Kisah Pelajar Muslim, Berpuasa di Tengah Sekolah Nasrani


    SURATKABAR.IDPuasa merupakan ibadah yang wajib dilakukan oleh umat islam yang memenuhi syarat. Diantaranya yakni beragama islam, baligh, berakal, mampu menjalankan puasa dan tidak sedang dalam perjalanan (musafir). Berpuasa wajib dilakukan ketika masuk bulan Ramadan. Umumnya sekolah akan mengurangi jam pelajaran saat memasuki bulan ramadan, bahkan tak jarang sekolah akan memulangkan siswanya lebih pagi.

    Namun bagaimana dengan para pelajar muslim yang bersekolah di sekolah Nasrani? Tentunya akan menjadi hal yang berbeda dengan sekolah yang kebanyakan mempersingkat proses belajar mengajarnya. Berikut wawancara pada beberapa pelajar muslim yang menjalankan ibadah puasa di tengah banyaknya teman-teman mereka yang tidak berpuasa, dikutip dari kumparan.com.

    Puasa yang berarti tidak makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari pasti membuat siapapun lapar dan haus, terlebih apabila kita melakukan aktivitas yang padat dan kurang beristirahat. Seperti yang dialami Mory, alumni dari SMP Yuwati Bhakti dan SMA Mardi Yuana Sukabumi. Mory menjelaskan bahwa tidak ada pengurangan dalam waktu belajar mengajar, semua berjalan normal seperti biasanya, termasuk ketika pelajaran olahraga.
    “Meski puasa, jam 12 tetap disuruh olahraga futsal, voli, lompat jauh, kalau enggak (dilakukan) nanti enggak dapat nilai,” ujar Mory.
    Dikala aktivitas sekolah yang padat, Mory mengaku pernah membatalkan puasanya saat masih SMP.
    “Habis futsal siang-siang, bayangin aja. Nah, kebetulan ada tukang es buah lewat, langsung aja dibatalin, soalnya haus haha,” kenang Mory.
    Namun Mory mengaku bahwa Ia membatalkan puasa hanya pernah dia lakukan ketika masih SMP. Ketika SMA, Mory selalu menamatkan puasanya meski harus menahan lapar, haus dan rasa lelah.
    Selain aktivitas sekolah yang padat dan normal pada umumnya, menahan lapar dan haus di tengah mayoritas yang tidak berpuasa menjadi sebuah tantangan tersendiri. Karena kantin di sekolah nasrani tetap buka, aroma masakan yang tercium serta teman-teman yang mayoritas jajan juga menjadi godaan tersendiri. Seperti yang dirasakan oleh Bintang, pelajar kelas 11 di SMA Kolese Gonzaga, Jakarta.
    “Kalau puasa harus lebih banyak sabar, beberapa teman masih ada yang suka lupa aku lagi puasa terus ngajakin makan. Tapi aku pribadi enggak masalah sih,” terang Bintang.

    Meskipun perbedaan yang jelas terasa, namun toleransi tetap dijunjung tinggi dan ditampilkan oleh para pelajar yang mayoritasnya bergama nasrani. Seperti yang dialami oleh Mory yang bercerita bahwa teman-teman nasrani nya yang pergi ke kantin saat istirahat, meminta maaf pada Mory karena menghargai dia yang sedang berpuasa.
    “Terus teman-teman juga enggak ada yang menjerumuskan buat batal puasa, malah pada support gitu,” ungkap Mory.
    Selaras dengan yang dirasakan Dini, salah satu pelajar muslim di salah satu sekolah nasrani di Padang. Dini bercerita, ketika Ramadhan tiba, teman-teman kelasnya turut berpartisipasi mengadakan acara buka puasa bersama. Bahkan, sebelum libur lebaran pun, mereka mengadakan acara silaturahmi untuk saling bermaafan.
    Indahnya toleransi begitu ketara pada cerita-cerita tersebut, dan tentunya akan menjadi cerita yang berkesan dan indah untuk dikenang.