizieq Shihab di Makkah. Menyikapi hal itu, Sohibul Iman selaku Presiden PKS meminta agar publik tidak menghubungkan pertemuan antara Prabowo, Amien Rais dan Rizieq Shihab tersebut sebagai pertemuan politis.

Mengutip reportase Tirto.id, Minggu (03/06/2018), Direktur Populi Center, Usep M. Achyar menilai, perjumpaan itu bukan sesuatu yang kebetulan, melainkan sebagai bentuk konsolidasi politik menjelang Pilpres 2019.

“Ini konsolidasi politik koalisi penantang petahana di [Pilpres] 2019 nanti. Diadakan di Makkah dengan simbol-simbol keagamaan yang kental memberikan pesan bahwa mereka adalah ‘partai Allah’ yang dimaksudkan Amien Rais itu,” ujar Usep pada awak media, Sabtu (02/06/2018).

Usep menambahkan, mereka sengaja melakukan pertemuan di Makkah sambil melakukan ibadah, dan kegiatan keagamaan untuk memperkuat paradigma “partai Allah” yang dimaksud Amien Rais.

Basis Massa Islam yang Solid

Tak hanya itu, Usep menuturkan bahwa Prabowo, Amien, dan Rizieq juga sedang memberikan pesan kepada para pendukungnya bahwa para elite politik PA 212 ini masih eksis.

Baca juga: Keluarga Razan al Najjar Sebut Sniper Israel Sengaja Menembaknya, Ini Alasannya

Usep menyebutkan, Rizieq sebagai imam besar Front Pembela Islam (FPI) mempunyai basis massa Islam yang cukup solid, setidaknya di internal FPI dan PA 212. Menurut Usep, ini berarti bahwa kedatangan Prabowo menemui Rizieq menandakan jika Ketua Umum Gerindra itu serius ingin merebut suara umat Islam pada Pilpres 2019.

Namun, Usep mengingatkan, jangan sampai sentimen yang dibangun, seperti penyebutan “partai Allah” justru menjadi blunder.

“Jika identitas lawan politik mudah dibuat sedemikian sentimen, maka isu itu akan signifikan, tetapi kalau identitas lawan politiknya mampu mengakomodasi kepentingan identitas terbesar di negeri ini, saya kira sentimen itu enggak bakal efektif, malah cenderung blunder,” beber Usep.

Selain itu, Usep melanjutkan, ketidakhadiran Presiden PKS, Sohibul Iman dalam pertemuan itu juga menandakan bahwa koalisi tersebut masih cair. Menurutnya, ketidakhadiran perwakilan PKS bisa menimbulkan spekulasi bahwa ada opsi lain yang dilihat PKS di Pilpres mendatang.

“Dalam politik, semuanya mungkin, walaupun potensi besar [PKS] masih dengan Gerindra. Ini juga akan meningkatkan posisi tawar di hadapan koalisi,” ucap Usep.

PKS Sebut Itu Bukan Pertemuan Politis

Saat dikonfirmasi, Presiden PKS, Sohibul Iman menilai, pertemuan antara Prabowo, Amien Rais dan Rizieq sebagai pertemuan biasa. Ia meminta agar publik tak mengaitkan pertemuan itu sebagai pertemuan politis.

“Pertemuan sesama Muslim dan sesama tokoh politik itu hal biasa. Enggak usah ditarik-tarik jadi politis, biarkan mereka ibadah dengan khusyuk demi kebaikan bangsa dan negara,” ungkap Sohibul.

Wakil Sekjen Partai Gerindra, Andre Rosiade juga menepis anggapan yang menyebut perwakilan PKS sengaja tak diajak dalam pertemuan tersebut.

“Memang umrah ini tidak direncanakan bersama-sama,” ujar Andre, Minggu (03/06/2018).

