Cina Dituding Tindas Muslim di Xinjiang, Ternyata Begini Faktanya


SURATKABAR.ID – Beberapa waktu belakangan beredar kabar bahwa muslim di Xinjiang mendapat perlakuan tak adil dari pemerintah Cina.

Namun, benarkah hal itu yang terjadi? Dilansir detik.com, timnya sempat mendatangi Xinjiang pada 3-11 Mei lalu.

Sejumlah wartawan dari beberapa negara bertemu dengan State Council Information Office China, Information Office Xinjiang Uyghur Autonomous Region dan Xinjiang Islamic Institute di Ibukota Provinsi Xinjiang Uyghur Autonomus Region, Kota Urumqi.

Saat itu, Presiden Xinjiang Islamic Institute Abdurakib Bun Tumurniyaz memberikan keterangan mengenai berita yang telah tersebar luas tersebut.

“Berita soal puasa Ramadan dilarang, itu tidak benar! Datang saja ke sini dan lihat langsung. Tidak ada aturan larangan. Saya memelihara janggut panjang begini apa saya ditangkap? Kan tidak,” tutur Abdurakib, dilansir detik.com, Jumat (!8/5/2018) lalu.

Baca juga: Biadab! Cina Paksa Tahanan Muslim Makan Babi dan Minum Alkohol

Selain itu, mengenai kerusuhan 2009 yang diikuti sejumlah insiden di tahun-tahun berikutnya, Abdurakib memastikan bahwa penyebabnya bukanlah Muslim. Menurutnya, Xinjiang menghadapi masalah ekstremisme yang melibatkan kekerasan.

“Berdasar UU di China dan peraturan agama di Xinjiang, setiap warga negara berhak mendapatkan kebebasan menjalankan agama. Gerakan ekstremisme internasional mempengaruhi Xinjiang, mereka anti agama dan anti masyarakat. Mereka merusak persatuan masyarakat. Sehingga melawan ekstremisme adalah untuk kepentingan semua orang,” lanjutnya.

Ia pun tak menampik bahwa siswa Muslim yang bersekolah di sekolah milik pemerintah Cina, memang tak diizinkan menjalankan ibadah. Sebab, pemerintah komunis Cina memang meniadakan urusan agama di kantor pemerintahan maupun institusinya.

“Jika itu institusi pemerintah memang begitu aturannya. Tapi selepas dari sana, mereka bisa belajar agama Islam di sini,” terangnya.

Sementara itu, Sultan Mahmood Hali, wartawan senior Nawa-i-Waqt asal pakistan yang kerap bolak-balik ke Xinjiang memastikan bahwa perkembangan XInjiang Islamic Institune mengalami banyak kemajuan.

“Dulu kantornya gedung tua bukan di sini tempatnya. Ini gedung baru, saya juga baru lihat dan memang besar dan bagus,” tegasnya.

Namun, jika dilihat secara objektif, baik pemerintah Cina maupun oknum masyarakat Uyghur sama-sama melakukan kesalahan.

Sebab, pemerintah Cina menghadapi kelompok minoritas dengan sikap represif. Semantara oknum masyarakat Uyghur melakukan tindak kekerasan seperti terorisme dan separatisme. Padahal, tak semua etnis muslim Uyghur mendukung gerakan tersebut.