Blak-blakan! Pentolan JAD Akui Kesulitan Cari Kader Baru


SURATKABAR.ID – Beberapa pekan terakhir, sejumlah teror bom terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Mulai dari Surabaya, Sidoarjo, hingga Riau.

Namun, rentetan teror ini tak berarti bahwa perkembangan kelompok teroris di Indonesia makin pesat dan besar. Hal ini dikatakan oleh Abu Mukafi.

Pria yang bertugas sebagai perekrut dari kelompok Jemaah Anshorut Daulah (JAD) tersebut mengungkapkan bahwa kelompoknya sedang krisis generasi penerus perjuangan melawan apa yang disebut kezaliman para thogut oleh mereka.

“Kami kesulitan mencari tempat-tempat kajian. Karena statement-statement dari pemerintah untuk mengawasi tempat-tempat ibadah, orang-orang yang patut dicurigai yang menjadikan sekarang ini agak sulit mencari kader-kader baru,” tutur Abu Mukafi, Kamis (17/5/2018), dilansir cnnindonesia.com.

Baca juga: Jokowi Ingin Institusi Pendidikan Bersih dari Ideologi Terorisme

Menurut Mukafi, dalam tiap perekrutan, kader baru akan diajak mengucap sumpah setia (baiat) pada pimpinan ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi. Kemudian, mereka juga diperintahkan untuk tunduk dan menaati semua perintah pimpinan mereka.

Mukafi meyakini, meski ruang geraknya kini makin sempit, namun akan tetap ada regenerasi.

“Tidak ada kata mustahil dalam mencari pengikut. Ini janji Allah, kepada para mujahidin. Kita dalam keadaan sulit pun akan mendapat teman-teman yang menolong,” lanjutnya.

Mukafi juga mengatakan, saat ini pola serangan JAD telah berubah. Mereka tak hanya mengandalkan kaum pria, tapi juga melibatkan wanita dan anggota keluarga.

Aksi tersebut dilakukan sebagai reaksi penanganan terorisme di Indonesia. Sebab, ketika seorang pria yang telah menikah melakukan serangan bunuhdiri, maka istrinya yang akan dijerat oleh aparat. Kemudian, nasib anak-anaknya pun tak jelas.

“Ini kesimpulan saya pribadi, mereka berinisiatif daripada istri menjadi korban, sekalian saja untuk amaliyah. Sekalian dengan anak-anak,” tuturnya dengan yakin.

Mukafi menegaskan, JAD melakukan teror selama ini bukan untuk menarik perhatian pimpinan pusat ISIS, tapi sebagai pemenuhan janji sebagai pengikut.

“Memang kami tidak punya target yang muluk-muluk, tapi yang terpenting aksi yang mereka lakukan. Untuk eksistensi lokal saja. Selama ini kita seperti ditagih mana sumbangsihmu untuk perjuangan ini. Kewajiban kita yang ada di sini untuk melakukan amal-amal itu supaya Allah, membukakan pintu kemenangan,” katanya.