Cerita Seorang Turis Muslim yang Diusir Dari Masjid. Baca Kisahnya dan Sebarkan!


IMG_8825

Banyak yang tidak menyadari bahwa isu ‘masjid ditutup’ sebenarnya tidak hanya terjadi di negara asing, bahkan di Malaysia dan Indonesia juga kemungkinan bisa terjadi. Kebanyakan masjid-masjid di kedua negara ini yang mengunci pintu utamanya rapat-rapat, setelah menggelar salat jamaah.

Mungkin langkah ini diambil karena ingin menghindari pencurian. Namun bagaimana dengan para musafir yang ingin menunaikan kewajiban mereka?. Wisatawan asal Malaysia, Irshad Harris, membagikan pengalaman sewaktu ingin menunaikan salat Subuh di sebuah daerah di Seoul, Korea Selatan.

Pengalaman Harris sedikit sebanyak membuka mata dan pikiran tentang rumah Allah SWT yang harus selalu terbuka luas untuk umat-Nya. Inilah jawabannya kenapa Islam masih tidak berkembang di Korea Selatan. Harris tiba di Seoul Station tepat jam 04:32 pagi dan melanjutkan perjalanan ke Yongsan Station untuk menaruh tas bawaan. Dia memang punya rencana kembali ke stasiun tersebut petang nanti. turis muslim.

Setelah menaruh tas bawaan di Yongsan Station, Harris si turis muslim bergegas ke Itaewon Station dengan harapan dapat salat berjamaah Subuh di Masjid Itaewon. Setelah berputar-putar di kota Itaewon yang suhunya mencapai -7 derajat Celcius, Harris belum juga menemukan Masjid Itaewon. Hingga jam 07:15, Harris belum juga menemukan masjid hingga bertemu seorang perempuan Korea yang sepertinya akan berangkat kerja.

“Itaewon Mosque?”, tanya Harris si turis muslim, yang dijawab perempuan itu, “Islam Temple? This way and turn right.”. Tepat jam 07:30 Harris sampai di Masjid Itaewon. Tak tahu kenapa dia ingin menangis macam melihat Kabah, mungkin karena sudah terlalu letih dan kedinginan.

Dan, di sinilah timbulnya kekecewaan Harris. “Aku punya semangat ingin salat di Masjid Itaewon, bahkan dari Seoul Station aku sudah ambil wudu.”. “Satu demi satu anak tangga masjid aku naiki, tak henti-henti mengucap Alhamdulillah. Kemudian terlihat dua orang di depan pintu masjid sedang mengobrol. Seorang warga Korea dan satu lagi seperti orang Pakistan. Mungkin mereka imam dan muazin.”

Lanjut ke halaman selanjutnya >>