Duhh! Demi Bisa Diambilkan Rapor oleh Sang Ayah, Bocah SD Sampai Minta Tolong Komnas HAM


SURATKABAR.ID – Anak mana pun tentu ingin orangtua bisa datang pada hari pembagian rapor di sekolah. Meskipun hubungan anak dengan ayah atau ibunya sedang dirundung masalah, namun mereka tetap berharap agar orangtua tetap datang ke sekolah sebagai bentuk perhatian.

Itulah yang dirasakan seorang bocah perempuan berusia 12 tahun, ANL. Meski ayahnya dicap sebagai penjahat lantaran terlibat dalam kasus penggelapan mobil mewah Ferari senilai 12 miliar rupiah dan harus mendekam di penjara, ia tetap menganggap sang ayah sebagai sosok teladan.

Dan demi mewujudkan impiannya, di mana sang ayah datang mengambil rapor sekolahnya, ia nekat datang bersama sang nenek ke ibu kota untuk meminta tolong kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Jakarta, dilansir Grid.ID.

ANL meminta agar Komnas HAM dapat membuat sang ayah mengantarkan dirinya pada saat hari penerimaan rapor di sekolahnya pada bulan Juni mendatang. “Inginnya saya diantar Papi saat menerima rapor nanti,” tuturnya, Selasa (29/5), dikutip dari Grid.ID, Rabu (30/5/2018).

Baca Juga: Astaghfirullah! Bocah SD Hamili Siswi SMP di Tulungagung, Tanggapan Ayah Pelaku Bikin Gempar

Gadis kecil ini juga dengan tegas menyatakan keyakinannya bahwa sang ayah tidak bersalah dalam kasus tersebut. Untuk itu ia memohon kepada pihak yang berwajib agar bersedia membebaskan ayahnya. “Papi saya tidak salah, saya rindu Papi, sudah setahun lebih tidak bertemu,” ungkapnya pilu.

Ungkapan kerinduannya kepada sang ayah juga pernah ia dokumentasikan dan dibagikan melalui akun media sosial. “Papi saya enggak salah, kenapa kok ditahan? Ini tidak sesuai dengan sila kelima dari Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang saya pelajari di sekolah,” tutur ANL.

Ayah ANL sendiri diketahui diduga melakukan tindak penyelewengan mobil Ferari seharga Rp 12 miliar. Ia ditangkap tim Bareskrim Mabes Polri di Semarang, Jawa Tengah, pada Mei 2017 silam. Dan atas perbuatannya, ia dijatuhi vonis kurungan penjara selama 3 tahun.

Vonis atas dakwaan melakukan tindak pidana Pasal 372 KUHP sesuai dengan vonis tingkat pertama di Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan Nomor 1267/Pid.B/2017/PN.Jkt.Brt yang kemudian dikuatkan dengan Putusan Banding tingkat Pengadilan Tinggi DKI Nomor 331/PID/2017/PT.DKI. Untuk kasasi yang diajukannya pun ditolak Mahkamah Agung.