Menurut Andre, Ketua Dewan Syuro PKS, Salim Segaf, sehari setelah pertemuan Amien dan Prabowo dengan Ketua DPP FPI Rizieq Shihab menyusul pergi umrah.

“Jadi, Pak Sohibul di Jakarta, lalu Pak Salim datangnya setelah Pak Prabowo dan Pak Amien ketemu Habib Rizieq. Lagian beberapa bulan yang lalu sudah ada pertemuan Habib Salim dan Habib Rizieq,” sebut Andre.

Andre juga memastikan tak ada perpecahan di antara Gerindra, PAN dan PKS karena absennya pimpinan PKS dalam foto umrah bersama yang tersebar ke media.

Konteks Pertemuan Prabowo-Amien dan Rizieq

Ihwal pertemuan antara Prabowo dan Amien Rais ini diungkap oleh Ketua PA 212, Slamet Maarif. Pria yang juga merupakan juru bicara FPI ini menyebut, pertemuan antara ketua umum Partai Gerindra dengan sejumlah petinggi PA 212 itu sebagai perjumpaan yang tak terduga.

“Sungguh karunia dan rencana Allah yang begitu indah, tanpa direncanakan rombongan Ketua Dewan Pertimbangan PAN sekaligus Ketua Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni 212, Prof Dr H Amien Rais yang didampingi oleh Ketua Umum PA 212, Slamet Maarif, Hanafi Rais bertemu dengan rombongan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di pelataran Kabah, hari Sabtu, 2 Juni 2018 sekitar pukul 02.00 seusai melaksanakan ibadah Thowaf,” demikian keterangan tertulis yang diterima pers, Sabtu (02/06/2018).

Bertukar Pikiran

Keterangan tersebut memuat penjelasan Slamet bahwa pertemuan antara Prabowo dan Amien Rais dilanjutkan di sebuah hotel. Slamet menyebutkan para tokoh itu bertukar pikiran. Menurut Slamet, kesempatan tersebut juga dimanfaatkan dirinya sebagai ketua umum PA 212 untuk menyampaikan hasil Rakornas PA 212.

Belum sampai 24 jam dari pertemuan, Slamet menginformasikan kembali bahwa Prabowo beserta Amien Rais menemui imam besar FPI, Rizieq Shihab.

“Alhamdulillah hari ini Sabtu, 2-6-2018 Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto dan Ketua Dewan Pertimbangan PAN H Amien Rais serta Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif bersilaturahmi ke kediaman Alhabib Muh Rizieq Shihab tepat pukul 14.15 waktu Arab Saudi,” demikian pesan yang dikirim Slamet kepada pers.

Dalam pertemuan itu, Rizieq mengharap dan meminta kepada Prabowo dan Amien untuk segera merealisasikan keinginan umat untuk deklarasi terbuka koalisi Gerindra, PAN, PKS, PBB dalam waktu dekat. Rizieq juga meminta keempat partai itu membuka pintu kepada partai lain, terutama yang berbasis massa Islam untuk bergabung.

Selain itu, Rizieq pun memandang para capres-cawapres hasil Rakornas PA 212, termasuk nama Prabowo cocok sebagai pemimpin.

“Berkenaan dengan rekomendasi Rakornas PA 212, HRS [Habib Rizieq Shihab] mengatakan semua capres dan cawapres yang direkomendasikan semua bagus dan layak memimpin bangsa Indonesia,” imbuh Slamet.

Eva Kusuma Sundari selaku Politikus PDI Perjuangan tak mau ambil pusing dengan pertemuan antara Prabowo dan Amien Rais dengan Rizieq. Menurutnya, hal itu bukan sesuatu yang spesial, meskipun membahas soal Pilpres.

“Topik, tentu soal Pilpres. Tapi masih penjajakan-penjajakan karena belum ada pendaftaran resmi sehingga kami pantau saja. Kan soal pemilihan cawapres itu faktor penting yang menentukan peta kekuatan,” ungkap Eva, Minggu (3/6/2018).