Gemas! Harapkan Presiden Tegas Tangani Radikalisme, Ini yang Dilakukan Gus Nuril


SURATKABAR.ID – Nuril Arifin Husein atau yang akrab disapa Gus Nuril mengaku gemas dengan sikap Presiden Jokowi dan para jenderal di belakangnya yang seolah memberi ruang gerak pada kelompok radikal. Pimpinan Pondok Pesantren Sokotunggal Semarang Jawa Tengah ini berharap kepala negara RI bisa bertindak lebih tegas lagi.

“Okelah Pak Jokowi memang priyayi Solo yang santun, tapi kami harap beliau dengan para jenderal di pemerintahan lebih berani bertindak lebih tegas pada kelompok radikal ini,” ujar Gus Nuril di sela menghadiri acara Ngaji Kebangsaan dan Buka Puasa Bersama di Lapangan Nur Iman Mlangi Sleman Yogyakarta, Rabu (30/05/2018) sore. Demikian seperti dikutip dari laporan Tempo.co, Kamis (31/05/2018).

Dituturkan Gus Nuril, merebaknya paham radikal ini di tanah air ini tanda-tandanya saja sudah bisa dilihat dan dirasakan tanpa bisa ditutupi lagi. Misalnya dari fenomena makin banyaknya orang yang sedikit-sedikit mengatasnamakan agama demi menghakimi sesuatu yang dinilai berbeda dengan kelompoknya.

“Kelompok ini merasa dirinya paling baik, paling suci, gampang mengkafirkan orang dan membuat suasana memanas,” tandasnya.

Ia juga menambahkan, daerah-daerah yang dulunya berwajah lembut dan hampir tak ada gesekan berbau agama, kini berubah atmosfernya menjadi bengis karena agama dijadikan alat sekelompok orang untuk meneror sesamanya yang lain.

Baca juga: Ngeri! Pengakuan Remaja Putri Soal Jihad ke Suriah Hingga Belajar ISIS dari Internet

“Termasuk Yogya (Yogyakarta) yang kini tampilannya jadi bengis, dulu kota pelajar, intelektual, kini gampang sekali tersulut soal agama,” imbuhnya.

Nuril juga mengaku kecewa dengan kinerja Kementerian Agama yang tak juga berani menindak kelompok radikal dan intoleran itu.

“Kalau kementerian agama masih mengurusi haji dan umroh sebaiknya dibubarkan saja,” tegasnya.

Nuril mengutarakan, diamnya pemerintahan Jokowi pada gerakan kelompok radikal yang mengatasnamakan agama Islam ini bisa-bisa menjadi bom waktu suatu saat. Pasalnya, kelompok ini sebenarnya bukan kelompok beragama melainkan peneror demi kepentingan tertentu yang jauh dari unsur agama yang baik.

“Akan terjadi gesekan horizontal dengan kelompok masyarakat lain, yang selama ini hanya diam ketika agamanya dijadikan kelompok itu untuk alat meneror lainnya, “ ujarnya.

Gus Nuril menuturkan, kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam ini belakangan juga menyerang para sesepuh dan ulama Nahdlatul Ulama namun terus dibiarkan.

“Kami di bawah para sesepuh dan ulama NU sudah tak sabar, kelompok ini tak bisa dibiarkan, harus diberi pelajaran,” sebutnya.

Aktifkan Pasukan Berani Mati Gus Dur

Makin merajalelanya radikalisme yang kian mengusik Indonesia sebagai negara majemuk membuat Gus Nuril merasa geram.

“Indonesia sekarang dari luar seolah-olah tenang tanpa masalah, tapi di dalam sebenarnya ada sekelompok radikal yang mengatasnamakan agama sedang mencoba mengoyak-ngoyak NKRI,” ungkap Gus Nuril di sela menggelar acara Ngaji Kebangsaan dan Buka Puasa Bersama di Lapangan Nur Iman, Mlangi, Sleman, Rabu sore (30/05/2018).

Penuturan Nuril, kelompok radikal ini tumbuh subur karena menunggangi atau ditunggangi partai politik dan secara masif mulai mengacau sendi-sendi pluralitas Indonesia.

“Kelompok radikal ini memulai gerakannya dengan melakukan takfiri atau pengkafiran. Kalau sudah melakukan pengkafiran, mereka melakukan pembantaian pada yang tak sepaham dengan kelompoknya,” lanjutnya.

Namun yang membuat Nuril makin geram dan perlu melakukan gerakan perlawanan adalah saat kelompok radikal ini mulai menyerang para sesepuh dan ulama, termasuk dari kalangan Nahdlatul Ulama.

“Jangankan yang non-Islam, yang Islam pun mereka kafirkan. Maka, kami sudah mulai tak sabar (untuk melawan). Kelompok ini perlu diberi pelajaran,” tandasnya.

Untuk meredam radikalisme ini, Gus Nuril pun mendeklarasikan ormas bernama Patriot Garuda Nusantara atau Pagar Nusa atau PGN tahun lalu.

“PGN ini reinkarnasi Pasukan Berani Mati era Gus Dur dan Hisbullah di masa lalu,” ujar Nuril.

Nuril menambahkan, gerakan ini demi menjawab kebutuhan silent majority berbagai lintas agama yang sebenarnya ingin melawan gerakan-gerakan radikal tapi masih merasa takut.

PGN lahir karena sebelumnya banyak kalangan non-muslim ingin bergabung dengan Barisan Serbaguna dan Ansor. Padahal dua organisasi sayap Nahdlatul Ulama itu khusus kalangan muslim.

“Saat ini, PGN memang masih beranggotakan 380 ribu orang, tapi tahun ini kami menjadi tiga juta,” sebut Nuril.

Gus Nuril mengemukakan, untuk melawan gerakan radikalisme, hal pertama yang dilakukan yaitu menyasarnya agar tak leluasa dan makin menyebar luas.

“Maka, pertama, gerakan kami mengatakan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) harus bubar,” imbuhnya.

Sebab, menurut Nuril, meski organisasi itu sudah dibubarkan, ia meyakini orang-orang eks anggota HTI belum sirna benar dari mimpinya mengubah Pancasila menjadi khilafah sebagai dasar negara.

“Kami bukan kelompok yang dapat rente politik dan ekonomi. Tapi, sekali negara digoncang-goncang dengan paham seperti khilafah, kami bergerak,” pungkasnya.