Sebut Pemerintahan Tak Rasional, Pangeran Saudi Serukan Kudeta Raja Salman


SURATKABAR.ID – Pangeran Khalid bin Farhantelah, anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi yang tinggal di pengasingan, meminta paman-pamannya untuk menjatuhkan Pemerintahan Raja Salman bin Abdulaziz dan mengambil alih kursi kepemimpinan.

Pangeran Khalid bin Farhantelah, seperti diwartakan Republika.co.id, menilai bahwa Pemerintahan Raja Salman sangat tidak rasional. Dalam wawancara dengan Middle East Eye, ia bahkan memberikan iming-iming yang tidak main-main kepada para pamannya jika menuruti permintaan tersebut.

Disebutkan, jika paman-pamannya, yakni Pangeran Ahmed bin Abdulaziz dan Pangeran Muqrin bin Abdulaziz bersedia melakukan kudeta, maka 99 persen anggota keluarga kerajaan, dinas keamanan, hingga tentara dipastikan akan berdiri di belakang mereka.

Lantas apa alasan Pangeran Khalid menyerukan kudeta terhadap Raja Salman? Menurutnya, Arab Saudi saat ini tidah membutuhkan reformasi belaka, melainkan adanya perubahan penguasa atau tokoh yang memerintah negara. Ia juga menyebut bahwa kerusakan yang ada akan diperbaiki.

Baca Juga: Bantah Pernyataan anaknya, Raja Salman Tegaskan Dukung Palestina

“Ada begitu banyak kemarahan di dalam keluarga kerajaan,” demikian pengakuan yang dikeluarkan Pangeran Khalid bin Farhantelah seperti yang dikutip Republika.co.id dari Middle East Eye pada Rabu (23/5/2018).

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa dirinya telah meminta kepada para pamannya untuk melakukan kudeta terhadap Pemerintahan Raja Salman. “Saya dapat mengatakan bahwa kita semua berada di belakang mereka dan mendukung mereka.

Pangeran Khalid bin Farhantelah sendiri terlahir dari seorang ayah berdarah Saudi dan seorang ibu berdarah Mesir. Beberapa tahun lalu, tepatnya pada tahun 2013 silam, ia berhasil mendapatkan suaka politik di Jerman.

Seperti yang diketahui sebelumnya, atas tuduhan telah melakukan tindak korupsi, Komite Antikorupsi Arab Saudi yang dipimpin Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman menindak 11 pangeran, empat menteri, dan mantan menteri dengan menangkap mereka.