Terpidana Bom Bali Ali Imron Kuak Fakta Mengejutkan Jadi Teroris, Cukup 2 Jam Provokasi dan Siap!


SURATKABAR.ID – Terpidana kasus bom Bali, Ali Imron baru-baru ini membongkar beberapa fakta mengejutkan mengenai aksi terorisme, mulai dari awal mula dirinya masuk menjadi teroris hingga hubungannya dengan kelompok Islamic State in Iraq and Syria (ISIS).

Ali Imron, seperti dilansir Grid.ID dari laman Tribunnews.com pada Sabtu (19/5/2018), mengaku bahwa jauh sebelum berdirinya ISIS, ia sudah menjadi teroris. Ia juga tegas menyatakan dirinya bukan bagian ISIS, melainkan Jaringan Islamiyah (JI) yang sangat berbeda dengan kelompok teroris asal Syria tersebut.

Ia mengaku JI sesungguhnya memiliki hubungan erat dengan Alqaidah dan Jaringan Ansharut Daulah (JAD) yang merupakan kroni dari ISIS itu sendiri. Ali Imron juga menyebutkan bahwa selama ini bom-bom yang digunakan melancarkan serangan teror didasarkan intimidasi yang dirasakan kaum muslimin.

Sebagai contoh, ia menyebutkan bahwa latar belakang dilancarkannya bom gereja adalah dikarenakan beberapa waktu sebelumnya terjadi kerusuhan di Ambon dan Poso. Sementara bom di Pulau Dewata dilakukan sebagai tanggapan serangan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Afganistan.

Baca Juga: Dituntut Hukuman Mati, Tampak Aman Abdurrahman Berbisik dan Ulurkan Secarik Kertas pada Pengacara

Adapun pemilihan Bali sebagai sasaran bom kelompoknya adalah, sangat besar kemungkinannya banyak warga Amerika yang berada di pulau tersebut. Jadi keputusan meledakkan bom di Bali bukan tanpa alasan.

Penuturan Ali Imron yang dibagikan oleh akun Instagram Rosianna Silalahi, @silalahirosi, salah saru News Director KompasTV, pada Jumat (18/5) kemarin. Dan di depan kamera, Ali Imron menguak waktu yang dibutuhkan untuk menanamkan doktrin radikal tersebut di otak para remaja.

Fakta yang sangat mengejutkan adalah, bahwa para pentolan terorisme sama sekali tidak membutuhkan waktu lama. Ali Imron mengungkapkan hanya perlu waktu tidak lebih dari 2 jam saja untuk mengajak orang-orang bergabung dengan kelompok terorisme.

“Sebenarnya berapa lama sih, yang dibutuhkan oleh remaha atau usia-usia muda lainnya untuk menerima paham ini dan kemudian tergerak bergabung dengan kelompok teror?” tanya Rosi blak-blakan, dikutip dari Grid.ID.

“Jadi tidak lama,” ungkap Ali Imron tegas.

“Tidak lama?” Rosi meminta kepastian.

“Tidak lama. Kalau seperti saya ini mengajak orang cukup dalam 2 jam saja,” tutur Ali Imron.

Intip sesi wawancara singkat antara Rosi Silalahi dengan Ali Imron di bawah ini: