Blak-blakan! Rizal Ramli Beberkan Alasan Ia Ditendang dari Kabinet Kerja


SURATKABAR.ID – Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli tiba-tiba membeberkan alasan dirinya “ditendang” dari Kabinet Kerja.

Dalam acara Jaya Suprana Show, Rizal menuturkan, ada sejumlah pihak yang tak suka ia berada di Kabinet Kerja karena jurus kepretnya. Menurutnya, jurus kepret ini merupakan caranya untuk mengingatkan agar para pejabar tak melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme alias KKN.

Akibatnya, jurus kepret ini menyebabkan sejumlah pihak merasa tak leluasa melakukan KKN. Pihak-pihak inilah yang diduga tak menyukai keberadaan Rizal di Kabinet Kerja.

Selain itu, ia juga menyinggung soal beberapa mega proyek negara yang terlalu dipaksakan dan menyebabkan negara merugi. Salah satunya adalah mega proyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt.

Baca juga: Fahri Hamzah: Jangan Negara Mengontrol Pikiran Orang

Proyek yang diwacanakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak memimpin pada 2014 lalu itu dituding terancam sia-sia. Menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution, Oktober 2017 lalu, asupan listrik yang dihasilkan proyek tersebut akan jauh melebihi permintaan listrik saat ini.

“Memang listrik itu jangan sampai lebih. Kalau lebih, enggak dipakai tetapi tetap (PLN) harus bayar kepada investor (pembangkit listriknya),” tutur Darmin, di Jakarta, Senin (16/10/2017) lalu, dilansir tribunnews.com.

Menurut Rizal, ia sudah bisa memprediksi bahwa proyek tersebut tak akan berjalan mulus. “Tikus yang main di proyek listrik, mau maksain 35 ribu watt, kan saya kepret. Waktu itu saya dibantah-bantah, sekarang kan terbukti,” tuturnya di hadapan Jaya Suprana.

Tak hanya soal listrik, Rizal juga menyinggung soal proyek pembelian pesawat Garuda Indonesia long route Airbus A350. Menurutnya, proyek ini bisa menyebabkan Garuda merugi. Terlebih pada 2016 Garuda rugi sebesar Rp 2,4 triliun dan Rp 3,2 triliun pada 2017.

Ia menyarankan, Garuda sebaiknya lebih fokus pada penerbangan dalam negeri dan wilayah Asia.

“Seharusnya Garuda lebih fokus pada domestik dan Asia, karena Garuda pasti bisa ngalahin Japan Airlines, lebih efisien, kualitas servisnya sama bagus. Garuda pasti bisa mengalahkan Qantas Airlines, bisa mengalahkan New Zealand, bisa mengalahkan Malaysia, kita kuasai dulu pasar regional,” tegasnya.

Pembelian Airbus A350 tersebut akhirnya dibatalkan dan diganti dengan pembelian Airbus Neo. Rizal menambahkan, ia telah mewanti-wanti hal tersebut sejak 2,5 tahun lalu.

“Ibu menterinya juga mengatakan kepada Garuda untuk fokus pada domestik dan regional, yang merugi batalkan. Lho ini nasehat Rizal Ramli 2,5 tahun yang lalu, antisipasi Rizal Ramli 2,5 tahun yang lalu. Baru sekarang diucapkan kata-kata yang sama, nasehat yang sama oleh yang berkuasa,” lanjutnya.

Selain itu, Rizal juga menegaskan bahwa memang ada pihak-pihak dalam Kabinet Kerja yang tak ingin dikepret olehnya.