Soal E-KTP Tercecer, Tjahjo Kumolo: Saya Jamin Ini Tidak Mungkin Untuk Digandakan


SURATKABAR.ID – Tjahjo Kumolo yang merupakan Menteri Dalam Negeri menyatakan pihaknya menjamin tidak ada motif kepentingan politik di balik insiden tercecernya sekitar 6.000 lebih KTP elektronik di kawasan Depok dan Salabenda, Bogor, Jawa Barat. Tjahjo Kumolo memastikan insiden yang terjadi Sabtu pekan lalu itu hanya murni merupakan kelalaian bawahannya dalam membawa barang berkonten sensitif tersebut.

“Saya menjamin dengan tanggung jawab, bahwa ini tidak akan mungkin untuk digandakan dan digunakan untuk kepentingan Pilkada ataupun Pileg,” tegas Tjahjo di acara Indonesia Lawyer Club tvOne, Selasa malam (29/05/2018). Demikian seperti dilansir dari laporan Viva.co.id, Rabu (30/05/2018).

Tjahjo juga menyebut dirinya akan menerima kritik yang disampaikan publik, termasuk para pimpinan dan anggota DPR. Ia berterimakasih atas kritik membangun yang bermanfaat untuk mengevaluasi lembaganya. Apalagi dalam hal ini soal e-KTP merupakan kerahasiaan data penduduk.

“Itu kritik yang membangun untuk kami bisa lebih hati- hati,” ujarnya.

Sementara itu, Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakrulloh, menyampaikan bahwa persoalan tercecernya ribuan KTP elektronik sudah ditangani.

Baca juga: 2 Kardus E-KTP Beralamat Sumsel Tercecer di Bogor, Kemendagri Segera Melacak

Sehingga ia berpendapat, persoalan ini baiknya tidak lagi dibesar-besarkan dan menjadi komoditas politik apalagi telah tersebar viral di media sosial.

“KTP elektronik yang rusak dan terjatuh sudah dibawa semua ke dalam gudang dan aman. Kemudian ini hanya kelalaian saja, tidak ada kesengajaan. Jadi masalahnya sudah clear sudah jernih,” ucap Zudan.

Menjawab Keresahan Masyarakat

Melansir reportase Wow.TribunNews.com, Tjahjo Kumolo kemudian menceritakan selama dirinya menjadi Mendagri, 15 Dirjen dan lembaga, yang paling ia perhatikan secara khusus adalah Dirjen Dukcapil.

“Bayangkan 4 tahun ini hidupnya hampir 100 orang teman-teman pejabat di Depdagri itu ke KPK, tapi toh sudah 97 persen e-KTP itu berjalan,” imbuhnya.

Menjawab keresahan masyarakat, Tjahjo Kumolo memberikan jaminan jika e-KTP tersebut tidak akan disalah gunakan untuk kepentingan Pilkada atau Pileg.

“Saya menjamin bahwa ini tidak akan mungkin digandakan, atau digunakan untuk kepentingan Pilkada ataupun Pileg. Soal ada kecurigaan, was-was, saya kira sah-sah saja karena sekarang ini orang yang tinggalnya di Aceh, Merauke, di Kabupaten Malaka, Manado, itu bisa merekam e-KTP yang berada di Pasar Minggu yang sifatnya nasional,” bebernya kemudian.

Ia juga mengklaim bahwa dirinya sempat menanyakan kepada Dirjen Dukcapil kenapa e-KTP yang rusak tidak langsung dimusnahkan saja sekalian. Tjahjo Kumolo lantas menyebut jika pihak Dirjen Dukcapil takut terhadap KPK. Pasalnya, jika suatu saat nanti pihaknya ditanyai barang fisik bukti e-KTP dan ternyata sudah dimusnahkan, lantas bagaimana?

“Maka kami simpan di gudang Kemendagri kalau nanti ditanyakan,” sebut Tjahjo menirukan pernyataan Dirjen Dukcapil.

Diberitakan sebelumnya, tercecernya ratusan KTP elektronik (e-KTP) di Jalan Raya Salabenda, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor pada Sabtu (26/05/2018) telah menjadi viral di media sosial dan menghebohkan masyarakat.

Awalnya, E-KTP yang tercecer di jalanan adalah KTP elektronik yang sudah rusak dan invalid. E-KTP tersebut kemudian diangkut dari gudang penyimpanan sementera di Pasar Minggu ke gudang Kemendagri yang berada di Semplak, Bogor.

Setelah itu, e-KTP itu dibawa bersamaan dengan inventori rusak dan arsip yang berusia lebih dari 5 tahun. Pengangkutan ini menggunakan jasa truk ekspedisi, yang pihak Tjahjo Kumolo sendiri menyayangkan mengapa tidak menggunakan truck box saja.

Kemudian, sekitar pukul 12.31 WIB, kardus yang berisi e-KTP jatuh di Jalan Raya Salabenda. Dugaan sementara lantaran truk mengalami guncangan di jalan. Dilaporkan, e-KTP rusak atau invalid yang di bawa ke Semplak adalah sebanyak 1 kardus dan seperempat karung. Seluruh e-KTP yang jatuh inipun telah diamankan dan saat ini berada si gudang Kemendagri di Semplak, Bogor. Adapun pihak kepolisian dari Polres Kabupaten Bogor juga telah menangani kasus tersebut.

Penjelasan selengkapnya dari pihak-pihak yang bersangkutan dapat disaksikan di video di sebagai berikut: