Tim Ilmuwan Internasional Ungkap Kemungkinan Gurita adalah Alien


    SURATKABAR.ID – Biasanya, teori konspirasi mengenai invasi alien ke bumi hanya muncul di internet saja—dan itu pun masih simpang-siur dan terkesan terselubung. Tapi bagaimana jika teori ini malah muncul dalam sebuah jurnal ilmiah? Inilah yang dilakukan oleh 33 ilmuwan yang tergabung dalam tim internasional. Mereka merilis laporan dalam jurnal Progress in Biophysics and Molecular Biology belum lama ini.

    Mengutip laporan Kompas.com, Sabtu (19/05/2018), dalam laporan itu, tim ilmuwan internasional berteori tentang keberadaan spesies alien yang hidup bersama manusia. Dalam laporan tersebut, para periset menyimpulkan bahwa cephalopoda (cumi-cumi, gurita, dan sotong) mungkin berasal dari suatu tempat selain Bumi.

    “Bukti peran virus luar angkasa dalam memengaruhi evolusi terestrial baru-baru ini secara tersirat terkandung dalam gen sekuensi transkriptom Cephalopoda,” tulis para peneliti dikutip dari BGR, Kamis (17/05/2018).

    “Genom gurita menunjukkan tingkat kerumitan yang mengejutkan dengan 33.000 kode protein gen lebih banyak dibanding manusia saat ini,” tambahnya.

    Menumpang Komet Beku

    Para ilmuwan ini menentang keyakinan bahwa kelompok cephalopoda modern berevolusi di Bumi. Mereka mengusulkan kemungkinan bahwa kelompok hewan terkait merupakan keturunan makhluk yang tiba di Bumi dengan “menumpang” pada komet yang membeku.

    Baca juga: Mengapa Ilmuwan Tergila-gila Untuk Meneliti Alien? 

    “Otak besar dan sistem saraf canggih, mata seperti kamera, tubuh fleksibel, serta kamuflase seketika melalui kemampuan untuk mengubah warna dan bentuk hanya beberapa fitur yang muncul tiba-tiba dalam adegan evolusi,” tulis laporan tersebut.

    Tak hanya itu saja, tim ilmuwan internasional ini juga menolak berbagai fitur gurita tersebut sebagai evolusi yang terjadi pada makhluk bumi. Mereka menunjukkan kemungkinan bahwa kompleksitas itu terjadi karena telur gurita menabrak samudera sewaktu komet jatuh di Bumi pada jutaan tahun lalu.

    “Jadi, kemungkinan bahwa cumi-cumi cryopreserved dan/ atau telur gurita tiba di es bolides beberapa ratus juta tahun yang lalu tersebut tidak boleh diabaikan,” demikian ditulis mereka, seperti dikutip dari Science Alert, Rabu (16/05/2018).

    squids
    Tanggapan Publik

    Pendapat para ilmuwan ini tentu langsung mendapat banyak tanggapan dari berbagai pihak. Salah satunya yaitu Denis Noble yang merupakan seorang editor jurnal. Noble menyebutkan, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan teori tim ilmuwan internasional ini.

    Namun, kendati tak percaya tentang teori itu, Noble menyebut ada ruang untuk berdiskusi terkait hal ini.

    “Kimia antariksa dan biologi tumbuh bersama itu penting dan cocok untuk jurnal yang ditujukan untuk antarmuka antara fisika dan biologi, guna mendorong perdebatan,” ujar Noble.

    Di lain pihak, Ken Stedman selaku seorang ahli virologi dan profesor biologi di Portland State University juga sedikit banyak meragukan isi laporan tim ilmuwan internasional itu.

    “Usah ditanyakan lagi, biologi asal mula memang sangat menarik—tapi saya pikir ada sesuatu yang kontraproduktif [dalam laporan] ini,” tutur Stedman seperti dikutip dari Live Science, Kamis (17/05/2018).

    “Banyak klaim dalam makalah ini yang sifatnya spekulatif, dan bahkan tidak benar-benar melihat literatur,” tambahnya lagi.

    Kemudian Stedman memberikan contohnya, seperti genom gurita yang katanya telah dipetakan pada tahun 2015.

    Sementara itu memang terdapat banyak kejutan, salah satu temuan yang relevan adalah bahwa gen sistem saraf gurita terpisah dari cumi-cumi hanya sekitar 135 juta tahun lalu—jauh setelah ledakan Kambrium. Beberapa ilmuwan lain juga menyebut bahwa teori ini tak dapat dianggap serius. Hal ini dikarenakan teori mereka belum bisa terbukti secara ilmiah.